Archiv des Autors: Indonesien Lesen - Indonesische Autoren im Blickpunkt

Avatar von Unbekannt

Über Indonesien Lesen - Indonesische Autoren im Blickpunkt

Indonesische Autoren, ihre Übersetzer und deren Werke stehen im Mittelpunkt dieses Blogs.

Agus Sarjono: Surat Lamaran

Perkenalkan nama saya sendu
dengan satu dua keriangan.
Saya terampil menangani lara
kenangan-kenangan tersisa,
dan mengemas melankolia.

Adapun kehampaan, rasa kosong
dan sia-sia, serta yang berkaitan
dengan ratapan, dapat saya tangani
sebagai tambahan pekerjaan.
Tentu untuk ini saya perlukan
tunjangan tambahan: sepotong senja
dengan sebaris tipis warna jingga.

Saya ajukan lamaran ini sepenuh hati
dan mohon kiranya dapat diterima.
Sebagai lampiran, saya sertakan di sini
segaris luka lama: pedih dan abadi
dari cemas dukana tiada bertepi

Sumber: Agus R. Sarjono. 2016. Surat-surat Kesunyian. Jakarta: Komodo books, hal. 28

© Agus Sarjono

Agus Sarjono: Bewerbungsschreiben

Gestatten, mein Name ist Trübsinn,
mit ein paar Spritzern guter Laune.
Ich bin geschickt im Management
von Kummer, allen Sachverhalten,
die man nicht verdrängen kann,
zudem im Verwalten von Melancholie.
Das wäre mein Hauptarbeitsfeld.

Um Angelegenheiten wie innere Leere,
um den Eindruck, alles umsonst zu tun,
kümmre ich mich gerne in Überstunden.
Das Entgelt dafür wäre:
ein Schälchen Abendrot
mit einer dünnen Schicht von Purpur.

Mir ist es ernst mit dieser Bewerbung,
ich rechne mit Einstellung.
In der Anlage füge ich bei:
die Spuren einer alten Wunde,
beißend, unvergänglich,
aus namenloser Trauer rührt sie her.

Quelle: Agus Sarjono: Gestatten, mein Name ist Trübsinn. Aus dem Indonesischen von Berthold Damshäuser. regiospectra Verlag, Berlin 2015, S. 17

© Agus Sarjono, Berthold Damshäuser

Taufiq Ismail: Saksikan Begitu Banyak Orang Mempertuhankan Uang

Kita hidup di sebuah zaman, ketika uang dipuja-puja sebagai Tuhan
Dengan uang hubungan antar-manusia diukur dan ditentukan
Ketika mobil, tanah, deposito, relasi dan kepangkatan
Ketika politik, ideologi, kekuasaan disembah sebagai Tuhan
Ketika dominasi materi menggantikan Tuhan
Sehingga di negeri ini tak jelas lagi batas antara halal dan haram
Seperti membedakan warna benang putih dan benang hitam
Di hutan kelam
Jam satu malam
Ketika 17 dari 33 Gubernur jadi tersangka
52 persen banyaknya
Ketika 147 dari 473 Bupati dan Walikota jadi tersangka
36 persen jumlahnya
Ketika 27 dari 50 anggota Komisi Anggaran DPR ditahan,
62 persen jumlahnya
Saksikan begitu banyak orang yang menyembah uang dengan khusyuknya
Uang dipuja, dipertuhan, disucikan, ditinggikan sebagai berhala
Undang-undang dan peraturan dengan kaki diinjak secara leluasa

2010, 2011

Sumber: Taufiq Ismail: Debu di atas Debu. Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 294

© Taufiq Ismail

Taufiq Ismail: Werdet Zeuge, wie so viele Menschen Geld vergöttern

Wir leben in Zeiten, in denen Geld wie Gott verehrt wird
Mit Geld werden zwischenmenschliche Beziehungen gemessen und bestimmt
Autos, Grundbesitz, Erspartes, Beziehungen und sozialer Rang
Politik, Ideologie, Macht, das alles wird als Gott angebetet
Die Dominanz des Materiellen ersetzt Gott
Deshalb ist die Grenzen zwischen Erlaubtem und Unreinem nicht mehr deutlich
So als ob man einen weißen und einen schwarzen Faden unterscheiden möchte
In einem dunklen Wald
Um ein Uhr nachts
Wenn 17 von 33 Ministerpräsidenten verdächtigt werden
Sind das insgesamt 52 Prozent
Wenn 147 von 473 Landraten und Bürgermeistern verdächtigt werden
Sind das insgesamt 36 Prozent
Wenn 27 von 50 Mitglieder der Haushaltskommission festgenommen werden
Sind das insgesamt 62 Prozent
Werdet Zeuge, wie so viele Menschen voller Inbrunst Geld anbeten
Gels wird als Idol verehrt, vergöttert, geheiligt, verherrlicht
Recht und Ordnung werden ungehindert mit Füßen getreten

2010, 2011

Quelle: Taufiq Ismail: Staub auf Staub. Übersetzt von Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann; Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 294

© Taufiq Ismail, Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann

Taufiq Ismail: Yang Menetes Yang Meleleh

Demikianlah tetes air mata kananku
Karena ingat 6 anak muda petinju
Mati berlatih dan bertanding di negeriku
Tidak banyak orang mau tahu
Dan yang tahu melupa-lupakan itu

Kemudian tetes air mata kiriku
500 petinju Amerika, begitu majalah Ring memberitahu
Mati bertinju selama jangka waktu 70 tahun lalu
Setiap lima puluh hari mati satu
Menyiarkan ini mana pers mau

Meleleh ingus lubang hidung kananku terasa
Di Madison Square Garden kucecerkan di gerbangnya
Omong kosong ukuran raksasa Itulah WBC dan WBA
Mana pula olahraga, sejelas itu adu manusia
Lama nian habis-habisan kita bangsa minder ini dikecohnya

Lalu meleleh ingus lubang hidungku sebelah kiri
Kuhapus dengan koran pagi bergambar Don King ini
Si Rambut Tegak, Penipu Gergasi, Pembunuh dan Bandit Sejati
Di kakinya berlutut para petinju dan promotor satu negeri
Jutaan dolar kontrak ditilep masuk kantong jas dalam kiri sekali.

1989

Sumber: Taufiq Ismail: Debu di atas Debu. Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 259

© Taufiq Ismail

Taufiq Ismail: Es fließt, es läuft

Und so fließen Tränen aus meinem rechten Auge
Weil ich mich an 6 junge Boxer erinnere
Die beim Training und bei Wettkämpfen in meinem Land gestorben sind
Nicht viele Leute wollen davon etwas wissen
Und wer es weiß, vergisst es einfach

Dann fließen Tränen aus meinem linken Auge
500 amerikanische Boxer, so teilt das Magazin Ring mit
Sind in den ergangenen 70 Jahren beim Boxen gestorben
Alle fünfzig Tage stirbt einer
Darüber berichten will die Presse jedoch nicht

Ich fühle, wie Schnodder aus meinem linken Nasenloch läuft
Ich schnäuze ihn vor den Eingang des Madison Square Gardens
Die WBC und WBA sind ein Nonsens von gigantischem Ausmaß
Wie kann das Sport sein, tatsächlich ist es Menschenkampf
Wir, ein Land mit Minderwertigkeitsgefühl, haben uns lange austricksen lassen

Dann läuft Schnodder aus meinem rechten Nasenloch
Ich wische es mit einer Morgenzeitung ab, auf der ein Bild von Don King ist
Mister Hochstehhaare, Riesenbetrüger, Mörder und Bandit durch und durch
Zu seinen Füßen knien die Boxer und Promoter eines ganzen Landes
Millionen veruntreute Dollar landen in der linken Innentasche seines Jacketts.

1989

Quelle: Taufiq Ismail: Staub auf Staub. Übersetzt von Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann; Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 259

© Taufiq Ismail, Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann

Taufiq Ismail: Dilautan Mana Tenggelamnya

Aku berjalan mencari kejujuran
Tak tahu di mana alamatnya

Aku pergi mencari kesederhanaan
Tak tahu aku di mana sembunyinya

Aku bertanya di mana tanggung jawab
Di laut manakah tenggelamnya?

Aku berjalan mencari ketekunan
Di rimba manakah dia menghilangnya?

Aku berjalan mencari keikhlasan
Rasanya sih ada, tapi di mana, ya?

Aku berjalan mencari kedamaian
Di langit manakah dia melayangnya?

Wahai kejujuran dan kesederhanaan
Wahai tanggung jawab dan ketekunan

Wahai keikhlasan dan kedamaian
Di mana gerangan kini kalian

Zaman ini sangat merindukan kalian
Zaman ini sangat merindukan kalian.

2010

Sumber: Taufiq Ismail: Debu di atas Debu. Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 300

© Taufiq Ismail

Taufiq Ismail: In welchem Ozean ist es versunken

Ich bin unterwegs auf der Suche nach Ehrlichkeit
Keine Ahnung, wie ihre Adresse lautet

Ich gehe los, um Schlichtheit zu suchen
Ich weiß nicht, wo sie sich versteckt

Ich frage mich, wo die Verantwortung ist
In welchem Meer ist sie versunken?

Ich bin unterwegs auf der Suche nach Geduld
In welchem Dschungel ist sie verschwunden?

Ich bin unterwegs auf der Suche nach Aufrichtigkeit
Sie scheint da zu sein, aber wo nur?

Ich bin unterwegs auf der Suche nach Frieden
In welchem Himmel fliegt er?

Ach Ehrlichkeit und Schlichtheit
Ach Verantwortung und Geduld

Ach Aufrichtigkeit und Frieden
Wo seid ihr jetzt nur geblieben?

Die heutige Zeit vermisst euch sehr
Die heutige Zeit vermisst euch sehr.

2010

Quelle: Taufiq Ismail: Staub auf Staub. Übersetzt von Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann; Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 300

© Taufiq Ismail, Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann

Faisal Oddang: Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon?

Aku tumbuh menjadi pohon. Orang-orang di kampung kami akan tetap percaya bahkan jika harus didebat hingga mulut berbusa. Mereka mulai memercayainya sejak tahun 1947. Kini, pohon asam itu sudah besar dan semakin tua. Kira-kira dapat diukur dengan lima orang dewasa melingkarkan lengan untuk mampu memeluk batangnya. Hampir setiap hari orang merubut di sana mengucapkan doa yang rupa-rupa jenisnya lantas mengikatkan kain rupa-rupa warnanya dan berjanji membuka ikatan itu setelah doa mereka terkabul. Jadi jangan heran ketika di ranting, dahan, batang, atau tidak berlebihan jika kukatakan hampir semua bagian pohon penuh ikatan kain. Ada banyak doa di sana. Demi menjaga tubuhku, ada pagar beton sedada manusia, berwarna hijau lumut, mengelilingi batang pohon. Para pedoalah yang membangunnya.

Ketika perang kembali pecah, awal 1947, yang orang-orang temukan tentu saja bukan pohon asam, tetapi kira-kira seperti ini: kami bergerombol digiring seperti kerbau. Kaki tangan kami dikekangi tali dari pilinan daun pandan. Bedil Belanda menuntun dengan moncongnya–dan sesekali mempercepat langkah kami dengan popor yang mendarat di tengkuk atau tulang kering. Kami tahu, beberapa saat lagi hidup kami akan direnggut satu demi satu.

***

Desember 1946 baru saja dimulai ketika sebuah kabar tiba di langgar tempatku setiap hari mengajari anak-anak mengaji. Aku memberi isyarat kepada Rahing; jangan sampai anak-anak dengar, kataku memelankan suara sambil berdiri menuju belakang langgar yang kemudian disusulnya. Anak-anak kuminta melanjutkan bacaannya, nanti Bapak kembali, janjiku kepada mereka. 

„Mereka tiba di Makassar,“ suara Rahing tidak pernah secemas itu, „pasukan tambahan, tambahannya banyak,“ susulnya gemetar.  „Siap-siap saja,“ kucoba setenang mungkin meski dadaku tentu saja kembali bergolak. Dari Makassar baru saja kudengar kabar kalau mereka kembali ingin menguasai pusat-pusat perlawanan di Sulawesi-Selatan, kabar itu tiba beberapa minggu sebelum Rahing menyusulkan kabar tentang ketibaan pasukan khusus Depot Speciale Troepen—DST, KNIL, yang mulai bergerak ke kampung kami ini; di Bacukikki, jantung Afdeling Parepare.  Bersama Rahing, bersama Laskar Andi Makassau lainnya, aku pernah berjuang sebelum kemerdekaan–dan ketika semuanya telah kami rebut, penjajah laknatullah itu kembali. Sebelum pulang, Rahing sempat menanyakan bagaimana langgar, bagaimana anak-anak, dan sedikit mengeluh bahwa ia telah capek mengawal penduduk keluar masuk hutan. Aku menepuk pundaknya sebelum mengatakan: Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja.  „Saya pamit, assalamualaikum, Ustad.“  Aku menjawab salam Rahing lantas memenuhi janji pada anak-anak. Sayup-sayup kudengar mereka mengeja hijaiah dengan bahasa Bugis yang membuat bola mataku terasa hangat; yase’na lefue nakkeda a, yase’na lefue mallefa nakkeda aaa…. Aku mengenang bocah lima tahunku yang gugur lebih awal–dan air mata tidak lagi bisa kucegah  membuat lurik di pipiku. 

*** 

Setelah kabar dari Rahing–susul menyusul kabar tiba dari anggota laskar yang satu ke anggota laskar yang lainnya. Seperti suara desingan peluru beberapa tahun lalu, kabar duka dari Makassar tak henti-hentinya mendera. Kabar pertama tiba dari Borong dan Batua, keduanya diduga tempat berlindung pemberontak–dan berbagai macam alasan tak masuk akal lainnya. Setelah itu, disusul daerah-daerah lainnya, di Gowa dan Takalar, dan tentu kabar buruk itu tiba tanpa pernah luput mengikutkan jumlah korban jiwa. Sebentar lagi mereka menuju ke sini, begitu laporan salah satu anggota laskar pada suatu malam, di langgar, ketika tidak ada lagi aktivitas mengaji sejak pemerintah Belanda mengeluarkan surat edaran dan pernyataan darurat perang. „Anak-anak, Bapak akan memanggil kalian lagi kalau waktu mengaji sudah tiba. Sekarang libur jadi kalian belajar di rumah saja dulu, ya…“  Aku mengkhawatirkan mereka dan kecemasanku semakin menjadi-jadi dari hari ke hari. Seperti pelaut yang tak pernah berhenti mencemasi angin limbubu. Rapat kami gelar hampir setiap malam, menjelang Isya bahkan tak berujung hingga Subuh tiba, rapat bukan sekadar rapat sebenarnya; kami berjaga. Sebagai pimpinan Laskar Bacukikki yang berada di bawah Laskar Andi Makassau sebagai pusat perjuangan rakyat Parepare, akulah yang menyiapkan tempat, dan selalu akulah yang memimpin rapat. Itu menjadi alasanku meminta anak-anak mengaji di rumah mereka, selain karena tidak ingin membahayakannya.  „Kita harus sadar diri, Ustad.“  Hening yang lama, bahkan aku berhasil mendengar desah napasku sendiri. Masih hening, tidak ada yang menimpali apa yang Rahing maksudkan dengan sadar diri, tetapi kemudian ia menjelaskan meski tak seorang pun yang meminta penjelasannya.  „Kita kalah jumlah, kalah senjata, kalah pokoknya…“  Jelas sekali, Rahing tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Ia baru saja menikah, aku tahu karena aku yang menjadi penghulunya, aku juga tahu ia bukan mencemaskan dirinya sendiri. Ada istri–dan barangkali ada janin yang tengah ia khawatirkan. Hal itulah yang membuatku hanya bisa diam dan sesekali mengangguk seperti tekukur mengantuk. Bayangan perjuangan sebelum kemerdekaan, bayangan Fatimah istriku, bocah lima tahunku Akbar, dan ingatan-ingatan lainnya kembali menghangatkan bola mataku. Teriakan tolong Akbar, teriakan Allahu Akbar Fatimah, dan teriakan keduanya setelah granat  menghancurkan rumah panggung kami malam itu. Aku dituduh melatih anak-anak menjadi pemberontak hanya karena mengajari mereka mengaji–dan setelah kehilangan segalanya, aku benar-benar memutuskan memberontak, memimpin laskar dan berhasil meraih kemerdekaan. Ketika merasa semuanya telah selesai, aku mengumpulkan kembali anak-anak,  mereka kembali mengeja alif-ba-ta, dengan terbata–dan lagi-lagi, kini harus berhenti. 

*** 

Pertengahan Januari, sebulan setelah kabar dari Rahing, mereka menuju kampung kami. Waktu itu musim hujan baru saja tiba–tetapi tak ada yang berani menggarap sawah. Semua takut meski beberapa yang lain memberanikan diri, termasuk aku. Matahari tidak akan tenggelam selain di ujung langit, begitu pula hidup takkan berakhir selain oleh ajal. Aku meyakinkan diri berkali-kali, menatap biasanku di cermin, mencari-cari kalau sampai ada anggota tubuh yang hilang dalam biasan. Semuanya lengkap, dan begitulah orang Bugis menyakinkan diri sebelum berperang. Janggutku lebat, uban mulai tumbuh di sana, di rambutku juga, meski memang seharusnya lelaki lima puluhan  wajar jika beruban. Mataku sangat sayu dan tulang pipiku semakin menonjol, biasan juga menampakkan luka besar di pelipisku, bekas serpihan granat malam itu.  Ya Hayyu, Ya Qayyum–wahai yang maha hidup, wahai yang maha berdiri sendiri, aku mengucapkannya di dalam hati, berkali-kali, sampai aku merasa benar-benar siap. Meski berkali-kali pula terhenti karena batukku yang semakin parah juga rutin mengeluarkan dahak darah. Diriwayatkan, Rasulullah mengucapkannya berkali-kali saat Perang Badar, saat tak tidur semalaman menunggu orang-orang Quraisy.   Pintu digedor keras oleh seseorang yang tampak buru-buru. Benar saja, ketika kubuka, kutemukan Rahing tampak pucat sebelum terbata-bata mengatakan bahwa Si Jagal Dari Turki sudah di perbatasan dan berusaha ditahan oleh laskar, ia kemudian melanjutkannya dengan; saya harus amankan istri saya dulu, Ustad, maaf. Detik pertama setelah kalimatnya selesai, amarahku hampir memuncak. Egois sekali! Namun, sebuah kenangan memaksaku takluk, aku tidak ingin menyampirkan luka yang sama di pundak Rahing.  „Begitu selesai, gabunglah segera,“ timpalku hampir berteriak menyusul langkahnya yang tergesa-gesa.  Aku menuju perbatasan bersama lebih kurang dua puluh anggota Laskar Bacukikki lainnya di tengah deras hujan yang belum berhenti dari kemarin sore. Namun, seperti ajal yang tak mampu kami tebak tibanya, keadaan berubah, pertahanan di perbatasan kalah, kami terdesak masuk bersembunyi di rumah-rumah penduduk. Hal itulah yang kusesali. Penduduk yang menampung kami waktu itu juga digiring seperti kerbau ke tengah lapangan ketika sore hampir selesai. Tidak peduli perempuan dan anak-anak, tidak peduli tua dan muda.  Kami berbaris di lapangan dengan lutut menumpu di tanah dan tangan kami dikekang ke belakang. Ratusan orang diam tanpa mampu mengelak apalagi melawan, dadaku seperti pendiangan menyadari semua itu. Seseorang yang tampak sebagai pemimpin DST menuju kerumunan. Ia memerhatikan wajah kami satu per satu dalam remang, siapakah yang tengah ia cari? Aku bertanya-tanya di dalam hati. Tatapannya dingin, ia tidak seperti yang lain; yang menyeringai penuh ejekan kepada kami. Wajahnya hampir tanpa ekspresi. Mungkin.., mungkin, dia yang Rahing sebut sebagai Si Jagal Dari Turki itu? Westerling yang dilaknat Allah? Dadaku semakin panas, namun aku kini seperti burung patah sayap patah paruh. Ia masih menyelidiki wajah kami satu per satu dengan diam. Tangannya memegang Browning P-35 yang sesekali ia gunakan ujungnya untuk mengangkat dagu jika ada dari kami yang menunduk. Tiba-tiba pistolitu meletus, suaranya memekakkan telingaku dan bau mesiu sontak menguar disusul tubuh perempuan rubuh di depanku.  Dia istri pemberontak! Hanya itu yang kutangkap dari bahasa Indonesianya yang kacau-balau lagi pelan. Suasana mulai ricuh, beberapa orang berusaha melarikan diri sebelum tubuh mereka jatuh menimpa tanah dengan darah yang bercampur air hujan. Puluhan nyawa dicampakkan seketika, kurang dari lima menit. Ketika pasukan-pasukan DST itu kembali dapat menenangkan situasi, interogasi berlanjut dan bedil mereka  mengantar tubuh-tubuh tak berdosa satu per satu menuju maut. Malam semakin larut ketika hujan bertambah deras, juga petir yang beberapa kali menyambar disertai badai. Hal itu membuat beberapa DST kerepotan, dan tentu saja keadaan kembali ricuh. Di dalam gelap itulah, mereka menembaki kami tanpa iba. Teriakan dan erangan berganti saling sahut, aroma anyir darah menguar bersama mesiu. Besoknya, hujan reda dan ratusan mayat bergelimpangan di tengah lapangan, kecuali tubuhku yang hilang karena aku  suci bagi orang di Bacukikki. 

*** 

„Beginilah Ustad Syamsuri semasa hidupnya. Seperti pohon asam. Buahnya jadi bumbu masak, daunnya jadi sayur, rantingnya jadi kayu bakar dan batangnya bisa jadi papan atau tiang rumah.“  Air mata Rahing jatuh menyampaikan itu semua kepada warga yang merubut di tengah lapangan, menyaksikan pohon asam yang mulai tumbuh di sana beberapa bulan setelah DST angkat kaki dari Parepare.  „Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya,“ lanjut Rahing terisak, „arwah Ustad Syamsuri di lapangan ini tumbuh jadi pohon asam, pohon yang penuh manfaat. Tubuhnya naik ke langit. Menyesal aku tak syahid bersamanya. Mari berdoa untuk beliau. Alfatiha!“  Sejak hari itu orang-orang berdatangan dan semakin rajin berdoa di sana, hingga sekarang–puluhan tahun kemudian. Padahal, malam itu aku berhasil melarikan diri ke Onderafdeling Wajo dan meninggal di sana karena tuberkulosis yang tidak mampu lagi kulawan. Aku meninggal beberapa saat setelah Jenderal Simon Spoor sebagai pimpinan agresi militer Belanda menghentikan darurat perang di Sulawesi Selatan  pada bulan kedua tahun 1947.

Makassar, 2015 

* Untuk ‚Korban 40.000 Jiwa‘ dan keluarga mereka tercinta.

© Faisal Oddang

Taufiq Ismail: Silhouetten

Der Nieselregen hat Tränen vergossen
Auf die müde Erde
Wind weht durch lange Straßen
Da ist kein Haus. Wir haben kein Haus
Wir sind nichts weiter als Schatten

Der Nieselregen hat Tränen vergossen
Auf die ausgelaugte Erde
Auf drangsalierte Körper
Wir haben Hunger. Wir haben sehr großen Hunger
Hungrige Schatten

Der Nieselregen hat Tränen vergossen
Auf die einsame Erde
Nach ungestümen Parade
Wind weht durch lange Straßen
So eindringlich
So durchdringend
Schatten in Millionen
Millionen von Schatten

Im Schatten eines Pfeilers
Im Schatten des Goldes
Millionen von Schatten
Beweinen den Nieselregen
Beweinen den Vulkan
Violetter Nebel
Streichelt langsam
Die Wälder
Im Süden

Juli, 1965

Quelle: Taufiq Ismail: Staub auf Staub. Übersetzt von Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann; Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 36

© Taufiq Ismail, Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann