Archiv der Kategorie: Indonesisch

Okky Madasari: Gebunden. Stimmen der Trommel

„Gebunden. Stimmen der Trommel“ ist die Übersetzung von Okky Madasaris viertem Roman Pasung Jiwa. Der Roman erschien in Indonesien 2013, und wurde ins Englische, Arabische und von Gudrun Ingratubun ins Deutsche übersetzt, wo er im Jahr 2015 im sujet Verlag erschien. Noch während seines Erscheinungsjahrs 2013 wurde Pasung Jiwa in Indonesien für den Khatulistiwa Literaturpreis nominiert.

Der Roman erzählt die Geschichte zweier Freunde, die in den späten 1990er Jahren während der zu Ende gehenden Regierungszeit des Diktators Suharto ihr Studium abbrechen und eine Straßenband gründen. Sie engagieren sich politisch und werden bei einer Razzia verhaftet.

Schwer traumatisiert durch das, was ihnen im Gefängnis angetan wurde, gehen beide nach ihrer Entlassung aus dem Gefängnis getrennte Wege. Während der transsexuelle Sasana als Sängerin Sasa auf lokalen Bühnen auftritt, muss Jaka sich als Fabrikarbeiter verdingen. Im Zuge der Finanzkrise und dem damit einhergehenden Ende der Regierungszeit des Diktators Suharto Ende der 1990er Jahre wird Jaka jedoch arbeitslos und findet im islamischen Extremismus einen Halt. Bei einem Konzert von Sasa begegnen sich die beiden wieder.

Okky Madasari engagiert sich in diesem Buch gegen Extremismus und Diskriminierung und zeigt, dass in Indonesien auch nach Einführung der Demokratie Bewegungen erstarkt sind, die gesellschaftliche Freiheit und Toleranz akut bedrohen.

Okky Madasari: Gebunden. Stimmen der Trommel. sujet Verlag, 2. Auflage 2017
(ISBN: 978–3-944201–83-2)


Okky Madasari: Kutipan dari „Pasung Jiwa“

18. September 2003

Seluruh hidupku adalah perangkap.

Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengungkungku, tembok-tembok tinggi yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku.

Sekarang aku di sini. Dalam perangkap yang terlihat mata. Diimpit tembok-tembok tinggi yang sebenarnya. Terkurung, tertawan, terpenjara. Entah berapa lama.

Mungkin aku akan tabah menjalaninya. Menunggu hingga hari pembebasanku tiba—walaupun bukan hari pembebasan yang sebenarnya. Karena saat hari itu tiba, aku akan kembali masuk ke perangkap-perangkap lainnya.Atau mungkin aku akan mengakhiri semuanya, lari sejauh- jauhnya. Lari meninggalkan tubuhku, meninggalkan tembok- tembok yang mengungkungku, meninggalkan hidupku.

Aku masih belum tahu. Jika besok pagi aku masih melanjutkan cerita ini, itu berarti aku masih ada di sini. Memilih terperangkap dalam hidupku sendiri, memilih terkurung dan tertawan. Memilih untuk tak mendapatkan kebebasan, karena sesungguhnya aku terlalu takut untuk mendapat kebebasan itu. Sebab aku terbiasa tertawan, sebab aku terbiasa meratap dalam kungkungan.

Tapi jika ceritaku tak berlanjut esok pagi, ikutlah berbahagia! Aku telah bebas. Sebab aku tak lagi takut. Sebab aku tak lagi menyerah dan berserah karena takut. Bukankah itu kebebasan yang sesungguhnya?

Sasana

Perangkap Tubuh

Suara pertama yang kukenal adalah denting piano. Bukan suara ibuku, bukan pula suara ayahku. Pertama kali aku mendengar suara itu saat masih berada di rahim ibuku. Tak hanya mendengar, aku bisa mengenali dan membedakannya. Aku bisa merasakan nada yang mengentak, yang membuatku selalu terbangun dan bergerak-gerak. Aku terbuai oleh nada- nada lembut, yang membuatku terlelap, tidur dengan tenang.

Tak ada suara lain yang benar-benar kudengar seperti itu. Aku bahkan tak pernah benar-benar mendengar apa yang dibisikkan ibuku, juga yang diteriakkan ayahku. Aku baru benar-benar mengenali suara orangtuaku saat aku lahir ke dunia. Tapi saat itu pula, aku bisa mendengar terlalu banyak suara. Berisik, tumpang-tindih, acak-acakan. Hingga tak ada lagi yang bisa benar-benar kudengarkan. Tidak suara ibuku, tidak suara ayahku, tidak pula denting piano.

Saat itu aku sudah menyesal kenapa aku harus dilahirkan. Dunia bukan untukku. Dunia tak membutuhkanku. Aku tak menyukai semuanya. Aku seperti berada di tempat yang salah. Dan selalu salah.

Jika bunyi piano adalah suara yang pertama kali kukenali saat berada dalam rahim ibuku, piano pula benda pertama yang dikenalkan Ayah dan Ibu setelah aku lahir. Mereka suka sekali mendudukkan aku di depan piano, menuntun tanganku untuk memencet-mencet tiap tutsnya. Aku tak menyukainya. Tapi orangtuaku sebaliknya. Mereka selalu tertawa dan terlihat bahagia setiap aku bisa memencet dan membunyikannya. Aku melakukannya setiap hari, jangan-jangan juga sepanjang hari. Tak ada lagi yang bisa kuingat dari masa kecilku selain piano itu.

Ketika aku sudah bukan lagi bayi dan memasuki masa kanak-kanak, orangtuaku mendatangkan seorang guru piano untuk mengajariku. Guru itu datang seminggu dua kali pada sore hari. Pada hari-hari guru itu datang, aku selalu dimandi- kan lebih awal. Lalu pengasuhku membawaku ke ruang tengah, tempat piano keluargaku berada. Hanya satu jam guru itu mengajariku. Tapi rasanya sangat lama. Aku tak menyukainya. Bunyi piano tak lagi indah menyapa telingaku. Ia kini telah menjelma jadi bunyi-bunyian yang mengganggu, yang membuatku selalu merasa dikejar-kejar atau terkurung dalam ruangan. Apa yang harus kulakukan? Tak ada. Aku laki-laki kecil tak berdaya, yang hanya bisa melakukan setiap hal yang orangtuaku tunjukkan. Aku terus memainkan piano itu.

Sudah tujuh guru yang mengajariku. Setiap guru berhenti dengan beragam alasan. Ada yang hendak menikah, ada yang hamil dan punya anak, ada yang pindah kota, ada yang punya pekerjaan baru, juga ada yang berhenti karena bosan. Bosan. Senang sekali mendengar seseorang bisa berhenti melakukan sesuatu karena bosan. Tapi sayangnya tidak denganku. Aku bosan, tapi tak berhenti melakukan. Aku tak suka, tapi harus selalu bisa.

Saat masuk sekolah dasar, aku sudah mahir memainkan komposisi-komposisi klasik dunia. Beethoven, Chopin, Mozart, Bach, Brahms… Sebutkan saja! Aku bisa memainkan semuanya dengan indah. Aku bermain dengan menggunakan akalku, bukan dengan perasaanku. Memainkan piano hanya soal menggunakan alat, pikirku saat itu. Kalau sekadar mengikuti apa yang diajarkan guru, aku dengan mudah melakukannya. Meski sebenarnya aku tak suka dan selalu tersiksa. Seperti ada yang selalu salah dalam diriku dan semua yang ada di sekelilingku. Seperti yang tadi aku katakan, aku selalu merasa seperti berada di tempat yang salah.

Tepuk tangan dan kata-kata pujian tak pernah membuatku merasa telah melakukan sesuatu yang benar. Pada usia yang sangat muda, baru naik kelas 4 SD, aku sudah puluhan kali memainkan piano di depan banyak orang. Di sekolah sampai di pusat-pusat perbelanjaan. Untuk hanya sekadar latihan hingga untuk lomba. Piala-pialaku berjajar, foto-fotoku dipamerkan. Di sekolah, aku selalu termasuk sepuluh murid yang paling pintar. Aku adalah kebanggaan, aku pujaan semua orang.

Saat aku kelas 4 SD itu, adikku lahir. Bayi perempuan yang cantik. Pipinya montok dan halus. Badannya mungil, matanya lebar. Aku mengaguminya. Aku mencintainya lebih dari apa pun. Aku senang berada di dekatnya. Aku senang memperhatikannya, melihat tingkahnya, mengamati senyum- nya. Aku memperhatikan setiap pakaian yang dikenakannya. Baju-baju warna merah jambu, sepatu-sepatu lucu. Kini ada sesuatu yang bisa kuingat selain piano dan nada-nada itu: Melati. Nama yang indah, bukan?

Melati. Aku suka mengucapkannya berulang kali. Berbeda sekali dengan namaku: Sasana. Sama sekali tak indah. Terlalu garang, terlalu keras. Selalu mengingatkanku pada perkelahian dan darah. Seperti tempat orang bertinju. Tapi ibuku selalu meyakinkan bukan itu arti namaku. Sasana bagi dia adalah kejantanan, keberanian, keperkasaan.

Melati dibesarkan dengan cara yang tak berbeda denganku. Tapi sepertinya hidupnya lebih menyenangkan. Dia selalu tersenyum dan tertawa. Dari hari ke hari, semakin terlihat kecantikan di wajahnya. Sama sepertiku, piano adalah benda yang pertama kali dikenalkan padanya.

Piano memang benda istimewa di rumah ini. Bagi ayah dan ibuku, memainkan piano adalah bagian tradisi yang harus dijunjung tinggi. Aku sendiri heran kenapa mereka sampai bersikap seperti itu. Ayah dan ibuku bukan pemain musik. Mereka memang bisa memainkan piano. Tapi permainan mereka hanya sekadarnya, jauh berbeda dengan kemampuanku saat kelas 4 SD. Pekerjaan mereka sehari-hari juga jauh dari musik. Ayahku ahli hukum, ibuku dokter bedah. Mereka bertemu saat masih kuliah. Sama-sama mencintai musik klasik, sama-sama suka berdiskusi tentang hal-hal berat, dari politik hingga filsafat. Setelah menikah dan punya rumah, benda pertama yang mereka beli adalah piano yang sekarang kami miliki. Sebuah barang mewah untuk pasangan muda yang tak lagi mengandalkan siapa-siapa. Piano itu dibeli dengan dicicil dua puluh kali. Mereka percaya, benda ini akan sangat berguna. Tak hanya untuk kebahagiaan mereka berdua, tapi juga demi masa depan anak-anak mereka. Mereka yakin, musik yang dimainkan dengan piano itu akan memberikan kecerdasan pada anak-anak mereka. Itu keyakinan yang mereka dapat dari buku-buku yang mereka baca. Aku dan Melati menjadi perwujudan keyakinan itu. Dan aku telah memberikan buktinya. Anak laki-laki yang baik, penurut, penuh kasih sayang, dan cerdas. Lebih dari itu, aku pandai bermain piano. Hal yang menjadi obsesi mereka berdua. Akulah anak ke- sayangan dan kebanggaan. Anak pertama, laki-laki satu-satunya. Hingga kemudian aku mulai berulah.

Aku tak ingat bagaimana awalnya. Saat itu sedang masa libur sekolah. Aku baru lulus SD, bersiap masuk SMP. Ma- lam itu aku sudah berada di kampung di belakang kompleks rumahku, berdiri di antara puluhan laki-laki dan perempuan, menonton sebuah pertunjukan. Seorang perempuan berbaju gemerlap berdiri di panggung. Ia baru selesai menyanyikan satu lagu. Menyapa penonton dengan akrab dan genit, yang langsung disambut sorakan dan tepuk tangan penonton. Beberapa orang mulai berteriak, ”Lagi… lagi…!” Teriakan semakin keras, penonton sudah tak sabar. Si penyanyi tersenyum senang, merasa ia begitu diinginkan. Gendang ditabuh, gitar dipetik, musik mulai dimainkan. Musik yang tak pernah kudengar sebelumnya. Yang sangat berbeda dengan komposisi- komposisi yang kumainkan, juga lagu-lagu yang aku dengar- kan. Lalu penyanyi itu mulai menyanyikan lagu yang juga belum pernah aku tahu. Tapi entah kenapa lagu itu seperti tak asing buatku. Lagu itu langsung akrab di telingaku, bahkan liriknya dengan mudah kuhafalkan.

Kini aku ikut bersenandung di antara penonton yang semuanya bernyanyi, mengikuti suara si penyanyi.

Pernah aku melihat musik di Taman Ria Iramanya melayu duhai
sedap sekali Iramanya melayu duhai sedap sekali

Sulingnya suling bambu, gendangnya kulit lembu Dangdut suara
gendang rasa ingin berdendang Dangdut suara gendang rasa ingin
berdendang

Terajana… terajana Itu lagunya lagu India Hai
merdunya… hai merdunya Merdu suara oh penyanyinya
Serasi dengan indah gayanya

Karna asyiknya aku hingga tak kusadari Pinggul bergoyang-goyang
rasa ingin berdendang Pinggul bergoyang-goyang rasa ingin
berdendang

Perempuan itu menyanyi sambil menggoyangkan badannya. Goyangan yang tak pernah kusaksikan. Suara gitar, gendang, seruling… semua berpadu indah dan bergairah. Orang-orang di sekelilingku juga ikut bergoyang. Kepala mereka menunduk, miring, menengadah, sambil mulut tetap terus menyanyi.

Perlahan tubuhku mulai bergerak. Tanpa aku sadari aku ikut bergoyang. Awalnya hanya goyangan kecil, lalu tanganku mulai bergerak, lalu tubuhku meliuk ke kanan dan ke kiri, lalu seluruh tubuhku. Aku menirukan goyangan orang-orang di sekitarku, mengikuti suara-suara yang mereka keluarkan seperti ”Uoooooo”, ”Ahoooo”, atau ”Ah… ah… ah…” Aku terus bergoyang. Aku terbius. Aku melayang. Persis seperti yang dikatakan dalam lagu itu:

Karna asyiknya aku hingga tak kusadari
Pinggul bergoyang-goyang rasa ingin berdendang
Pinggul bergoyang-goyang rasa ingin berdendang

Sesekali aku memejamkan mata dan merasakan nikmat yang berbeda. Saat mataku terpejam, tiba-tiba tanganku ditarik orang. Tarikan yang sangat kasar. Aku tergelagap. Baru kemudian aku sadari siapa yang menarik tanganku: ibuku. Tak ada kata-kata yang Ibu ucapkan. Aku ditarik membelah kerumunan orang, dibawa masuk ke mobil. Ibu menjemputku dengan mobil, meski sebenarnya tempat ini tak terlalu jauh dari rumahku. Karena itu aku bisa datang ke sini sendiri dengan jalan kaki, walaupun baru pertama kali.

Ya, ini baru pertama kali. Banyak sekali hal pertama yang kudapatkan malam ini. Malam ini adalah malam terindah dalam 12 tahun usiaku. Aku tak akan melupakan dan menyesalinya. Meski aku harus menanggung akibatnya.

Sumber: Okky Madasari: Pasung Jiwa. Apa Itu Kebebasan? Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
(ISBN: 2015 978-602-03-2220-9 )

Iksaka Banu: Selamat Tinggal Hindia

Chevrolet tua yang kutumpangi semakin melambat, sebelum akhirnya berhenti di muka barikade bambu yang dipasang melintang di ujung jalan Noordwijk. Sebentar kemudian, seperti sebuah mimpi buruk, dari sebelah kiri bangunan muncul beberapa orang pria berambut panjang dengan ikat kepala merah putih dan aneka seragam lusuh, menodongkan senapan.

“Laskar,” gumam Dullah, supirku.

“Pastikan mereka melihat tanda pengenal wartawan itu,” bisikku.

Dullah menunjuk kertas di kaca depan mobil. Salah seorang penghadang melongok melalui jendela.

“Ke mana?” tanya orang itu. Ia berpeci hitam. Kumisnya lebat, membelah wajah. Sepasang matanya menebar ancaman.

“Merdeka, Pak! Ke Gunung Sahari. Ini wartawan. Orang baik,” Dullah, dengan raut muka dibuat setenang mungkin, mengarahkan ibu jarinya kepadaku.

“Turun dulu baru bicara, sontoloyo!” bentak si kumis sambil memukul bagian depan mobil. “Suruh Londo itu turun juga!” sambungnya.

Tergesa, Dullah dan aku menuruti perintahnya. Dibantu beberapa rekannya, si kumis menggeledah seluruh tubuh kami. Sebungkus rokok Davros yang baru kunikmati sebatang segera berpindah ke saku bajunya. Demikian pula beberapa lembar uang militer Jepang di dalam dompet. Seorang laskar lain masuk ke dalam mobil, memeriksa laci, lalu duduk di kursi sopir. Memutar-mutar roda kemudi seperti seorang anak kecil.

“Martinus Witkerk. De Telegraaf,” si kumis membaca surat tugas, lantas menoleh kepadaku. “Belanda?”

“Tidak bisa bahasa Melayu, asli dari sana,” sergah Dullah. Tentu saja ia berdusta.

“Aku tanya dia, bukan kamu. Sompret!” si komandan menampar pipi Dullah. “Teman-temanmu mati kena peluru, kamu ikut penjajah. Sana, minggat!” ia mengembalikan dompetku sambil menikmati rokok rampasannya.

“Terima kasih, Dullah,” kataku beberapa saat setelah kendaraan kembali melaju. “Kamu baik-baik saja?”

“Tak apa, Tuan. Begitulah sebagian dari mereka. Mengaku pejuang, tapi masuk-keluar rumah penduduk, minta makanan atau uang. Sering juga mengganggu perempuan,” sahut Dullah. “Untung saya yang mengemudi.  Bila Tuan Schurck yang pegang, saya rasa tuan berdua tidak akan selamat. Mereka suka menghabisi orang Eropa yang mudah marah seperti Tuan Schurck. Tidak peduli wartawan.”

“Jan Schurck memang pandai membahayakan diri,” aku tersenyum. “Itu sebabnya majalah Life memberinya gaji tinggi.”

“Tuan yakin alamat si nona ini?”

“Ya, seberang Topografisch Bureau. Tidak mau pergi dari situ. Si kepala batu.”

Kepala batu. Maria Geertruida Welwillend.

Geertje! Ya, itu nama sebutannya.

Aku bertemu wanita itu di kamp internir Struiswijk, tak lama setelah pengumuman resmi takluknya Jepang kepada Sekutu.

Waktu itu di hotel Des Indes, yang sudah kembali ditangani oleh manajemen Belanda, aku dan beberapa rekan wartawan tengah membahas dampak sosial di Hindia seiring kekalahan Jepang.

“Proklamasi kemerdekaan serta lumpuhnya otoritas setempat membuat para pemuda pribumi kehilangan batas logika antara ‘berjuang’ dan ‘bertindak jahat’. Rasa benci turun-temurun terhadap orang kulit putih serta mereka yang dianggap kolaborator tiba-tiba seperti menemukan pelampiasannya di jalan-jalan lengang, di permukiman orang Eropa yang berbatasan langsung dengan kampung pribumi,” Jan Schurck melemparkan seonggok foto ke atas meja.

God Almachtig. Mayat-mayat ini seperti daging giling,” Hermanus Schrijven dari Utrechts Nieuwsblad membuat tanda salib setelah mengamati foto-foto itu. “Kabarnya, para jagal ini adalah jawara atau perampok yang direkrut menjadi tentara. Sebagian rampasan dibagikan kepada penduduk. Tapi kerap pula diambil sendiri.”

“Bandit patriot,” Jan mengangkat bahu. “Terjadi pula semasa Revolusi Prancis, Revoulsi Bolshevik, dan di antara para partisan Yugoslavia hari ini.”

“Anak-anak haram revolusi,” aku menimpali.

“Aku benci perang,” Hermanus membuang puntung rokoknya

“Warga Eropa tidak menyadari bahaya itu,” kataku. “Setelah lama menderita di kamp, tak ada lagi yang mereka inginkan kecuali selekasnya pulang. Mereka tak tahu, Si Jongos dan Si Kacung telah berubah menjadi pejuang.” 

“Kurasa banyak yang tidak mendengar maklumat dari Lord Mounbatten agar tetap tinggal di kamp sampai pasukan Sekutu datang,” Eddy Taylor, dari The Manchester Guardian, angkat bicara.

“Ya. Dan para komandan Jepang, yang sudah tidak memiliki semangat hidup sejak kekalahan mereka, cenderung membiarkan tawanannya minggat. Ini mengkhawatirkan,” Jan menyulut rokok, entah yang ke berapa.

“Bisa lebih buruk. Tanggal 15 September kemarin, pasukan Inggris tiba di Teluk Batavia,” aku menujuk peta di meja. “Sebuah cruiser Belanda yang menyertai pendaratan itu konon telah memicu keresahan kalangan militan di sini. Bagi mereka, hal itu seperti menguatkan dugaan bahwa Belanda akan kembali masuk Hindia.”

Well, ini di antara kita saja. Menurut kalian, apakah Belanda berniat kembali?” Eddy Taylor menatap Jan dan aku, ganti-berganti.

Mendadak pembicaraan terpotong teriakan Andrew Waller, wartawan Sydney Morning Herald, yang setia memantau perkembangan situasi melalui radio: “Menarik! Ini menarik! Para mantan tentara KNIL dan tentara Inggris pagi ini memindahkan para penghuni kamp Cideng dan Struiswijk.” 

Tanpa membuang waktu, kami semua berangkat pergi. Aku dan Jan memilih mengunjungi Kamp Tawanan Struiswijk.

Mayor Adachi, komandan Jepang yang kami temui, menyambut gembira upaya pemindahan massal ini.

“Patroli kami kerap menjumpai mayat orang Eropa yang melarikan diri dari kamp. Tercincang dalam karung  di tepi jalan,” katanya.

Aku mengangguk sembari mencatat. Tetapi sesungguhnya mataku terpaku pada Geertje yang berjalan santai menenteng koper. Bukan menuju rombongan truk, melainkan ke jalan Drukkerijweg, bersiap memilih becak.

“Hei, Martin!” teriak Jan Schruck. “Gadis itu melirikmu sejak tadi. Jangan tolak keberuntunganmu. Kejar!”

Aku memang mengejarnya, tetapi segera menerima kejutan besar.

“Aku tidak ikut,” Geertje menatapku tajam. “Truk-truk ini menuju Bandung. Ke tempat penampungan di Kapel Ursulin. Sebagian lagi ke Tanjung Priok. Aku harus pulang ke Gunung Sahari. Banyak yang harus kukerjakan,” katanya.

“Maksudmu, sebelum Jepang datang, engkau tinggal di Gunung Sahari, dan sekarang hendak kembali ke sana?” tanyaku.

“Ada yang salah?” Geertje balik bertanya.

“Ya. Salah waktu dan tempat. Pembunuhan terhadap orang kulit putih, Tionghoa, dan orang-orang yang dianggap kolaborator Belanda semakin menjadi. Mengapa ke sana?”

“Karena itu rumahku. Permisi,” Geertje membalikkan badan, menenteng kembali kopernya.

Aku tertegun. Dari jauh kulihat si keparat Jan menjungkirkan ibu jarinya ke bawah.

“Tunggu!” aku mengejar Geertje. “Biar kuantar.”

Kali ini Geertje tak menolak. Dan aku bersyukur, Jan bersedia meminjamkan motornya.

“Hati-hati sinyo satu ini, Nyonya,” Jan mengedipkan mata. “Di Nederland banyak wanita merana menunggu kedatangannya.”

“Begitukah? Panggil ‘nona’, atau sebut namaku saja,” sahut Geertje.

“Oh, kalau begitu panggil aku Jan.”

“Dan ini Martin,” aku menebah dada. “Apakah kau tak ingin membuang bakiak kamp itu?” tanyaku sambil melirik kaki Geertje. ”Bukankah para tentara di sana menyediakan sepatu untuk wanita dan anak-anak? Mereka juga membagikan gincu dan bedak. Kalian akan kembali rupawan.”

“Belum terbiasa bersepatu lagi, jadi kusimpan di koper. Di kamp, aku mahir berlari dengan bakiak,” Geertje tertawa, meletakkan tubuhnya di jok belakang.

Mijn God. Tawa renyah dan lesung pipinya. Betapa ganjil berpadu dengan sepasang alis curam itu. Wajah yang sarat teka-teki. Apakah wanita ini masih memiliki keluarga? Suami? Tapi tadi ia minta dipanggil ‘nona’.

“Gunung Sahari sering dilewati Batalyon 10. Mereka menjaga permukiman Eropa. Tetapi tentu saja tak ada yang tahu, kapan serangan datang. Coba pikirkan usulku tadi,” dari kaca spion, kutengok Geertje. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi suara motor Jan teramat bising. Akhirnya kami membisu saja sepanjang perjalanan.

Di perempatan Kwitang aku meliuk ke kanan, meninggalkan iringan truk berisi wanita dan anak-anak di belakangku. Ah, anak-anak itu. Riuh bertepuk tangan, menyanyikan lagu-lagu gembira. Tidak menyadari bahwa kemungkinan besar tanah Hindia, tempat mereka lahir, sebentar lagi tinggal kenangan.

“Depan empang itu,” Geertje melambai.

Aku membelokkan sepeda motor. Rumah besar itu terlihat menyedihkan. Dindingnya kotor. Kaca jendela pecah di sana-sini. Anehnya, rumput pekarangan tampak seperti belum lama dipangkas.

“Sebentar!” kuraih lengan Geertje saat ia ingin berlari ke teras.  Dari tas di belakang motor, kukeluarkan belati yang tadi dipinjamkan oleh Jan. Kudorong pintu depan. Terkunci.

“Masih ingin masuk?” tanyaku.

“Ya,” jawab Geertje. “Singkirkan belatimu. Biar aku yang mengetuk. Semoga rumah ini belum diambil alih keluarga Eropa lain.”

“Atau oleh laskar,” sahutku.

Geertje mengetuk beberapa kali. Tak ada jawaban. Kami berputar ke belakang. Pintunya terbuka sedikit. Saat hendak masuk, terdengar langkah kaki dari kebun. Seorang wanita pribumi. Mungkin berusia lima puluh tahun.

“Nona!” wanita itu meraung, memeluk kaki Geertje.

Geertje menarik bahu si wanita agar berdiri.

“Jepang sudah kalah. Aku pulang, Iyah. Mana suamimu? Apakah selama ini engkau tinggal di sini?” tanya Geertje. “Ini Tuan Witkerk, teman saya. Martin, ini Iyah. Pengurus rumah tangga kami.”

Iyah membungkuk kepadaku, lalu kembali menoleh kepada Geertje.

“Setelah terakhir menengok Nona, rumah ini diambil Jepang. Tempat tinggal para perwira. Saya memasak untuk mereka. Tidak boleh pergi. Itulah sebabnya saya tidak bisa menengok Nona,” Iyah kembali terisak. “Mana Tuan, Ibu, dan Sinyo Robert?”

“Mama meninggal bulan lalu. Kolera,” Geertje mendorong pintu lebih lebar, lalu masuk rumah. Aku dan Iyah menyusul. “Papa dan Robert dikirim ke Burma. Sudah kuminta komandan kamp mencari berita tentang mereka,” lanjut Geertje.

“Barang berharga disita. Foto-foto di dinding musnah. Diganti bendera Jepang. Tapi belum lama ini mereka buru-buru pergi. Entah ke mana. Banyak barang tidak dibawa,” kata Iyah. “Saya ambil alat-alat masak dulu di gubuk. Sekalian ajak suami ke sini. Sejak jadi koki Jepang, saya pindah ke gubuk belakang. Setelah mereka pergi, saya tetap tidak berani tinggal di sini. Tapi setiap ada kesempatan, pasti menengok, membersihkan yang perlu.”

“Ajak suamimu. Kita bangun rumah ini. Kalau bank sudah berjalan normal, mungkin aku bisa mengambil sedikit simpanan,” Geertje membiarkan Iyah berlari ke luar, lalu meneruskan memeriksa rumah. Meja-kursi tersisa beberapa, juga lemari. Tetapi tak ada isinya. Sebuah kejutan kami temukan di ruang keluarga: piano hitam yang anggun. Cukup mengherankan, Jepang tidak menyita atau merusaknya. Mungkin dulu dipakai sebagai hiburan.

Geertje meniup debu tipis, membuka penutup tuts. Sepotong irama riang menjelajahi ruangan.

“Lagu rakyat?” tanyaku.

“Si Patoka’an,” Geertje mengangguk, lalu bersenandung menimpali ketukan tuts.

“Engkau menyatu dengan alam dan penduduk di sini. Mereka juga menyukaimu. Mungkin mencintaimu setulus hati,” kataku. “Tapi zaman ‘tuan’ dan ‘babu’ ini akan segera berakhir. Amerika semakin memperlihatkan ketidaksukaan mereka akan kolonialisme. Dunia luar juga mulai mengawasi setiap denyut perubahan yang terjadi di sini. Dan kehadiran kita selama beberapa ratus tahun sebagai penguasa negeri ini, bahkan makan jantung negeri ini, semakin memperburuk posisi tawar kita. Kurasa Hindia Belanda tak mungkin kembali, sekeras apapun upaya kita merebut dari tangan para nasionalis bumiputra ini.”

“Bila api revolusi telah berkobar, tak ada yang bisa menahan,” Geertje menghentikan laju jemarinya di atas tuts. “Mereka hanya ingin mandiri, seperti kata ayahku dulu. Ayah pengagum Sneevlit. Ia siap kehilangan hak-hak istimewanya di sini. Aku sendiri seorang guru sekolah bumiputra. Lahir, besar di tengah para bumiputra. Saat Jepang berkuasa, kusadari bahwa Hindia Belanda bersama segala keningratannya telah usai. Aku harus berani mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Dan apapun yang ada di ujung nasib, aku akan tetap tinggal di sini. Bukan sebagai ‘penguasa’, seperti istilahmu. Entah sebagai apa. Jepang telah memberi pelajaran, pahitnya menjadi jongos atau babu. Setelah kemarin hidup makmur, bukankah memalukan lari di saat orang-orang ini butuh bimbingan kita? ”

“Orang-orang itu…” aku tidak meneruskan kalimat.  Sunyi sesaat.

“Konon, seorang pemburu menemukan bayi harimau,” akhirnya aku menghela napas. “Dirawatnya hewan itu penuh kasih. Ia menjadi jinak. Makan-tidur bersama si pemburu hingga dewasa. Tak pernah diberi daging. Suatu hari, tangan si pemburu tergores piring kaleng milik si harimau. Darah mengucur.”

“Si harimau menjilati darah itu, menjadi buas, lalu menerkam si pemburu,” potong Geertje. “Engkau mencoba mengatakan bahwa suatu saat para bumiputra akan menikamku dari belakang. Betul?”

“Kita ada di tengah pergolakan besar dunia. Nilai-nilai bergeser. Setelah berabad, kita menyadari tanah ini bukan Ibu Pertiwi kita,” jawabku. “Untuk ketigakalinya kuminta, pergilah selagi bisa.”

“Ke Belanda?” Geertje menurunkan tutup piano. “Aku bahkan tak tahu, di mana letak negara nenek moyangku itu.”

“Di kampung halamanku, di Zundert, ada beberapa rumah kontrakan dengan harga terjangkau. Sambil menunggu kabar tentang ayahmu, kau bisa tinggal di sana.”

“Terima kasih,“ Geertje tersenyum. “Kau sudah tahu di mana aku ingin tinggal.”

Itu jawaban Geertje beberapa bulan lalu. Sempat dua kali aku menemuinya kembali. Memasang kaca jendela, dan mengantarnya ke pasar. Setelah itu, aku tenggelam dalam pekerjaan. Geertje juga tak memikirkan hal lain kecuali membangun rumah. Sulit mengharapkan percik asmara hadir di antara kami.

Lalu datanglah berita tentang pertempuran keras tadi malam, yang merambat dari Meester Cornelis sampai ke Kramat. Beberapa kesatuan pemuda melancarkan serangan besar-besaran ke pelbagai wilayah secara rapi dan terencana. Di sekitar Senen – Gunung Sahari, sebuah tank NICA bahkan berhasil dlumpuhkan.

Aku mengkhawatirkan Geertje. Sebaiknya wanita itu kujemput saja. Biarlah ia tinggal bersama kami sementara waktu. Semoga ia tidak menolak. Schurck sedang ke luar kota. Tak bisa meminjam motornya. Untunglah, meski agak mahal, pihak hotel bersedia menyewakan mobil berikut sopirnya.

“Di depan itu, Tuan?” suara Dullah membawa diriku kembali berada di dalam kabin Chevrolet yang panas ini.

“Betul. Tunggu sini,” aku melompat ke luar dengan cemas. Di muka rumah Geertje, beberapa tentara NICA berdiri dalam posisi siaga. Sebagian hilir-mudik di halaman belakang. Beranda rumah rusak. Pintu depan roboh, penuh lubang peluru. Lantai dan tembok pecah, menghitam, bekas ledakan granat.

“Permisi, wartawan!” sambil menerobos kerumunan, kuacungkan kartu pengenal. Mataku nyalang. Kumasuki setiap kamar dengan perasaan teraduk, seolah berharap melihat tubuh Geertje tergolek mandi darah di lantai. Tetapi tak kunjung kutemui pemandangan mengerikan semacam itu. Seorang tentara mendekat. Agaknya komandan mereka. Kusodorkan kartu pengenal.

“Apa yang terjadi, Sersan…Zwart?” tanyaku sambil melirik nama dada tentara itu. “Korban serangan tadi malam? Di mana penghuni rumah?”

“Kami yang menyerang. Penghuninya lari. Tuan seorang wartawan? Kebetulan sekali. Kita sebarkan berita ini, agar semua waspada,” Sersan Zwart mengajak berjalan ke arah dapur. “Ini tempat para pemberontak berkumpul. Banyak bahan propaganda anti NICA,” lanjutnya.

“Maaf,” aku menyela. “Setahuku rumah ini milik Nona Geertje, seorang warga Belanda.”

“Tuan kenal? Kami akan banyak bertanya nanti. Ada dugaan bahwa Nona Geertje alias ‘Zamrud Khatulistiwa’ alias ‘Ibu Pertiwi’, yaitu nama-nama yang sering kami tangkap dalam siaran radio gelap belakangan ini, telah berpindah haluan.”

Geertje? Aku ternganga, siap protes. namun Sersan Zwart terlalu sibuk menarik pintu besar yang terletak di tanah, dekat gudang. Sebuah bunker. Luput dari perhatianku saat mengunjungi Geertje tempo hari. Kuikuti Sersan menuruni tangga.

Tak ada yang aneh. Warga Belanda yang sejahtera biasanya memiliki ruangan semacam ini. Tempat berlindung saat terjadi serangan udara di awal perang kemarin. Sebuah ruangan lembab, kira-kira empat meter persegi. Ada meja panjang, kursi, serta lemari usang berisi peralatan makan dan tumpukan kertas. Benar, kertas itu berisi propaganda anti NICA.

Sersan Zwart membuka kain selubung sebuah obyek di balik lemari. Pemancar radio!

“Warisan Jepang,” kata Sersan.

Aku membisu. Sulit mempercayai ini semua. Tetapi yang membuat tubuhku membeku sesungguhnya adalah pemandangan di dinding sebelah kiri. Pada dinding lapuk itu, tergantung satu set wastafel lengkap dengan cermin. Di atas permukaan cermin, tampak sederetan tulisan. Digores bergegas, menggunakan pemerah bibir: ‘Selamat tinggal Hindia Belanda. Selamat datang Repoeblik Indonesia’.

Aku membayangkan Geertje dan lesung pipinya, duduk di tengah hamparan sawah, bernyanyi bersama orang-orang yang ia cintai: “Ini tanahku. Ini rumahku. Apapun yang ada di ujung nasib, aku tetap tinggal di sini.”

Sejak awal Geertje tahu di mana harus berpijak. Perlahan-lahan kuhapus kata ‘pengkhianat’ yang tadi sempat hinggap di benak.

                                                                                   Jakarta, 12 Oktober 2012

Sumber: Iksaka Banu: Semua untuk Hindia! Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia, 2014; © Kepustakaan Populer Gramedia, Iksaka Banu

Rio Johan: Aksara Amananunna

Die 12 Kurzgeschichten dieser Sammlung erzählen von 12 Menschen aus der Zeit der Sumerer bis in das Jahr 8475. Sie alle versuchen, sich etwas Größerem als sich selbst zu stellen. 2014 wurde das Buch vom Magazin Tempo als Prosabuch des Jahres ausgezeichnet.

Rio Johan: Aksara Amananunna. April 2014, Kepustakaan Populer Gramedia (Taschenbuch)


Rio Johan: Amananunnas Schrift

Kurzgeschichte von Rio Johan im Original
und in der Übersetzung von Gudrun Ingratubun.

Monate waren vergangen, seitdem Gott die Sprachverwirrung geschickt hatte und Amananunna hatte seine Sprache noch nicht gefunden. Es war als laste ein Fluch auf seiner Schicksalslinie…

Rio Johan: Aksara Amananunna

Berbulan-bulan setelah Tuhan mengacaukan bahasa, Amananunna belum pula menemukan bahasanya. Pemuda yatim piatu itu bagai punya kutuk dalam garis kismatnya. Berminggu-minggu dihabiskannya mengelilingi kaki ziggurat Raja Nimrod yang jadi biang amuk Tuhan, menajamkan telinga dan bersusah-payah menangkap bebunyian yang datang dari mulut-mulut manusia sekitar. Tidak satupun bunyi yang dia mengerti. Lidah yang satu dengan yang lainnya bisa berbeda sama sekali. Seringnya yang dia tangkap cuma suara-suara asing yang coraknya tak bisa dia kenali apalagi rumuskan. Semuanya seperti bunyi kacau yang justru mengganggu ketimbang mampu dimengertinya. Kesal, dia menendang basis ziggurat yang jadi perlambangan hubrisitas Raja Nimrod itu.

Tiga minggu dia bertahan di Tanah Babel, tapi tak satupun lidah manusia-manusianya yang bisa bersahabat dengan telinganya. Dia justru heran bagaimana manusia-manusia sekelilingnya bisa tetap bercakap-cakap sebab bahasa yang satu belum tentu sama dengan lainnya. Dia bertanya-tanya, bagaimana bisa cuma dia seorang yang tak punya keserasian lidah dan telinga dengan satu manusia manapun di penjuru kota ini. Pernah dia mencoba menguji lidahnya, mencoba-coba melafalkan apa yang baru saja keluar dari mulut seorang tetua bermulut besar di satu sisi pasar. Hasilnya sama saja. Yang keluar dari lidahnya tak bisa dimengerti tetua itu. Yang dibalas tetua itu pun tak bisa ditangkap oleh telinganya.

Akhirnya Amananunna memutuskan berkelana dengan harapan menemukan bahasa yang bisa berserasi dengan telinga juga lidahnya. Gurun-gemurun diarunginya, jajaran jejabalan ditalukannya. Tanah Lullubi. Kota Hamazi. Uri-ki. Susin. Shubur. Sampai ke tanah orang-orang Mar-tu. Dilmun. Bahkan suku-suku tanpa nama yang tinggal di Tanah Anshan. Lapar dan lelah harus dia tahan. Kadang-kadang, kalau mujur nasibnya, dia mendapat buruan atau sekedar penganan dari orang-orang nomad baik hati yang ditemuinyasekalipun untuk berkomunikasi, dia mesti menggunakan isyarat badan, bukan lisan. Tersebab tuntutan perutnya sudah tak bisa ditunda-tunda, pernah juga dia terpaksa makan rerumputan, reptil gurun pasir, juga bangkai yang dirasanya masih layak makan. Semua itu dilakukan Amananunna demi pencarian bahasa.

Namun, tidak satupun lidah yang dia temui bisa berserasi dengan telinganya. Telinganya serasa terlaknat sehingga tidak lagi punya kuasa menangkap kata-kata. Dia tidak tuli. Beberapa orang yang dia temui mengira dia tuli. Telinganya mampu menangkap suara-suara, tapi tidak kata-kata. Beberapa orang lagi malah menuduhnya idiot. Dia pernah duisir olah salah satu suku tribal penghuni kaki sebuah jabal karena dianggap membawa kemalangan. Betapapun, dia terus melangkah. Dia terus berkelana mencari bahasa. Hingga melampaui Tanah Sinar. Menumpang sekoci pemukat—beruntunglah keterampilan isyarat badannya sudah dilatih pengalaman—menaungi Laut Merah. Eridu. Uruk. Uru. Samarra. Sungai Tigris. Sampai Tanah Mediterania. Entah sudah berapa masa dia berkelana. Entah sudah sampai mana akhirnya dia merasa lelah. Dia terduduk di sepucuk batu di wilayah yang sama sekali tidak dia mengerti. Ngarai terjal berdiri gagah di hadapannya. Sialnya ngarai itu berpacak di sisi yang salah sehingga tubuhnya tak terlindung dari sengatan siang. Bercucurlah keringatnya, mengalir dari puncak kepala; beberapa bulir yang singgah di mulut sengaja ditelannya, beberapa lagi dibiarkan menitik pada tanah yang kering-panas. Entah bagaimana dia merasa mendengar bunyi bebuliran peluhnya menyuntuh muka tanah. Semacam bebunyian menguap di telinganya. Tahu-tahu ada hawa panas mengembusi liang telinganya—berbisik! Bahasa.

Detik selanjutnya dia siuman. Tubuhnya telah terkapar di tengah hamparan tanah tandus. Sengatan siang masih juga menampar-nampar kulit pipinya yang sudah begitu menyala-nyala. Pepasiran mengembus pori-pori kulit mukanya. Itu juga kali pertama dia merasa begitu tercerahkan. Amananunna memutuskan: dia akan merumuskan bahasanya sendiri.

Dia melanjutkan pengelanaan dengan tujuan baru. Dia menciptakan kata-katanya sendiri berdasarkan apa saja yang bisa dia dengar dan dia lihat. Tak jarang pula dia menciptakannya sepatah kata secara tiba-tiba. Dan, pernah pula dia menyadur dan mengutak-atik ucapan-ucapan manusia-manusia yang pernah ditangkapnya—yang sebetulnya dia tidak mengerti makna aslinya—menjadi bahasanya sendiri. Dia berkelana dari kota ke kota, suku ke suku, tanah ke tanah, selain untuk merumuskan bahasanya sendiri, juga untuk menyebarluaskan khazanah lisannya pada manusia-manusia lain. Sebab, apalah artinya merumuskan bahasa bila hanya dia sendiri penggunanya.

Namun, apadaya Amananunna yang jelaslah bukan siapa-siapa selain pengelana malang di tengah rimbunan bahasa-bahasa asing yang sudah duluan merajalela. Orang-orang yang ditawarinya berbahasa menggunakan bahasanya selalu menganggapnya gila atau idiot. Tak ada yang memedulikannya; tak ada yang menyeriusinya. Bagaimana pula dia bisa menyebarluaskan bahasanya di tengah rimbunan bahasa-bahasa yang telinganya sendiri tidak bisa memahami? Dia tak punya kuasa ilahiah untuk itu.

Amananunna perlu berpikir keras.

Maka, berpikirlah Amananunna di tepian sungai di dekat pemukiman suku-suku tribal. Dipandangnya erat arus-arus juga sinaran siang yang sudah merasuk ke dalam gelombang larung sungai. Pantulannya terombang-ambing. Cuma bayangannya yang menetap di sana. Menetap di dekat bayang-bayang manusia lain. Manusia lain! Ada perempuan di sampingnya! Sungguh, belum pernah dia menyaksikan keindahan yang seperti itu! Wujud indah itu dililit kain-kain bening; rambut ikalnya panjang sepinggang. Setipis senyum timbul manakala mendapati mata Amananunna menancap pada matanya.

Perempuan itu cuma menumpang minum. Barangkali dia juga pengelana. Dengan seranting kayu Amananunna mengukir suatu aksara baru pada tanah basah: ↭. Ketika itulah dia menemukan kata yang maknanya kurang lebih “cinta.” Senyum perempuan itu jadi tumpah-ruah.

Singkat cerita, Amananunna mendapat teman berkelana. Perempuan yang tidak dia ketahui namanya dan kelak dia beri nama Manatumanna—sesuai dengan aksara dan lafal lisan ciptaannya—juga merasa cinta pada dirinya. Perempuan itu diberi pengetahuan aksara dan bahasa Amananunna. Perempuan itu rela menanggalkan aksara dan bahasanya sendiri demi cintanya. Perempuan itu pulalah yang diyakini Amananunna sebagai mukjizat ilahiah, jembatan bagi keberlanjutan bahasanya. Pada pemberhentian tertentu, keduanya bercinta di bawah naungan restu Inanna—dewi asmara dan kesuburan. Entah pada pemberhentian keberapa Manatumanna mengandung bakal keturunan. Amananunna girang sejadi-jadinya. Bakal penerus bahasanya sudah di depan mata. Tersebab kondisi itu pula keduanya memutuskan menetap di sebuah pedusunan suku tribal yang tak pernah bisa mereka eja namanya.

Puluhan minggu berlalu dan tibalah masa kelahiran. Putranya diberi nama Ilanumanna, sesuai dengan aksara dan bahasa Amananunna. Beberapa minggu selanjutnya mereka sudah melanjutkan pengelanaan dengan satu tambahan anggota. Kota ke kota, suku ke suku, tanah ke tanah. Sambil sesekali mencoba menawarkan bahasa ke manusia-manusia yang mereka temui, walaupun hasilnya percuma. Entah sudah berapa masa mereka berkelana. Entah sudah berapa perhentian dan berapa malam bernaungan restu Inanna. Mereka tidak peduli lapar ataupun lelah. Seiring itu, Ilanumanna tumbuh besar, gagah, dan rupawan. Kepiawaiannya berburu serta kebugaran jasmaninya jauh melampaui Amananunna. Juga, sesuai dengan kehendak ayahandanya, pemuda itu tumbuh dalam aksara dan bahasa Amananunna, bukan yang lain.

Entah pada masa keberapa pula Dewi Inanna menjatuhkan restu kedua. Putra kedua Amananunna lahir dan diberi nama Ilalumanna. Harapan Amananunna pada si bungsu sama besarnya dengan si sulung. Sayang harapan itu terlalu muluk. Ilalumanna tumbuh sebagai lelaki lemah dan pesakitan. Ketimbang turut serta dalam perburuan, Ilalumanna malah membantu tugas ringan ibundanya. Karena dua alasan, tuntutan kesejahteraan dan ketakutan akan pengaruh bahasa-bahasa lain, Amananunna memutuskan untuk membentuk koloni sendiri. Tanah yang dipilihnya: tanah ngarai tempat dia pertama kali mendapati bisikan ilham untuk mencipta bahasa. Seingatnya, ada sungai dan sabana yang bisa jadi sumber hidup mereka tak jauh ngarai itu.

Bertahun-tahun mereka menetap, berburu, bercocok-tanam, juga menggembala sapi dan domba, masih ada satu pikiran yang mengusik Amananunna: keturunan. Keberlanjutan keturunan diperlukannya untuk melanjutkan tradisi lisan, tapi Inanna tak lagi memberi restu pada mereka. Dia tak punya anak perempuan yang bisa dikawinkan dengan putra-putranya. Tubuhnya sendiri sudah mulai tua dan renta. Dia merasa perlu mengambil langkah segera. Maka, diperintahkannya putra sulungnya, yang semakin hari semakin gagah nan rupawan, mengawini perempuan dari kota terdekat. Ilanumanna patuh dan bersicepat menjalankan tugas ayahandanya. Sial bagi Ilalumanna, sebab si bungsu itu jadi dibebani tugas-tugas kakandanya.

Berminggu-minggu, berbulan-bulan, entah sudah berapa masa, Ilanumanna tak juga pulang membawa pinangan. Ketika Amananunna mendatangi kota tempat putranya berlabuh, si putra sulung tidak lagi memahami aksara dan bahasa ayahandanya. Ilanumanna sudah menanggalkan aksara dan bahasa ayahandanya demi cintanya pada satu perempuan. Amananunna cuma bisa menyaksikan cucu-cucunya tanpa bisa menurunkan pengetahuan lisannya. Telinga dan lidahnya kehilangan kuasa di tengah keturunannya sendiri.

Amananunna pulang dengan harapan yang sudah lebur. Tersebab kerja berlebihan yang bagai tak tertanggungkan, putra bungsunya semakin hari semakin lemah dan pesakitan. Amananunna tak bisa melihat harapan pada si bungsu. Betapapun, dia tidak ingin aksara dan bahasa ciptaannya lenyap begitu saja. Amananunna menempuh cara terakhir. Pria renta itu mengukir aksara-aksara bahasanya di ceruk-ceruk ngarai, pada bebatuan besar, juga di dinding gua. Setidaknya, dengan cara itu dia bisa meninggalkan jejak ciptaannya.

Surakarta, 19 November 2012

Sumber: Rio Johan: Aksara Amananunna. Jakarta, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2014

© Rio Johan

Triyanto Triwikromo: Kekacauan Metamorfosis

Ketika Franz Kafka terbangun dari mimpi buruk, di atas tempat tidur dia menemukan dirinya berubah menjadi sapi.1  Tentu Kafka kaget. Dia melirik dan mendapatkan dirinya –dalam bentuk tubuh satwa yang berpunuk dan bergelambir– memenuhi kamar, sehingga nyaris tak ada ruang untuk bergerak.

“Ini pasti mimpi. Seharusnya Gregor Samsa yang berubah jadi binatang menjijikkan serupa kecoa atau kumbang raksasa penyebar hama. Bukan aku. Dan metamorfosis menjadi sapi jelas sangat tidak kuharapkan,” gumam Kafka, “Apa yang menarik dari seekor sapi?”

“Tak ada yang aneh,” kata binatang berperut menggelembung, berbuku-buku, dan berkaki banyak yang kaukenal sebagai metamorfosis Gregor Samsa itu,  sambil merayap ke telinga Kafka, “Aku juga berubah satwa yang tidak diinginkan dan tak seorang pun merisaukan.”

“Tentu saja aneh. Apa reaksi orang jika seorang pria keturunan Yahudi kelahiran Praha 3 Juli 1883 yang tidak merasa ditekan rezim mana pun tiba-tiba harus berubah menjadi sapi? Jangan-jangan ada masyarakat borjuis yang bersekongkol mengubah cara berpikirku sehingga aku selalu melihat diriku sebagai sapi.”

“Oo,” ujar Gregor Samsa sambil menggerak-gerakkan sungut, “Kau jangan berpikir seperti para pengarang penakut. Kau memang telah menulis Amerika, Proses, Puri, atau Metamorfosis. Akan tetapi tulisan-tulisanmu itu hanya perwujudan dari rasa takut. Takut tersingkir. Takut tak dapat ruang hidup. Takut mati. Takut tak dikenang sebagai penulis.”

Kafka tersinggung, tetapi dia tetap mendengarkan omongan Gregor Samsa.

“Berpikirlah seperti seorang yang bekerja di kantor asuransi. Anggaplah semua orang bodoh dan tak merisaukan apa pun yang dilakukan oleh para penganjur asuransi. Itu berarti sekalipun sudah menjadi sapi, kau bisa meyakinkan siapa pun, ‘Ini aku Kafka. Aku penulis yang sempurna. Tidak impoten dan selalu memberikan segala yang terbaik untuk pembaca.’”

“Tetapi tetap saja aku hanya seekor sapi yang sulit berdiri,” kata Kafka, “dan kau tetap binatang menjijikkan yang teramat kecil.”

Gregor Samsa terdiam. Dia tidak mungkin menyeret tubuh Kafka keluar dari kamar di sebuah rumah di Busse Heidestraße, Berlin, yang sedang dihajar oleh cuaca 12 derajat celcius.

“Jika saja aku bisa berubah menjadi kecoa raksasa berkaki panjang dan banyak, aku akan bisa memaksamu keluar dari kamar ini,” Gregor Samsa mendebat, “Sayang aku hanya satwa kecil yang ringkih. Itu berarti aku hanya perlu berdoa dan memohon pada Tuhan agar Dia segera mengubahmu menjadi sapi mini dan aku bermetamorfosis menjadi binatang raksasa.”

Sambil merasakan ada punuk besar yang menjijikkan, Kafka mencoba bangkit, tetapi kesulitan. Dia berteriak memanggil Dora Diamant, tetapi suara sang kekasih malah menyebalkan hati.

“Jangan melenguh-lenguh seperti sapi, Sayang,”  kata Dora, “Tidurlah lagi!”

Oo, Dora pun sudah menganggapku sebagai sapi, batin Kafka. Sangat memalukan bagiku jika dia sampai melihat binatang berpunuk dan bergelambir dengan mulut penuh lendir berada di kamar kekasihnya. Karena itu, aku  harus segera punya strategi mengatasi persoalan ini. Strategi yang hanya bisa dilakukan oleh seekor sapi. Lalu, karena hanya Gregor Samsa yang mungkin bisa mendengarkan suaraku, aku akan katakan pesan-pesanku kepada pedagang kelililing sialan itu.

“Gregor,” ujar Kafka, “Aku yakin sewaktu-waktu kau akan bermetamorfosis menjadi manusia kembali. Jika saat itu tiba, aku ingin minta tolong, pertama, selamatkan karya-karya yang kutulis tangan. Kedua, tolong bakar karya-karyaku yang telah dan akan dicetak, termasuk Meditasi. Aku tak ingin penggemarku berpikir dengan cara-cara yang lebih bodoh setelah membaca karyaku. Ketiga, aku ingin mengatakan kepadamu: Metamorfosis itu karya sampah. Jangan pernah kaubaca –terutama saat naik kereta.”

Gregor yang masih berada di telinga Kafka manggut-manggut. Dia berpikir:Kafka seharusnya bermetamorfosis jadi kacang polong dan aku berubah jadi kacang atom. Kami akan mudah menggelinding ke jalanan jika rumah yang disewa Kafka terbakar. Kukira, kacang polong atau kacang atom lebih seksi ketimbang binatang berpunuk.

Kian bingung menghadapi situasi yang tidak segera berubah ke titik normal, Gregor pun mendengung, “Aku aku tidak peduli pada kisah-kisahmu. Apakah tidak sebaiknya kita cari saja cara terbaik bermetamorfosis menjadi manusia?”

“Menjadi manusia kembali?” Kafka terkekeh, “Apakah kau menyangka manusia masih merupakan makhluk termulia?”

“Tentu saja,” kata Gregor Samsa yang merasa menjadi satwa telah menurunkan derajat kemanusiaan.

“Kau keliru, Gregor,” jelas Kafka, “Mungkin saja manusia sudah menjadi makhluk terbusuk sehingga Tuhan mengubah kita menjadi satwa.”

“Wow, jika manusia sudah dianggap sebagai makhluk busuk, mengapa kau tidak berubah jadi badak dan aku menjadi kupu-kupu saja?”

“Mengapa harus jadi badak dan kupu-kupu?”

“Apakah salah menjadi badak dan kupu-kupu?”

“Apakah kau yakin setelah menjadi badak dan kupu-kupu, ketika bangun tidur aku tetap jadi badak dan kau jadi kupu-kupu? Atau apakah kau yakin esok pagi kita akan jadi badak dan kupu-kupu yang sama? Kukira sekarang tidak perlu memperdebatkan kita hendak menjadi apa? Adam tak pernah bertanya mengapa harus jadi Adam, angin jadi angin, kabut jadi kabut, dan Kristus menjadi Kritus. Kita perdebatkan saja bagaimana kita keluar dari situasi terkutuk ini.”

Franz Kafka dan Gregor Samsa pun lalu berpikir keras.

“Bagaimana kalau kau berkirim surat kepada Max Brod, kawan karibmu itu, agar dia membebaskan kita dari situasi yang konyol ini?”

“Menulis surat? Jangan ngawur! Aku tak bisa menulis surat lagi.”

Gregor Samsa geli mendengarkan jawaban Kafka. Dia membatin mengapa dia masih menggunakan otak manusia pada saat telah menjadi kecoa. Tetapi dia tidak ingin berada dalam labirin kebingungan. Karena itu dia mengajak Kafka berpikir lebih keras.

“Sebenarnya gampang melepaskan diri dari situasi konyol ini,” kata Gregor, “Kita tak akan merasa dalam situasi konyol kalau kita anggap apa pun yang terjadi saat ini hanyalah peristiwa yang normal-normal saja.”

“Maksudmu?”

“Kau akan tahu maksudku kalau kau bisa menjawab beberapa pertanyaanku. Pertama, apakah kau menganggap kamar yang sekarang kita tempati ini sebagai surga? Jika ya, berarti kita tidak perlu membebaskan diri dari ruang sempit ini. Kita terima saja nasib yang mengubah kita menjadi sapi dan kecoa. Kedua, apakah masih penting bagimu mewartakan kepada dunia bahwa Kafka masih hidup, bebas dari tuberkulosis, dan masih akan menulis cerita-cerita remeh temeh tentang pengusiran orang-orang Yahudi? Jika tidak, kita tidak perlu memohon kepada apa pun atau siapa pun untuk mengubah seekor sapi dan seekor kecoa berubah jadi manusia. Ketiga, apakah kau masih ingin mengatakan kepada dunia betapa Kafka sesungguhnya bisa menjadi anjing perang? Jika tidak, kita berdiam saja di kamar. Bermeditasi sampai tua. Sampai siapa pun tak peduli pada keberadaan kita.”

Kafka berusaha menafsirkan pertanyaan dan pernyataan Gregor Samsa.

“Aku tak punya jawaban apa pun untuk ketiga pertanyaanmu,” kata Kafka, “Aku hanya membayangkan lambat laun tubuh kita akan membesar sepuluh kali lipat sehingga mampu menjebol kamar ini. Kukira ini bukan pikiran konyol karena menjadi sapi dan kecoa juga bukan peristiwa konyol.”

 “Menjebol?” Gregor Samsa tergelak, “Menjebol adalah kata paling indah di dunia. Ya, kita akan menjebol kamar ini dengan berbagai cara.”

Kafka terdiam. Dia merasa saat ini tidak mungkin menjebol kamar. Sungguh berat menggerakkan tubuh tambun berpunuk dan bergelambir. Apalagi berdiri. Apalagi menggerakkan kepala dan menanduk dinding kamar.

“Kau menyangka aku tak bisa menolongmu? Kau menyangka sosok yang kauciptakan tak bisa berbuat apa-apa?”

Kafka mengangguk.

“Kau lupa aku seorang pedagang kelililing, Kafka. Kau lupa seorang pedagang kelililing punya naluri untuk bangun tidur tepat waktu, mengenakan sepatu dengan cepat, mengejar kereta bagai anjing kesetanan, dan membebaskan diri dari pintu kamar sepanjang waktu.”

Kafka manggut-manggut tetapi tetap tak bisa menebak tindakan yang akan dilakukan oleh Gregor Samsa.

“Pejamkan matamu, Kafka, rasakan betapa gelap dunia kita.”

Kafka pun memejamkan mata. Tak lama dia memejamkan mata. Tak mungkin dia fokus dan merasakan kenikmatan di sebuah dunia yang gelap karena rasa sakit di telinga begitu menusuk-nusuk.

“Gregor, Gregor,” teriak Kafka, “Jangan kaugigit telingaku. Keluar dari telingaku sekarang juga!”

Gregor Samsa tidak peduli. Dia terus menggigit telinga Kafka. Mengigit. Menggigit. Mengigigit hingga Kafka, sapi raksasa berpunuk dan bergelambir itu,  mendengus-dengus, bangkit, dan mencoba mengatasi rasa sakit dengan menanduk segala benda.

Alat-alat tulis berantakan. Buku-buku berhamburan. Ranjang ambrol.

“Gregor,” teriak Kafka lagi, “Hentikan gigitanmu!”

Tak ada jawaban. Gregor terus menggigit hingga akhirnya Kafka bisa menjebol kamar dan berlari dengan bebas di jalanan, hingga akhirnya Dora Diamant berteriak, “Mengapa terus-menerus mendengus seperti sapi, Sayang. Hentikan ulah konyolmu!”

Kafka sudah tidak mendengarkan teriakan itu. Kafka juga tidak lagi mendengarkan orang-orang di jalan yang bilang, “Kafka mengapa kau merangkak di jalanan malam-malam?”

Setelah sekian lama memandang tiang-tiang listrik dan beberapa kereta kuda berseliweran, serta menganggap dunia berjalan dengan monoton, Kafka hanya ingin bilang kepada Gregor Samsa, “Tak ada gunanya keluar rumah. Lebih baik cepat kembali ke kamar. Tidur dan esok bangun pagi dengan pengalaman baru, dengan harapan baru.”

“Harapan baru?” kata Gregor Samsa, “Kau masih percaya akan ada harapan baru, Kafka?”


1 Ini merupakan kalimat pelesetan dari pembuka cerita Kafka, “Metamorfosis”.

© Triyanto Triwikromo

Feby Indirani: Baby ingin masuk Islam

Sidang Majelis seketika riuh rendah karena suatu kabar yang dibawa Kyai Fikri, yaitu seekor babi bernama Baby menyatakan keinginannya  masuk Islam. Dari berbagai penjuru ruangan, ucapan ‘Astaghfirullah’ menggema, sebelum kemudian sejumlah tangan serentak terangkat  untuk meminta kesempatan mengutarakan pendapat, sedangkan sebagian peserta sidang lainnya bahkan tidak merasa perlu meminta ijin dan langsung saja bicara. Pimpinan sidang kewalahan dan akhirnya menghentikan sidang selama 30 menit.

Setelah itu, majelis memutuskan menyidang Kyai Fikri yang menjadi sumber berita kontroversial tersebut. 

Bagaimanapun menghadapi Kyai Fikri bukanlah sesuatu yang mudah, karena ia dikenal sebagai kyai yang disegani. Tubuhnya tidak tinggi, kurus dan cenderung tampak ringkih. Tapi tatapan matanya tajam dan jernih. Ia memiliki aura yang kuat, yang membuat orang akan segan kepadanya. Umurnya sulit ditebak jika hanya melihat penampilannya.  Ia tampak matang, dengan janggutnya yang pendek dan rapi, sekaligus kelihatan cukup muda secara keseluruhan karena sikap tubuhnya yang gesit. 

Ia mengucapkan salam dengan suaranya yang dalam, dan seluruh ruangan mendadak senyap.

“Baby menunjukkan kesungguhannya untuk masuk Islam, dan saya termasuk orang yang percaya, hidayah bisa mengubah dan menyentuh siapa saja. Jika kita meyakini Islam menjunjung nilai keadilan, saya rasa kita mesti memberikan Baby kesempatan. “

“Maaf Kyai,” ujar seorang peserta majelis. “Apakah itu berarti Baby akan mengubah perilaku-perilaku anehnya?”

“Aneh itu kan menurut kita, karena ia berbeda dengan kita. Baby akan tetap menjadi babi sesuai sunnatullah-nya. “

Bisik bisik memenuhi seisi ruangan. Seorang peserta muda mengangkat tangan. “Kyai, saya ingin tahu kenapa Kyai begitu membela Baby, tapi sebelumnya saya penasaran, bagaimana Kyai bisa ada hubungan dengannya? Bukankah ia makhluk haram?”

“Saya memelihara ternak, antara lain babi,” sahut Kyai Fikri tenang. “Haram untuk memakannya, tapi tidak untuk memeliharanya, kan?”

Ruangan kembali berisik. Kyai keblinger, bisik mereka.

“Mohon maaf Kyai, tapi untuk apa?”

“Saya memberi makan orang-orang di kampung-kampung yang kehidupannya sangat miskin. Hewan-hewan ternak lain terlalu mahal, sementara satu kali mengandung babi bisa memiliki 20 anak. Ia termasuk jenis binatang yang paling banyak memiliki keturunan. Itulah awalnya saya memutuskan memelihara babi.”

“Kenapa Kyai tega memberi makan orang-orang miskin dengan babi?”

“Mereka terlalu miskin, dan mereka bukan Islam. Terlalu mewah bicara agama dengan mereka, agama mereka mungkin hanya makanan, dan air bersih,” Kyai Fikri menyapukan pandangannya menatap wajah-wajah peserta majelis yang memandangnya tanpa berkedip.

“Saya sering menginap di kampung tersebut, bersama penduduk, tinggal di langgar kecil, tidak begitu jauh dari kandang babi. Saya sholat dan mengaji seperti di mana pun saya berada. Lalu suatu saat ketika saya keluar, ada seekor babi betina yang selalu memandangi saya, seperti menunggu. Seperti  selalu ingin mengatakan sesuatu. Babi itu sudah cukup tua, berusia 15 tahun dan tidak bisa beranak lagi. Karena seringnya ia melakukan itu, menunggu dan seperti ingin menyampaikan sesuatu, saya menamai dia Baby, dan dia tampak mengerti bahwa itu adalah nama yang saya berikan untuknya.”

Ia terdiam sesaat, mengambil nafas. “Atas ijin Allah, ia bisa menyampaikan keinginannya, dan saya bisa memahami maksudnya. Ia menyatakan ingin menjadi  pemeluk Islam di hari-hari akhir hidupnya.  Ia tahu akan segera mendapat giliran dipotong, dan ia ingin permintaannya dipenuhi. ”

Suasana ruangan mendadak kembali ingar bingar, karena begitu banyak peserta berbicara di saat yang sama. Saling debat, saling sanggah.

“Bagaimana mungkin seorang Kyai yang mulia  bisa bergaul dengan Baby? “

“Tidak akan kita biarkan! Seluruh hal tentang babi itu haram. Seluruh zatnya. Titik.“

 “Apa hak kita  melarang siapa pun masuk Islam? Katanya Islam itu rahmat bagi semesta alam?”

“Memangnya apa agama Baby sebelumnya? Kenapa dia ingin masuk Islam sekarang? “

“Kalau Anda melarang Baby masuk Islam, artinya Anda bersikap tidak adil. Dan itu adalah sikap yang dibenci Allah dan Rasul-Nya.”

“Tapi apa kita semua mau satu agama dengan Baby? Itu kan menurunkan derajat kemanusiaan kita.”

“Tubuh kita dan Baby itu sangat mirip. DNA kita hanya berbeda tiga persen dari mereka, jadi sesungguhnya kita lebih dekat dengan mereka daripada yang kita bayangkan.”

“Lantas kemudian dia jadi boleh masuk Islam? Kan kita sudah tahu keanehan-keanehan Baby.  Tentang tabiat  yang kotor dan malas. Juga karakternya yang tak jelas,  bisa menyerupai binatang buas karena ia bertaring dan makan daging tapi juga dia mirip binatang jinak karena berceracak dan makan dedaunan,”

“Terdengar semakin mirip dengan kita kan?”

Gema ‘Astaghfirullah’ kembali terdengar dari berbagai penjuru ruangan.  Tidak ada yang mendengarkan satu dengan lainnya dan masing-masing orang hanya sibuk dengan pendapatnya sendiri-sendiri. Pimpinan sidang memerintahkan reses selama dua jam  untuk membahas persoalan ini. Para peserta sidang  pun secara alamiah langsung membentuk kelompok yang dirasa cocok dan sepikiran dengan mereka. Setiap anggota majelis saling beradu argumentasi tentang bagaimana harus menyikapi persoalan Baby.

Sidang kembali dimulai dan  peserta sidang diminta melakukan voting dalam pengambilan keputusan. Kelompok pertama yang paling besar jumlahnya atau sekitar 40 persen dari majelis adalah mereka yang jelas menolak Baby, tidak ada pertimbangan dan tidak ada kompromi.  Sementara sebanyak 35  persen secara prinsip tidak setuju, tapi meyakini mereka perlu memanggil Baby untuk mendengarkan dari sisi Baby. Kelompok ini meyakini bahwa Majelis mesti bersikap tepat secara politis dan bagaimanapun harus mengusung prinsip-prinsip keadilan. Kelompok berikutnya, 23 persen, adalah kelompok yang mendukung Kyai Fikri, kelompok ini kecil tapi memiliki suara yang biasanya didengar oleh mayoritas anggota, karena posisi dan status sosial mereka yang dihormati publik. Di dalam kelompok ini sebetulnya termasuk juga adalah orang-orang yang menyetujui semata karena mengagumi Kyai Fikri dan keunikannya. Sisanya abstain, adalah mereka yang tidak tertarik dengan konflik dalam bentuk apapun juga.

Masing-masing kelompok berdebat argumentasi satu dengan yang lainnya, dan keputusan belum dapat diambil karena belum ada suara mayoritas. Akhirnya karena hari sudah larut, sidang harus dihentikan terlebih dulu dan dilanjutkan esok hari.

Dalam jeda sidang itu, terlihatlah bagaimana  kelompok 35 persen itu diperebutkan oleh dua kubu lainnya.  Kelompok 40 persen tentu saja merasa mereka seharusnya sedikit lagi memenangi keputusan ini, dan akan begitu mudah jika kelompok 35 tidak terlampau etis. Untuk apa sok etis, jika hasil akhir sudah jelas, yaitu tidak setuju. Tapi kelompok 35 terdiri dari mereka yang sangat menyukai proses dan sangat ingin majelis tampak bagus di mata publik.

Sementara itu, secara prinsip, kelompok 23 jelas memiliki sikap yang berbeda. Mereka pun sebal pada orang-orang dari kelompok 35 yang mereka nilai terlalu mementingkan pencitraan, haus pujian, dan tidak konsisten. Namun kelompok 35 memiliki jumlah signifikan, dan masih punya keinginan untuk melakukan proses yang adil betapapun itu hanyalah kosmetik belaka.  Kelompok 23 menimbang, jika setidaknya mereka bisa menghadirkan Baby dalam sidang, itu sudah merupakan suatu langkah besar, plus peluang bahwa keinginannya dapat dikabulkan majelis — seberapapun kecilnya kemungkinan itu.

Debat dan negosiasi yang terjadi begitu alot, bahkan untuk sekadar menghadirkan Baby di sidang majelis. Karena bagi banyak peserta itu akan menjadi kali pertama dalam hidup mereka berinteraksi dengan babi.  Sidang tertunda selama dua hari tanpa ada solusi.

Setelah proses yang panjang itu, di hari ketiga anggota majelis melakukan voting akhir. Hasilnya, Majelis secara resmi menolak Baby untuk menjadi Islam.

Wajah Kyai Fikri tampak mendung. Dia minta ijin menyampaikan kata-kata terakhir sebelum sidang majelis resmi dibubarkan.

“Bagaimanapun, saya berterimakasih untuk proses yang sudah melibatkan kerja keras dari semua peserta majelis. Saya benci membuat Baby kecewa, tapi saya akan kembali ke kampung dan mengatakan kepadanya, Baby, siapapun bisa menjadi islam dengan bersaksi bahwa ‚Tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah‘,” mata Kyai Fikri tampak berkaca-kaca. “Tidak ada yang bisa menghentikan siapapun menjadi Islam, meskipun orang Islam sendiri menolaknya. Itu yang akan saya katakan pada Baby.”

Ruangan senyap, dan sebagian peserta ikut terharu, memikirkan Baby yang akan kecewa karena mengalami penolakan di pengujung hidupnya. Bagaimanapun, keputusan sudah diambil, mereka bersalam-salaman dan berpamitan, saling mengucapkan maaf dan terimakasih untuk proses persidangan yang dilakukan selama tiga hari.

Ketika beranjak keluar ruangan, salah seorang peserta sidang menggamit lengan Kyai Fikri dan berbisik di telinganya.

“Kyai, saya boleh ikut ke kampung?” pintanya sambil tersipu. “Karena Baby sudah masuk Islam, saya ingin ikut mencicipi dagingnya.”

Sumber: Feby Indirani: Bukan Perawan Maria; Paperback, Pabrikultur, 2017

© Feby Indirani

Feby Indirani: Perempuan Yang Kehilangan Wajahnya

Di suatu pagi, Annisa bangun dan ia tersadar saat bercermin, bahwa ia tidak lagi memiliki hidung.

“Astaghfirullah!“ serunya keras. Andai Razi suaminya ada di rumah, ia mungkin sudah terjengkang dari kursi goyang kesayangannya. Namun Razi sedang dinas ke luar kota dan baru akan kembali lima hari lagi. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, Annisa panik.

Untuk beberapa saat, ia hanya membenamkan wajahnya di bantal. Cermin di kamarnya seolah menjadi hantu yang paling ditakutinya. Selama beberapa jam kemudian, Annisa hanya menangis meratapi nasib. Bagaimana mungkin hidungnya bisa hilang?

Tepatnya adalah batang hidungnya yang ramping, dan pucuk hidungnya yang biasanya membulat menggemaskan. Yang tersisa dari hidungnya adalah dua bulatan yang dipayungi cuping hidung yang tinggal setengah. Ia tidak merasakan rasa sakit sedikitpun. Ia pun tetap bisa menghirup udara seperti biasa, melalui lubang yang tadinya adalah hidungnya itu. Tapi oh alangkah buruknya wajah dengan hidung yang menghilang.

Annisa masih berharap itu adalah mimpi buruk, namun ketika ia berkaca lagi, ia tahu, ia tidak bermimpi. Ia tidak lagi memiliki hidung, atau tepatnya batang hidung. Ia merasa terguncang, tapi kemudian mulai berusaha berpikir rasional, dan mulai menimbang sejumlah alternatif tindakan yang harus dilakukannya. Menghubungi dokter di rumah sakit? Ya, Annisa akan melakukannya, tapi tidak, sebaiknya ia menunggu Razi pulang. Tidak, ia tidak mau mengabari Razi sekarang karena tidak ingin mengganggu konsentrasi suaminya. Dan ya, ia menduga biayanya mungkin akan mahal untuk bisa membuat sebatang hidung.  Sebagai seorang istri yang baik, ia tidak mungkin mengeluarkan uang yang begitu besar tanpa izin terlebih dulu dari suaminya. Tidak, ke dokter atau rumah sakit bukanlah prioritas yang begitu mendesak, karena Annisa sudah memastikan bahwa ia tidak merasakan sakit apapun.

Ya, ini adalah masalah estetika dan bukan keselamatan. Meskipun  berada dalam kondisi yang sangat kaget dan terguncang, secara naluriah Annisa tahu, bukan keselamatan nyawanya yang dipertaruhkan.

Baiklah, ini bukan segala-galanya. Ia bernafas seperti biasa. Annisa hanya perlu keluar rumah hari ini seperti biasa. Dikenakannya jilbabnya yang panjang polos berwarna biru tua, beserta niqab yang biasa terpasang di wajahnya, menyisakan sepasang mata dan alisnya. Untunglah aku ber-niqab, pikir Annisa lega.

Untuk sesaat, Annisa fokus pada hal-hal yang mesti dilakukannya hari itu. Mengunjungi sekolah yang dimiliki oleh keluarganya dan rapat dengan para guru di sana. Memastikan bahwa renovasi gedung sekolah itu bisa segera dimulai, sebelum tahun ajaran baru datang. Mungkin ia akan ikut dalam pertemuan dengan kontraktor, yang artinya rapat beruntun. Setelah itu ia sebetulnya punya rencana untuk merawat diri  di salon khusus Muslimah, tapi tidak, sebaiknya dibatalkan saja, karena ia tidak mau membuat orang-orang terkejut dengan wajahnya. Ya, mungkin ia akan langsung ke supermarket dan belanja kebutuhan domestik saja.

Ia menyetir mobilnya perlahan, setengah melamun. Saat memasuki gerbang sekolah, entah kenapa jantungnya berdebar. Ia merasa tidak siap bertemu banyak orang dalam situasi seperti ini. Annisa melirik kaca spion atas, dan mendapati cadar yang menutupi wajahnya. Tak ada bedanya, Nisa. Tak akan ada yang tahu kau punya hidung atau tidak, ia berusaha meyakinkan diri.

Tiga orang anak berkerudung berlari menghampirinya ketika turun dari mobil, mereka mencium tangannya dengan takzim.

“Ibu Nisa… Ibu Nisa…” panggil anak-anak itu. Anak-anak itu mengenali mobilnya, dan karenanya sudah siap menyapanya.

Mereka mengenakan jilbab putih sederhana dengan muka dibiarkan terbuka. Mereka tersenyum ketika tangan Annisa membelai kepala mereka satu persatu. Pandangan Annisa jatuh pada hidung-hidung mereka.

Annisa masuk ke ruang rapat guru dan ia sudah dinanti di sana. Rapat berjalan, dan untuk sesaat ia berhasil melupakan masalahnya sendiri. Ketika waktu sholat tiba, Annisa mulai kembali teringat masalahnya. Tapi, ia memiliki ruang khusus di sekolah yang sangat privat, dan ia bisa sholat dengan leluasa tanpa khawatir ada orang yang memergokinya tanpa penutup muka.

Separuh hari itu dilaluinya, dengan perasaan seperti orang yang bersembunyi, seperti orang yang takut. Kamu harus kuat Nisa, kamu harus kuat, ulangnya pada diri sendiri. Dan begitulah Annisa menjalani hari itu, mencoba sedapat mungkin fokus kepada orang orang yang dihadapinya, mencari solusi untuk hal-hal yang harus mereka pecahkan, dan sering ia juga yang mesti mengambil keputusan terakhir.

Sekolah ini didirikan oleh orang tuanya dulu, dan merupakan amanat baginya untuk tetap mempertahankan keberlangsungannya. Annisa bersyukur, Razi memberikannya ijin untuk tetap mengelola sekolah ini, apalagi karena Razi mendukung visi sekolah untuk menciptakan generasi yang soleh, yang mengutamakan pendidikan agama di atas segalanya.

Hari itu hanya harus ditutup dengan berbelanja di supermarket. Bukan hal yang susah, pikirnya. Aku sudah melalui hari sejauh ini.  Tapi hari ini bagaimanapun ia jadi lebih peka berada di antara banyak orang.  Annisa mendapati beberapa orang meliriknya, dengan tatapan ingin tahu. Itu pasti karena cadarnya.

Menggunakan niqab bukanlah sesuatu yang sedemikian normal di Jakarta, tapi dia juga bukan satu-satunya. Setelah tiga tahun ber-niqab atas permintaan suaminya, Nisa sudah terbiasa berhadapan dengan sorot mata ingin tahu yang mengarah kepadanya. Apalagi jika mereka berada di restoran, akan lebih banyak lagi orang yang mengawasinya karena ingin melihat bagaimana caranya ia makan. Sungguh mengganggu awalnya, tapi Nisa sudah terbiasa, dan tidak peduli.

Awalnya, Nisa memang sempat membantah ketika Razi memintanya mengenakan niqab. Meskipun sudah berjilbab sejak remaja,  mengenakan niqab adalah satu langkah yang berbeda. Tapi menurut Razi itulah jalan yang lebih benar berdasarkan tuntutan agama.

“Menjalankan perintah agama itu harus kaffah, Ummi,“ ujar Razi mesra dengan panggilan sayang padanya. “Apalagi Ummi itu perempuan cantik, biar pun berjilbab juga masih terlihat jelas kecantikannya. Sementara aku sering bertugas keluar kota, aku tidak rela istriku jadi pandangan lelaki lain,” ujar Razi lembut kepadanya sambil membelai rambutnya. Dan sikap itu selalu saja membuat Nisa meleleh. Razi tidak pernah memaksakan kehendak, tapi membujuk dan menyadarkannya tentang apa yang benar dan apa yang harus dilakukannya sebagai seorang istri yang solehah.

Akhirnya, meskipun separuh hati, ia menuruti permintaan suaminya untuk ber-niqab. Memang benar juga seperti yang dikatakan Razi, ia merasa semakin aman dan terlindung dari pandangan laki-laki asing.

Memakai cadar, kadang menyulitkan. Ya seperti saat makan di tempat umum itu. Atau karena cuaca di Jakarta yang panas dan lembab. Juga ketika bertemu teman di mal atau tempat umum lainnya. Annisa harus berteriak lebih keras ketika melihat dan berpapasan dengan teman lamanya, yang tentu saja tidak bisa mengenali karena mukanya tidak terlihat.

Kadang juga, bila malas ia memilih tidak menyapa saja walaupun berpapasan dengan teman lamanya. Sebenarnya tidak ada bedanya, toh mereka juga tidak akan tahu. Tapi tetap saja ada menyelinap perasaan bersalah di dalam hatinya, apalagi bila orang tersebut sebetulnya pernah jadi teman baiknya.

Seperti hari itu, ia melihat jelas Arifin, seorang lelaki yang, uh, pernah dekat dengannya. Hm. Dekat,  ah, kata itu kurang menggambarkan situasi mereka. Tepatnya, Arifin pernah melakukan proses ta’aruf atau perkenalan dengannya selama beberapa waktu, sebelum akhirnya ia memutuskan menjatuhkan pilihan pada Razi.

Arifin hanya berdiri beberapa meter di seberangnya, sedang berada di area buah-buahan. Annisa tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Lelaki itu masih seganteng yang pernah ia ingat. Tubuhnya kini lebih berisi, tidak sekurus saat masa kuliah dulu.

Menyapa, tidak. Menyapa, tidak. Annisa tiba-tiba berada di dalam sebuah dilema. Ia masih memandangi Arifin yang memilah dan memilih jeruk dengan tenang, tanpa menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya dengan dada bergemuruh.

Begitulah, sebagai seorang yang ber-niqab, sering kali Annisa mengalami bahwa keputusan menyambung tali silaturahim berada di tangannya. Ia yang bisa menentukan akankah ia menyingkap siapa dirinya atau tidak. Andai ia tak memakai niqab, dalam jarak sedekat ini kemungkinan besar Arifin sudah bisa mengenalinya dan akan menyapanya lebih dulu—sehingga Annisa tidak perlu mengorbankan gengsinya. Tapi tentu saat ini, bayangan tidak memakai niqab dan bertemu pria masa lalunya, juga bukan hal yang akan menguntungkan.

Tidak di saat ia kehilangan hidungnya.

Sekarang, atau tidak sama sekali. Annisa menguatkan hati untuk menyapa Arifin. Ia akan mengucapkan salam dan menyapa lelaki itu, yang pasti akan mengenali suaranya bagaimanapun juga. Dan meskipun sesaat, Annisa bisa bercakap-cakap lagi dengan dia, dan melihat bagaimana reaksi lelaki itu bertemu dengan dirinya.

“Mas, lama banget? Yuk, nanti filmnya keburu mulai…,” seorang perempuan menghampiri Arifin dan mengusap punggungnya, tepat saat Annisa hendak melangkah mendekat.

Perempuan itu, cantik. Tidak berjilbab, berpenampilan seperti perempuan profesional muda, dengan alis yang dilukis rapi dan lipstik pink terang. Annisa masih sempat melirik hidung mungil perempuan itu yang tampak serasi dengan mukanya yang bulat telur.

Dengan langkah gontai, Ia pun membalikkan badan dan berjalan menuju kasir. Istrinya? Pacarnya? Yang jelas dari bahasa tubuhnya mereka pasti dekat.  Pertanyaan yang muncul dengan deras di dalam kepalanya adalah, bagaimana mungkin Arifin bisa dekat atau berpasangan dengan perempuan yang bukan dari kelompok mereka? Dulu Arifin salah satu pentolan kelompok pengajian yang paling disegani, paling teruji ketekunan beribadah dan semangat membela agama. Mengapa perubahan terjadi begitu cepat? Apakah karena gagal menikah dengannya dulu?

Annisa pulang ke rumah, masih dengan perasaan galau. Ia merindukan Razi, tapi suaminya itu belum akan pulang malam ini. Ia harus tidur sendiri lagi, dan ia merasa begitu resah. Saat sholat ia menangis sendu, merasakan hampa.

Ia mengirimkan pesan singkat kepada suaminya.

Abi, Ummi rindu. Tidak sabar menunggu Abi pulang.

Abi, kalau Ummi sudah tidak cantik, Abi masih cinta Ummi? 

Pesannya tidak terbaca. Di lokasi bekerja suaminya, memang sering mengalami susah sinyal. Annisa hanya bisa menarik nafas dalam, dan mencoba tertidur. Di dalam mimpinya, ia seperti melihat seseorang sedang menggambar sketsa wajahnya, dengan rambut yang bergelombang tergerai. Rambut yang sengaja dibiarkannya panjang atas permintaan suaminya. Ia seperti berdiri, dari balik punggung si pelukis, mengamatinya yang sedang menyempurnakan lukisan wajahnya, dan sempat mengagumi kecantikannya sendiri pada lukisan itu. Lukisan yang hampir jadi seutuhnya.

Lalu Annisa terkejut, karena tiba-tiba sang pelukis memulas cat putih pada hidungnya, merusak lukisan wajahnya.

“Jangaaan, kenapa? Jangan!“ Ia merasakan tangannya mengguncang bahu si pelukis.

Namun pelukis itu bergeming. Malah ia terus menggerakkan kuasnya ke area mulutnya. Maka rusaklah lukisan wajahnya yang cantik tadi, meninggalkan sepasang mata indah. Pelukis itu meletakkan kuasnya tepat di atas mata itu. Seperti sedang menimbang-nimbang. Menunggu ketetapan hati.

“Jangan… jangan…,” Annisa kembali mengguncang tubuh pelukis itu. Saat itulah ia terbangun. Sesaat ia tidak menyadari, masih malamkah itu? Sudah masuk waktu fajar kah? Apakah ia melewatkan adzan subuh?

Annisa merasakan sisa air mata yang mengering di pipinya. Ia meraba-raba mukanya, dengan gerakan yang ragu-ragu dan cemas. Ia meraba tempat yang tadinya dalah hidungnya, dan ia tak bisa merasakan apa-apa. Jari jemarinya bergerak perlahan, hendak merasakan bibirnya.

Jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia tidak bisa merasakan bibirnya lagi. Ia menggerakkan mulutnya dan merasakan hembusan nafasnya sendiri dari lubang itu. Tapi ia tidak bisa merasakan bibirnya. Annisa merasa seluruh tubuhnya lemas. Dengan sisa-sisa kekuatan, ia menyeret dirinya ke cermin.

Annisa melihat wajahnya, atau tepatnya sisa-sisa dari wajahnya. Lubang bekas hidung dan lubang mulut. Sepasang mata yang mengecil karena habis menangis, tertutup sisa kelopak. Hanya alis tipisnya yang masih tersisa di wajahnya. Tak ada seorangpun lagi yang akan mengenali wajah itu sebagai wajahnya. Tidak juga dirinya sendiri. Annisa  menangis sejadi-jadinya.

Namun ketika matahari sudah tinggi, Annisa sadar masih banyak tugas yang menunggunya di luar sana. Maka ia mengumpulkan kekuatan dirinya, mengenakan jilbabnya, dan mengenakan niqab-nya. Pergi keluar rumah, dan menjalankan rutinitasnya. Sebelum menjalankan mobilnya, ia mendapati pesan singkat pada telepon selulernya.

Abi cinta Ummi, bagaimanapun juga. Jaga diri ya Ummi. Sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang solehah. Dan istri solehah adalah istri yang menaati perkataan suaminya.

Annisa menghela nafas panjang. Ia hanya berharap dirinya tetap perhiasan terindah bagi suaminya. Meskipun ia sudah dan mungkin akan semakin, kehilangan wajahnya.  

Sumber: Feby Indirani: Bukan Perawan Maria; Paperback, Pabrikultur, 2017

© Feby Indirani

Yusi Avianto Pareanom: Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih

Anwar Sadat menemui ajalnya pada hari pertama ia menginjakkan kaki di Jakarta. Ia datang dari Semarang. Usianya pada hari naas itu 28 tahun.

Anwar dinamai ayahnya mengikuti Presiden Mesir Muhammad Anwar El Sadat. Ayahnya memiliki alasan mengapa ia memilihkan nama itu dan bukannya Gamal Abdul Nasser atau Husni Mubarak. Sepekan sebelum Anwar dari Semarang lahir, Anwar Sadat yang presiden tewas diberondong peluru oleh tentaranya sendiri. Menurut berita, kematian itu sebetulnya bisa dihindari jika Anwar Sadat ersedia mengenakan rompi antipeluru seperti usulan penasihatnya. Sang presiden menolak karena menganggap hanya pengecut yang memakainya.

“Sungguh laki-laki pemberani,” kata ayah Anwar dari Semarang dengan kagum.

Maka, begitu anaknya lahir nama itu langsung ia pilih dan banggakan. Ia menyisihkan nama-nama mewah untuk ukuran kampungnya yang jauh hari sebelumnya sudah ia siapkan: Franz, Johan, Mario, dan Diego Armando.

Meleset dari harapan ayahnya, Anwar Sadat dari Semarang tumbuh tak seheroik presiden bernasib celaka itu. Pembawaannya halus sehingga sering dijadikan olok-olok temannya. Dalam permainan apa pun perannya selalu sebagai anak bawang.

Ketika usianya sepuluh tahun, Anwar diajak berkereta api ke Surabaya. Sepanjang perjalanan ia pucat pasi. Orang tuanya mengira anaknya sakit karena telat makan. Sebetulnyalah, Anwar merasa nyawanya nyaris melayang setiap kali kereta melintasi jembatan. Perjalanan pulang Anwar merengek sehebat-hebatnya meminta naik bus.

Anwar menderita gephyrphobia—takut menyeberang jembatan karena prasangka
bangunan itu bakal runtuh—sebagian. Jembatan biasa tak menakutkannya, tapi jembatan kereta api benar-benar merampas nyalinya. Ketidaktahuan Anwar ataupun orang tuanya mengenai nama kondisinya tak mengurangi gemetar dengkul Anwar
tiap kali jembatan kereta api terlihat. Derita Anwar makin bertambah karena ia juga mengidap sekian ketakutan lain, dari yang umum seperti hemophobia atau takut darah, iatrophobia atau takut dokter, claustrophobia atau takut ruang sempit, sampai yang
sedikit melankosis yaitu ombrophobia atau takut rintik hujan. Setidaknya, kalau bisa disebut demikian, Anwar tak terjangkit optophobia, takut membuka mata, kondisi yang memungkinkan penderitanya mencakar atau mencungkil matanya sendiri, baik dengan tangan kosong, paku, atau garpu selada.

Sekian ketakutan itu tak pelak membuat Anwar lebih senang berkutat di rumah dan kotanya. Ia cukup bahagia bekerja menjaga warung kelontong milik ayahnya.

Beberapa pekan sebelum kematian Anwar, ayahnya mendapat telepon dari kerabatnya di Jakarta. Katanya, ada seorang perempuan muda, 24 tahun, janda ditinggal mati tanpa anak, yang cocok dipasangkan dengan Anwar Sadat yang masih lajang. “Anaknya baik, putih, pendiam, hemat, suka berkebun, suka merajut, pintar masak, hapal Yaasiin
pula,” kata kerabat ayah Anwar berpromosi.

Ayah Anwar senang sekali, ibu Anwar setali tiga uang girangnya. Anwar diminta datang ke Jakarta. Kenalan dulu, sekiranya cocok hubungan bisa diteruskan. Sekiranya tidak, silaturahmi sudah terjalin.

Anwar mematuhi perintah orang tuanya dan berangkat ke Jakarta. Sebetulnyalah ia jeri pergi sendiri. Namun, ia malu jika dianggap penakut dan ia agak gembira juga membayangkan punya pasangan hidup. Malam sebelum perjalanan, kecemasan dan kegembiraan tak berhenti bertamu sehingga ia tak berhasil tidur sama sekali. Maka, ketika akhirnya Anwar berangkat dengan bus paling pagi, kantuk yang hebat menyerangnya. Sialnya, kantuk ini ternyata tak berhasil ia musnahkan dengan tidur karena kecemasan apa yang bakal terjadi sepanjang perjalanan.

Pukul setengah tiga sore Anwar sampai di Teminal Pulogadung. Sesuai petunjuk, ia
kemudian berganti metromini menuju Senen. Rumah kerabatnya berada di kawasan Kramat. Di metromini, tanpa ia maui rasa kantuknya tak tertahankan lagi. Ia terbangun ketika seseorang mengguncang bahunya dan berkata, “Mas turun, kita dioper ke metromini depan.” Mereka berada di kawasan Cempaka Putih. Grogi, Anwar turun tergesa-gesa. Seruan kondektur metromini yang berjarak sepuluh meter di depan makin membuatnya gugup. Ketika sandal kanan merek Lily yang dipakai Anwar menapak titik yang jaraknya tepat lima meter dari awal, sandal kirinya yang berada di belakang menginjak pasir halus. Anwar tergelincir. Kalau saja ia membiarkan grativasi bekerja, nasibnya mungkin lebih baik. Tapi, Anwar berusaha melawannya dan saat
berjalan terhuyung-huyung menyeimbangkan diri itu ia menabrak seorang perempuan yang baru saja berjalan keluar dari mulut jalan kecil yang terletak di antara dua metromini.

Tangan Anwar mampir ke dada perempuan itu. Sama-sama kaget, keduanya berteriak. Masih grogi, tangan Anwar justru menggelincir ke pinggang perempuan itu.

“Copet!” teriak perempuan itu.

Kebingungan, Anwar tersenyum.

“Kurang ajar!” seru satu dari sekian laki-laki yang duduk bergerombol di depan jalan.

Ketika gerombolan orang itu mendatanginya, Anwar mengeluarkan air mata. Ia mendadak rindu kepada sup ayam dan perkedel daging buatan ibunya, dongeng-dongeng ayahnya, dan senyum calon istri yang belum pernah dijumpainya.

***

Lena Mareta tak sempat melihat pukulan pertama yang mendarat di kepala Anwar. Ia sudah naik taksi saat itu. Tepat tiga detik setelah Anwar menabraknya sebuah taksi terlihat dan ia langsung melambai dan membuka pintu. Tentu saja ia masih kesal karena ada tangan laki-laki tak diinginkan singgah di tubuhnya. Tapi, ada hal lain yang lebih menggusarkannya yang membuatnya ingin segera berlalu dari tempat itu.

“Boleh merokok?” tanya Lena.

“Sebetulnya tidak,” kata sopir taksi, matanya melirik Lena melalui spion.

Lena membuka kaca jendela dan menyalakan rokoknya. Semestinya sore ini menyenangkan kalau si anak bau susu tolol itu tak bikin gara-gara!

Sesungguhnyalah Lena menantikan sore ini. Bahkan, ia mengambil cuti. Pagi ia mandi, setelah makan siang ia mandi lagi. Ia tak terlalu suka bersolek tetapi sangat senang mewarnai kukunya. Maka, setelah mandi yang kedua, ia membuka kotak pemulas kukunya. Ada empat baris dengan sepuluh warna setiap barisnya. Baris pertama: merah jambu biji, merah ungu bawang Brebes, merah hati sapi yang masih segar, merah Harajuku, merah Mangga Besar, merah setrup soda gembira, merah haid
pertama, merah marun, merah ludah campur sirih, dan merah gincu Joker. Baris kedua: biru telur asin, biru samurai, biru langit awal musim dingin, biru kostum Chelsea, biru memar maling kena bogem, biru mesum, biru kehijauan, biru lapis lazuli, biru tinta bolpen Pilot klasik, dan biru jins stonewash Cibaduyut. Baris ketiga: kuning bunga matahari, kuning durian mentega, kuning padi muda, hijau lumut, oranye kunyit, oranye jeruk pontianak, coklat batu bata, coklat teh kental, putih telur ceplok, dan putih pualam. Baris keempat: sembilan hitam rambut Joan Jett dan satu transparan berkilauan. Lena memilih yang terakhir.

Malam sebelumnya, Jamal, pacar Lena, pulang dari perjalanan tiga minggu pendakian Gunung Elbrus di Rusia. Lena tak sempat menjemputnya. Lena sebetulnya sudah ingin mendatangi rumah pacarnya di Cempaka Putih itu tadi pagi, tapi ia menahan diri karena Jamal bilang ia pasti masih tidur.

Lena dan Jamal sudah berpacaran selama empat bulan. Mereka sudah tidur bersama sembilan belas kali. Pada bulan kedua, Lena sebetulnya sudah sadar bahwa banyak ketidakcocokan di antara mereka. Bukan karena usia Jamal yang baru 21 tahun, lebih muda enam tahun darinya, melainkan obrolan dengannya benar-benar tak mendatangkan ilham. Bagi Lena, kemudaan bukan alasan seseorang boleh terus-menerus berkata tolol. Hanya saja, Jamal tak pernah mengecewakannya untuk urusan yang satu itu. Lena masih ingin menikmati sekaligus digarap Jamal.

Di kamar Jamal, awalnya, semua berjalan seperti yang dibayangkan Lena. Namun, Lena
girang kepagian. Tangan Lena yang hendak menjangkau kait bra di punggung terhenti saat ia melihat Jamal yang sudah duduk telanjang di ranjang melambaikan tangan kanan di atas perabotnya seperti seorang konduktor selesai beraksi.

“Nona Lena, kau sudah sering bertemu, tapi belum kenalan resmi. Ini John, ini George dan Ringo,” kata Jamal tertawa-tawa sembari menunjuk batang, biji kiri, dan kanannya.

“Mana Paul?” tanya Lena, tersenyum.

“Apa maksudmu?”

“Masa ia ditinggalkan?”

“Bijiku cuma dua, Len.”

“Kenapa bukan ia yang menjadi tiang?”

“Perusak band itu, yang benar saja!”

Pertengkaran pecah. Lena sakit hati. Baginya, tanpa Paul McCartney tak akan ada The Beatles, sehebat apa pun John Lennon. Lena jatuh cinta kepada Beatles karena Paul. Sewaktu kecil, ketika ia sedang sedih-sedihnya karena kematian ayahnya, lagu-lagu slow Beatles yang dikarang Paul yang paling menghiburnya. Ia bukannya tak suka kepada John, ia menghormatinya malah, tapi cinta pertamanya tetap kepada Paul. Maka, ketika Jamal mencela Paul, ia tak terima. Saat Jamal, betapa pun lambannya dia, menyadari bahwa pertengkaran itu tak ada gunanya dan ia ingin berbaikan karena si John miliknya betul-betul kepengin segera bertanding, semua sudah terlambat. Lena kadung mutung dan meninggalkan kamarnya.

Setelah rokok kedua habis, senyum pertama Lena terbit. Kenapa aku harus marah? Bukankah malah menghina kalau Paul dijadikan salah satu nama perkakas anak ingusan itu? Lena ingin balik tetapi gengsi menghalanginya.

“Ke Ragunan, Pak, kebun binatang,” kata Lena, akhirnya. Semula ia hanya mengatakan
‘jalan’ kepada sopir taksi.

“Sudah sore, Mbak.”

Lena tak menjawab sehingga sopir itu pun tak berani berkata-kata lagi.

Selain lagu-lagu Paul, yang paling menghibur Lena sejak kecil adalah menonton hewan-hewan bengong di kebun binatang. Dahulu favoritnya adalah tapir karena ketidakjelasan masuk keluarga hewan yang mana. Ibunya tak bisa memberi keterangan, pula kerabatnya. Tapir juga mempesona Lena karena tampak sedemikian malas. Ketika beranjak besar, Lena dengan mudah bisa mencari tahu keingintahuan masa kecilnya dan tapir tak lagi menggelitiknya. Saat ini Lena sedang senang jerapah karena satu fakta: jerapah tak memiliki pita suara. Leher sepanjang itu, tapi betapa pendiamnya.

Sopir taksi tak salah ketika bilang hari sudah sore karena petugas penjualan tiket di Ragunan juga mengatakan hal yang sama. Waktu yang tersisa tinggal empat puluh menit saja. Lena tak keberatan, ia hanya ingin menengok jerapah yang kandangnya
tak jauh dari pintu masuk.

Sore menjadi lebih gelap ketimbang biasanya karena mendung. Ternyata, setelah sepuluh menit Lena sudah bosan. Ketika ia ingin beranjak, seorang perempuan—mungkin beumur 70 tahunan, pikir Lena—menarik perhatiannya. Sebentar-sebentar
perempuan itu bergantian memandang langit dan perdu di depannya.

Yang tidak Lena ketahui, perempuan tua itu sedang menguji pengetahuannya tentang
meteorological botanomancy, menebak gejala langit melalui perubahan gerak tanaman. Ilmu ini sangat sulit, bahkan bagi perempuan yang sudah menguasai fructomancy atau tafsir bentuk, pergerakan, dan reaksi buah-buahan, dendromancy
atau tafsir pepohonan, phyllomancy atau tafsir dedaunan, dan xylomancy atau tafsir batang dan cecabang pohon ini.

Lena mengamati terus karena wajah perempuan tua itu mengingatkannya kepada
seseorang. Akhirnya, Lena memberanikan diri.

“Ibu Reni?”

Perempuan tua itu tersenyum. “Bukan, saya Esti. Reni kakak kembar saya.”

Lena berjalan mendekat dan mencium tangan Esti. Ia tak menyangka bisa bertemu adik kembar orang yang pernah sangat berjasa kepada keluarga mereka. Dua puluh tahun yang lalu, ketika ibu Lena terserang stroke parah, Ibu Reni yang berpraktek di Semarang yang menyembuhkannya dengan gabungan pengobatan herbal dan totok jari.

***

“Guru, ceritamu sungguh penuh dengan kebetulan!”

Laki-laki yang dipanggil guru itu tertawa keras di tempat duduknya. Aku yang berada di
sampingnya ikut tergelak. Di hadapan kami duduk lima atau enam muridnya. Aku menyebutnya demikian karena guru itu sebelumnya bilang kepadaku bahwa dari enam orang yang belajar mengarang kepadanya yang seorang terdaftar resmi tetapi hanya ikut sekali dari dua belas pertemuan sementara yang seorang lagi tak terdaftar dan iseng ikut atas ajakan temannya dan lantas memanfaatkan kebaikan guru itu untuk masuk kelas terus dengan percuma sejak pekan kedua.

“Bukankah kalian yang bilang bahwa kebetulan bisa betul-betul terjadi dalam kehidupan nyata?” kata guru itu setelah reda tawanya.

Dalam perjalanan sebelum bertemu kami, enam orang itu membicarakan panjang lebar— ngrasani, tepatnya—seseorang laki-laki muda, vokalis band punk, yang pernah dekat dengan salah seorang dari mereka. Mulai lagu-lagu yang pemuda itu sukai dan mainkan sampai, bahkan, warna kulitnya yang semasa pacaran terlihat cerah dan sesudah putus menjadi lebih gelap. Mereka lupa siapa yang memulai pembicaraan. Hanya saja, mereka sama sekali tak menduga kejadian berikut. Ketika mobil mereka berhenti di lampu merah, sebuah sepeda motor berhenti di samping kiri mereka. Salah seorang yang kebetulan menoleh langsung berteriak kaget karena yang ia lihat tak lain adalah laki-laki yang sedang mereka bicarakan.

Laporan soal kejadian itu masih panjang lagi
tetapi intinya mereka ingin agar kebetulan boleh mereka pakai dalam cerita-cerita mereka. Guru itu tersenyum dan bilang akan membuat cerita dengan kebetulan di sana-sini dan meminta lima atau enam muridnya menilai bagus tidaknya.

Di sini, sebetulnya aku ingin menuliskan bahwa setelah mendengar protes muridnya
guru itu mengambil napas, memejamkan mata, mendengarkan bisikan angin dan burung di kejauhan, lalu meluncurkan kisah di atas. Aku ingin membuat guru itu terlihat keren karena banyak upaya yang sudah ia lakukan untuk tampil demikian—termasuk memirangkan rambut, memakai anting berlian di kuping kiri, dan memakai sepatu dan topi yang serasi dan sewarna—sama sekali tak berhasil. Tapi, rasanya gambaran itu jadi kurang masuk akal karena kami sedang berada di sebuah kafe di Senayan City. Yang terjadi adalah guru itu meminta waktu sekitar dua jam, murid-muridnya gembira
menurutinya dengan menonton Inception. Aku ikut mereka.

“Lantas, bagaimana kelanjutannya, Guru?”

“Kebetulan, aku ingin kalian yang meneruskan.”

Enam orang itu bersungut-sungut tetapi patuh. Tiga orang bekerja dengan laptop sementara sisanya mencoret-coret di atas tisu yang kebetulan cukup tebal untuk ditulisi. Setelah dua puluh menit, seorang yang menulis di atas tisu menyerahkan
karyanya kepada guru itu. Aku ikut membaca dari balik pundaknya.

Begini ceritanya.

***

“Anwar, ayo siap!”

Anwar Sadat gemetar. Ia sama sekali tak ingin berada di selokan di tepi jalan raya itu. Tapi, teman-temannya memaksa. Salah seorang segera mengangsurkan katapel kepada Anwar, yang lain sibuk membuat peluru dari tanah liat. Anak-anak kampung Anwar sedang senang-senangnya melakoni permainan baru, menembaki mobil
yang melintas dengan katapel mereka. Kalau ada pengemudi atau penumpang yang kaget, girang betul hati anak-anak itu. Apalagi kalau pengemudinya marah dan turun mengejar mereka. Anwar ikut karena janji Tamsi, anak yang mengajaknya bersembunyi di selokan, bahwa anak itu bakal melindunginya di sekolah. Semasa kelas satu dan dua SD sebelumnya, Anwar selalu jadi sasaran ejekan kawan-kawannya karena berat badannya yang sangat berlebih. Janji Tamsi yang berbadan jangkung itulah yang membuatnya memberani-beranikan diri ikut memegang katapel.

Tak sampai tiga menit, semua anak sudah siap. Ketika sebuah sedan Impala melaju dari arah utara, Tamsi menepuk pundak Anwar sebagai pengganti ucapan ‘sekarang giliranmu’.

Memejamkan mata, Anwar menembak. Peluru tanah liat itu tepat menghantam gagang kaca mata kanan si pengemudi. Tembakan itu tak melukai tapi sangat mengagetkan laki-laki yang memegang setir itu. Dua penumpang, seorang perempuan berwajah
pucat dan seorang anak perempuan bersama-sama menjerit ketika pengemudi itu membanting setir dan sedan itu menghantam pohon. Terdengar suara keras, tak ada suara dari dari dalam mobil. Setelah sepuluh detik terpaku, anak-anak segera kabur. Tamsi menarik tangan Anwar yang masih mematung.

Pria yang memegang setir berlumuran darah, keningnya pecah. Perempuan yang berparas pucat pingsan, sementara si anak perempuan tersadar dan mulai menangis. Anak itu bernama Lena Mareta.

Sumber: Yusi Avianto Pareanom: Grave Sin #14 And Other Stories. English translations by Pamela Allen
German translations by Jan Budweg, Nele Quincke, Susanne Ongkowidjaja. Jakarta, 2015 Raden Mandasia Si Pencuri Daging. Banana Publishing, Jakarta, 2016, hal. 201-217;

© Yusi Avianto Pareanom

Agus Sarjono: Airmata Hujan

Jangan bidikkan aku, ronta Bedil sambil menggigil. Diam!
Bentak Tangan. Aku harus meledakkan anak-anak itu.
Tapi mereka masih belia! Lihatlah senyumnya yang muda
dan mereka tidak meminta selain kesejahteraanmu juga.
Bukankah engkau sering mengumpati gaji yang tak cukup
nafas hidup yang sempit, hingga harus berderap kian-kemari
mengutip sesuap nasi.

Jangan bidikkan aku, raung Bedil. Diam!
Ini bukan persoalan pribadi, hardik Tangan.
Ini masalah politik. Satu dua nyawa
sebagai taktik. Tapi ini bukan soal angka,
bukan soal satu dua
tapi soal ibu meratap kehilangan,
soal dimusnahkannya satu kehidupan
soal masa depan manusia yang dibekam. Soal hak …
Tutup mulutmu barang dinas! Kamu hanya alat

dan jangan berpendapat. Itu urusan politisi di majelis sana.
Tapi mereka hanya bahagia! Sergah bedil.
Mereka tak pernah peduli padamu, pada mereka,
pada yang miskin dan teraniaya.
Mereka tak mengurusi siapa-siapa
selain dirinya. Dor! Bedil itu tersentak. Jangan …
D or .. dor .. dor .. dor…  Selesai  sudah

gumam Tangan. Bukankah ini sudah berlebihan, isak Bedil.
Entahlah, gumam Tangan, aku tak tahu. Aku penat.
Aku hanya ingin istirahat. Semoga istri
dan anak-anakku di rumah sana
semuanya selamat.

Bedil itupun menjelma hujan. Tak putus-putusnya
mencurahkan airmata. 

1998

Sumber:  Agus Sarjono: Suatu Cerita Dari Negeri Angin. komodo books 2001,2003, hal. 49-50

© Agus Sarjono