Archiv der Kategorie: Texte

Taufiq Ismail: In welchem Ozean ist es versunken

Ich bin unterwegs auf der Suche nach Ehrlichkeit
Keine Ahnung, wie ihre Adresse lautet

Ich gehe los, um Schlichtheit zu suchen
Ich weiß nicht, wo sie sich versteckt

Ich frage mich, wo die Verantwortung ist
In welchem Meer ist sie versunken?

Ich bin unterwegs auf der Suche nach Geduld
In welchem Dschungel ist sie verschwunden?

Ich bin unterwegs auf der Suche nach Aufrichtigkeit
Sie scheint da zu sein, aber wo nur?

Ich bin unterwegs auf der Suche nach Frieden
In welchem Himmel fliegt er?

Ach Ehrlichkeit und Schlichtheit
Ach Verantwortung und Geduld

Ach Aufrichtigkeit und Frieden
Wo seid ihr jetzt nur geblieben?

Die heutige Zeit vermisst euch sehr
Die heutige Zeit vermisst euch sehr.

2010

Quelle: Taufiq Ismail: Staub auf Staub. Übersetzt von Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann; Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 300

© Taufiq Ismail, Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann

Faisal Oddang: Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon?

Aku tumbuh menjadi pohon. Orang-orang di kampung kami akan tetap percaya bahkan jika harus didebat hingga mulut berbusa. Mereka mulai memercayainya sejak tahun 1947. Kini, pohon asam itu sudah besar dan semakin tua. Kira-kira dapat diukur dengan lima orang dewasa melingkarkan lengan untuk mampu memeluk batangnya. Hampir setiap hari orang merubut di sana mengucapkan doa yang rupa-rupa jenisnya lantas mengikatkan kain rupa-rupa warnanya dan berjanji membuka ikatan itu setelah doa mereka terkabul. Jadi jangan heran ketika di ranting, dahan, batang, atau tidak berlebihan jika kukatakan hampir semua bagian pohon penuh ikatan kain. Ada banyak doa di sana. Demi menjaga tubuhku, ada pagar beton sedada manusia, berwarna hijau lumut, mengelilingi batang pohon. Para pedoalah yang membangunnya.

Ketika perang kembali pecah, awal 1947, yang orang-orang temukan tentu saja bukan pohon asam, tetapi kira-kira seperti ini: kami bergerombol digiring seperti kerbau. Kaki tangan kami dikekangi tali dari pilinan daun pandan. Bedil Belanda menuntun dengan moncongnya–dan sesekali mempercepat langkah kami dengan popor yang mendarat di tengkuk atau tulang kering. Kami tahu, beberapa saat lagi hidup kami akan direnggut satu demi satu.

***

Desember 1946 baru saja dimulai ketika sebuah kabar tiba di langgar tempatku setiap hari mengajari anak-anak mengaji. Aku memberi isyarat kepada Rahing; jangan sampai anak-anak dengar, kataku memelankan suara sambil berdiri menuju belakang langgar yang kemudian disusulnya. Anak-anak kuminta melanjutkan bacaannya, nanti Bapak kembali, janjiku kepada mereka. 

„Mereka tiba di Makassar,“ suara Rahing tidak pernah secemas itu, „pasukan tambahan, tambahannya banyak,“ susulnya gemetar.  „Siap-siap saja,“ kucoba setenang mungkin meski dadaku tentu saja kembali bergolak. Dari Makassar baru saja kudengar kabar kalau mereka kembali ingin menguasai pusat-pusat perlawanan di Sulawesi-Selatan, kabar itu tiba beberapa minggu sebelum Rahing menyusulkan kabar tentang ketibaan pasukan khusus Depot Speciale Troepen—DST, KNIL, yang mulai bergerak ke kampung kami ini; di Bacukikki, jantung Afdeling Parepare.  Bersama Rahing, bersama Laskar Andi Makassau lainnya, aku pernah berjuang sebelum kemerdekaan–dan ketika semuanya telah kami rebut, penjajah laknatullah itu kembali. Sebelum pulang, Rahing sempat menanyakan bagaimana langgar, bagaimana anak-anak, dan sedikit mengeluh bahwa ia telah capek mengawal penduduk keluar masuk hutan. Aku menepuk pundaknya sebelum mengatakan: Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja.  „Saya pamit, assalamualaikum, Ustad.“  Aku menjawab salam Rahing lantas memenuhi janji pada anak-anak. Sayup-sayup kudengar mereka mengeja hijaiah dengan bahasa Bugis yang membuat bola mataku terasa hangat; yase’na lefue nakkeda a, yase’na lefue mallefa nakkeda aaa…. Aku mengenang bocah lima tahunku yang gugur lebih awal–dan air mata tidak lagi bisa kucegah  membuat lurik di pipiku. 

*** 

Setelah kabar dari Rahing–susul menyusul kabar tiba dari anggota laskar yang satu ke anggota laskar yang lainnya. Seperti suara desingan peluru beberapa tahun lalu, kabar duka dari Makassar tak henti-hentinya mendera. Kabar pertama tiba dari Borong dan Batua, keduanya diduga tempat berlindung pemberontak–dan berbagai macam alasan tak masuk akal lainnya. Setelah itu, disusul daerah-daerah lainnya, di Gowa dan Takalar, dan tentu kabar buruk itu tiba tanpa pernah luput mengikutkan jumlah korban jiwa. Sebentar lagi mereka menuju ke sini, begitu laporan salah satu anggota laskar pada suatu malam, di langgar, ketika tidak ada lagi aktivitas mengaji sejak pemerintah Belanda mengeluarkan surat edaran dan pernyataan darurat perang. „Anak-anak, Bapak akan memanggil kalian lagi kalau waktu mengaji sudah tiba. Sekarang libur jadi kalian belajar di rumah saja dulu, ya…“  Aku mengkhawatirkan mereka dan kecemasanku semakin menjadi-jadi dari hari ke hari. Seperti pelaut yang tak pernah berhenti mencemasi angin limbubu. Rapat kami gelar hampir setiap malam, menjelang Isya bahkan tak berujung hingga Subuh tiba, rapat bukan sekadar rapat sebenarnya; kami berjaga. Sebagai pimpinan Laskar Bacukikki yang berada di bawah Laskar Andi Makassau sebagai pusat perjuangan rakyat Parepare, akulah yang menyiapkan tempat, dan selalu akulah yang memimpin rapat. Itu menjadi alasanku meminta anak-anak mengaji di rumah mereka, selain karena tidak ingin membahayakannya.  „Kita harus sadar diri, Ustad.“  Hening yang lama, bahkan aku berhasil mendengar desah napasku sendiri. Masih hening, tidak ada yang menimpali apa yang Rahing maksudkan dengan sadar diri, tetapi kemudian ia menjelaskan meski tak seorang pun yang meminta penjelasannya.  „Kita kalah jumlah, kalah senjata, kalah pokoknya…“  Jelas sekali, Rahing tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Ia baru saja menikah, aku tahu karena aku yang menjadi penghulunya, aku juga tahu ia bukan mencemaskan dirinya sendiri. Ada istri–dan barangkali ada janin yang tengah ia khawatirkan. Hal itulah yang membuatku hanya bisa diam dan sesekali mengangguk seperti tekukur mengantuk. Bayangan perjuangan sebelum kemerdekaan, bayangan Fatimah istriku, bocah lima tahunku Akbar, dan ingatan-ingatan lainnya kembali menghangatkan bola mataku. Teriakan tolong Akbar, teriakan Allahu Akbar Fatimah, dan teriakan keduanya setelah granat  menghancurkan rumah panggung kami malam itu. Aku dituduh melatih anak-anak menjadi pemberontak hanya karena mengajari mereka mengaji–dan setelah kehilangan segalanya, aku benar-benar memutuskan memberontak, memimpin laskar dan berhasil meraih kemerdekaan. Ketika merasa semuanya telah selesai, aku mengumpulkan kembali anak-anak,  mereka kembali mengeja alif-ba-ta, dengan terbata–dan lagi-lagi, kini harus berhenti. 

*** 

Pertengahan Januari, sebulan setelah kabar dari Rahing, mereka menuju kampung kami. Waktu itu musim hujan baru saja tiba–tetapi tak ada yang berani menggarap sawah. Semua takut meski beberapa yang lain memberanikan diri, termasuk aku. Matahari tidak akan tenggelam selain di ujung langit, begitu pula hidup takkan berakhir selain oleh ajal. Aku meyakinkan diri berkali-kali, menatap biasanku di cermin, mencari-cari kalau sampai ada anggota tubuh yang hilang dalam biasan. Semuanya lengkap, dan begitulah orang Bugis menyakinkan diri sebelum berperang. Janggutku lebat, uban mulai tumbuh di sana, di rambutku juga, meski memang seharusnya lelaki lima puluhan  wajar jika beruban. Mataku sangat sayu dan tulang pipiku semakin menonjol, biasan juga menampakkan luka besar di pelipisku, bekas serpihan granat malam itu.  Ya Hayyu, Ya Qayyum–wahai yang maha hidup, wahai yang maha berdiri sendiri, aku mengucapkannya di dalam hati, berkali-kali, sampai aku merasa benar-benar siap. Meski berkali-kali pula terhenti karena batukku yang semakin parah juga rutin mengeluarkan dahak darah. Diriwayatkan, Rasulullah mengucapkannya berkali-kali saat Perang Badar, saat tak tidur semalaman menunggu orang-orang Quraisy.   Pintu digedor keras oleh seseorang yang tampak buru-buru. Benar saja, ketika kubuka, kutemukan Rahing tampak pucat sebelum terbata-bata mengatakan bahwa Si Jagal Dari Turki sudah di perbatasan dan berusaha ditahan oleh laskar, ia kemudian melanjutkannya dengan; saya harus amankan istri saya dulu, Ustad, maaf. Detik pertama setelah kalimatnya selesai, amarahku hampir memuncak. Egois sekali! Namun, sebuah kenangan memaksaku takluk, aku tidak ingin menyampirkan luka yang sama di pundak Rahing.  „Begitu selesai, gabunglah segera,“ timpalku hampir berteriak menyusul langkahnya yang tergesa-gesa.  Aku menuju perbatasan bersama lebih kurang dua puluh anggota Laskar Bacukikki lainnya di tengah deras hujan yang belum berhenti dari kemarin sore. Namun, seperti ajal yang tak mampu kami tebak tibanya, keadaan berubah, pertahanan di perbatasan kalah, kami terdesak masuk bersembunyi di rumah-rumah penduduk. Hal itulah yang kusesali. Penduduk yang menampung kami waktu itu juga digiring seperti kerbau ke tengah lapangan ketika sore hampir selesai. Tidak peduli perempuan dan anak-anak, tidak peduli tua dan muda.  Kami berbaris di lapangan dengan lutut menumpu di tanah dan tangan kami dikekang ke belakang. Ratusan orang diam tanpa mampu mengelak apalagi melawan, dadaku seperti pendiangan menyadari semua itu. Seseorang yang tampak sebagai pemimpin DST menuju kerumunan. Ia memerhatikan wajah kami satu per satu dalam remang, siapakah yang tengah ia cari? Aku bertanya-tanya di dalam hati. Tatapannya dingin, ia tidak seperti yang lain; yang menyeringai penuh ejekan kepada kami. Wajahnya hampir tanpa ekspresi. Mungkin.., mungkin, dia yang Rahing sebut sebagai Si Jagal Dari Turki itu? Westerling yang dilaknat Allah? Dadaku semakin panas, namun aku kini seperti burung patah sayap patah paruh. Ia masih menyelidiki wajah kami satu per satu dengan diam. Tangannya memegang Browning P-35 yang sesekali ia gunakan ujungnya untuk mengangkat dagu jika ada dari kami yang menunduk. Tiba-tiba pistolitu meletus, suaranya memekakkan telingaku dan bau mesiu sontak menguar disusul tubuh perempuan rubuh di depanku.  Dia istri pemberontak! Hanya itu yang kutangkap dari bahasa Indonesianya yang kacau-balau lagi pelan. Suasana mulai ricuh, beberapa orang berusaha melarikan diri sebelum tubuh mereka jatuh menimpa tanah dengan darah yang bercampur air hujan. Puluhan nyawa dicampakkan seketika, kurang dari lima menit. Ketika pasukan-pasukan DST itu kembali dapat menenangkan situasi, interogasi berlanjut dan bedil mereka  mengantar tubuh-tubuh tak berdosa satu per satu menuju maut. Malam semakin larut ketika hujan bertambah deras, juga petir yang beberapa kali menyambar disertai badai. Hal itu membuat beberapa DST kerepotan, dan tentu saja keadaan kembali ricuh. Di dalam gelap itulah, mereka menembaki kami tanpa iba. Teriakan dan erangan berganti saling sahut, aroma anyir darah menguar bersama mesiu. Besoknya, hujan reda dan ratusan mayat bergelimpangan di tengah lapangan, kecuali tubuhku yang hilang karena aku  suci bagi orang di Bacukikki. 

*** 

„Beginilah Ustad Syamsuri semasa hidupnya. Seperti pohon asam. Buahnya jadi bumbu masak, daunnya jadi sayur, rantingnya jadi kayu bakar dan batangnya bisa jadi papan atau tiang rumah.“  Air mata Rahing jatuh menyampaikan itu semua kepada warga yang merubut di tengah lapangan, menyaksikan pohon asam yang mulai tumbuh di sana beberapa bulan setelah DST angkat kaki dari Parepare.  „Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya,“ lanjut Rahing terisak, „arwah Ustad Syamsuri di lapangan ini tumbuh jadi pohon asam, pohon yang penuh manfaat. Tubuhnya naik ke langit. Menyesal aku tak syahid bersamanya. Mari berdoa untuk beliau. Alfatiha!“  Sejak hari itu orang-orang berdatangan dan semakin rajin berdoa di sana, hingga sekarang–puluhan tahun kemudian. Padahal, malam itu aku berhasil melarikan diri ke Onderafdeling Wajo dan meninggal di sana karena tuberkulosis yang tidak mampu lagi kulawan. Aku meninggal beberapa saat setelah Jenderal Simon Spoor sebagai pimpinan agresi militer Belanda menghentikan darurat perang di Sulawesi Selatan  pada bulan kedua tahun 1947.

Makassar, 2015 

* Untuk ‚Korban 40.000 Jiwa‘ dan keluarga mereka tercinta.

© Faisal Oddang

Taufiq Ismail: Silhouetten

Der Nieselregen hat Tränen vergossen
Auf die müde Erde
Wind weht durch lange Straßen
Da ist kein Haus. Wir haben kein Haus
Wir sind nichts weiter als Schatten

Der Nieselregen hat Tränen vergossen
Auf die ausgelaugte Erde
Auf drangsalierte Körper
Wir haben Hunger. Wir haben sehr großen Hunger
Hungrige Schatten

Der Nieselregen hat Tränen vergossen
Auf die einsame Erde
Nach ungestümen Parade
Wind weht durch lange Straßen
So eindringlich
So durchdringend
Schatten in Millionen
Millionen von Schatten

Im Schatten eines Pfeilers
Im Schatten des Goldes
Millionen von Schatten
Beweinen den Nieselregen
Beweinen den Vulkan
Violetter Nebel
Streichelt langsam
Die Wälder
Im Süden

Juli, 1965

Quelle: Taufiq Ismail: Staub auf Staub. Übersetzt von Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann; Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 36

© Taufiq Ismail, Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann

Taufiq Ismail: Silhuet

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang lelah
Angin jalanan yang panjang
Tak ada rumah. Kita tak berumah
Kita hanya bayang-bayang

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang letih
Di atas jasad yang pedih
Kita lapar. Kita amat lapar
Bayang-bayang yang lapar

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang sepi
Sehabis pawai genderang
Angin jalanan yang panjang
Menyusup-nyusup
Menusuk-nusuk
Bayang-bayang berjuta
Berjuta bayang-bayang

Di bawah bayangan pilar
Di bawah bayangan emas
Berjuta bayang-bayang
Menangisi gerimis
Menangisi gunung api
Kabut yang ungu
Membelai perlahan
Hutan-hutan
Di Selatan.

Juli, 1965

Sumber: Taufiq Ismail: Debu di ataas Debu. Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 36

© Taufiq Ismail

Taufiq Ismail: Catatan Tahun 1965

Di lapangan dibakari buku
Mesin tikmu dibelenggu
Piring hitam dipanggang
Buku-buku dilarang
Kita semua diperajingkan
Gaya rabies klongsongan

Hamka diludahi Pram
Masuk penjara Sukabumi
Jassin dicaci diserapahi

Terbenam daftar hitam
Usmar dimaki Lentera
Takdir disumpahi Lekra
Sudjono dicangkul BTI
Nasakom bersatu apa
Umat dibunuhi di desa
Kanigoro bagaimana lupa
Kus Bersaudara dipenjara
Mochtar masih diterungku
Osram bungkuk meringkuk
Jalan aspal kubangan
Minyak tanah dikemanakan

Rebutan beras antrian
Siapa mati kelaparan
Inflasi saban pagi

Pidato tiap hari
Maki-maki sebagai gizi
Bahasa carut diperluaskan
Beatles gondrong dipersetankan
Pita suara dimatirasakan

Susunan syaraf dianastesi
Genjer-genjer jadi nyanyi
Tari perang dipamerkan
Warna merah dikibarkan
Warna hitam dikalbukan
Bawai garam digenderangkan
Kolone kelima disusupkan
Sarung siapa dilekatkan
Matine Gusti-Allah dipentaskan

(Pawai HUT PKI, 23 Mei 1965)

Sumber: Taufiq Ismail: Debu di atas Debu. Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 26

© Taufiq Ismail

Taufiq Ismail: Notizen aus dem Jahre 1965

Auf dem Hof werden Bücher verbrannt
Deine Schreibmaschine ist gefesselt
Schallplatten werden geschmort
Bücher verboten
Als ob wir Tollwut hätten

und räudig wären

Hamka wird von Pram bespuckt
Jassin wird gescholten und verurteilt
Auf eine schwarze Liste gesetzt

Usmar wird von Lentera verdammt
Takdir von Lekra verflucht
Sudjono wird von BTI mit einer Hacke angegriffen
Was vereint Nasakom
Muslime werden in den Dörfern umgebracht
Wie kann man nur Kanigoro vergessen
Die Kus-Brüder sind im Gefängnis
Mochtar immer noch im Verlies
Osram wird erniedrigt und eingesperrt
Asphaltstraßen bekommen Schlaglöcher
Erdöl verschwindet

Um Reis wird langen Schlangen gewetteifert
Wer verhungert
Jeden Morgen Inflation

Jeden Tag Ansprachen
Beleidigungen als Nährstoffe
Vulgärsprache kommt in Mode
Langhaarige Beatles werden verteufelt
Stimmbänder werden betäubt

Das Nervensystem anästhesiert
Man singt jetzt Genjer-Genjer
Man führt Kriegstänze auf
Die Farbe Rot wird geschwenkt
Die Farbe Schwarz dringt in die Herzen ein
Unter lautem Trommelwirbel
Finden tyrannische Paraden statt
Eine Infiltration der fünften Kolonne
Wer trägt noch einen Sarong
Der Tod Gottes wird aufgeführt.

(Jubiläumsparade der kommunistischen Partei Indonesiens, 23. Mai 1965

Quelle: Taufiq Ismail: Staub auf Staub. Übersetzt von Edwin P. Wieringa, Carsten U. Beermann; Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 26

© Taufiq Ismail, Carsten U. Beermann, Edwin P. Wieringa

Wiji Thukul: mahnung

wenn der machthaber spricht und
das volk sich abwendet
ist vorsicht geboten, denn
die menschen haben mut und vertrauen verloren

wenn sich das volk zurückzieht
die leute miteinander tuscheln
um ihre sorgen zu besprechen
dann, machthaber, sei vorsichtig
und lerne hinhören!

wenn das volk es nicht mehr wagt zu klagen
dann droht gefahr
wenn die rede des machthabers
einen widerspruch duldet
dann steht es schlecht um die wahrheit

wenn vorschläge unerhört bleiben
stimmen zum schweigen gebracht werden
kritik ohne grund verboten wird
subversiv genannt wird und
eine gefahr für die sicherheit
dann gilt nur ein wort: widerstand!

solo, 1986

Quelle: Wiji Thukul: graswurzellieder. Aus dem Indonesischen von Peter Sternagel; regiospectra 2018, S. 77

© regiospectra, Wahyu Susilo

Wiji Thukul: bunga dan tembok

seumpama bunga 
kami adalah bunga yang tak 
kaukehendaki tubuh 
engkau lebih suka membangun 
rumah dan merampas tanah 

seumpama bunga 
kami adalah bunga yang tak 
kaukehendaki adanya 
engkau lebih suka membangun 
jalan raya dan pagar besi 
seumpama bunga 
kami adalah bunga yang  
dirontokkan di bumi kami sendiri 

jika kami bunga 
engkau adalah tembok 
tapi di tubuh tembok itu 
telah kami sebar biji-biji 
suatu saat kami akan tumbuh bersama 
dengan keyakinan: engkau harus hancur! 

dalam keyakinan kami 
di mana pun – tirani harus tumbang! 

Sumber: Wiji Thukul: graswurzellieder. Terjemahan oleh Peter Sternagel; regiospectra 2018, S. 73

© regiospectra, Wahyu Susilo

Wiji Thukul: tanpa judul

kuterima kabar dari kampung
rumahku kalian geledah
buku-bukuku kalian jarah

tapi aku ucapkan banyak terima kasih
karena kalian telah memperkenalkan
sendiri
pada anak-anakku
kalian telah mengajar anak-anakku
membentuk makna kata penindasan
sejak dini

ini tak diajarkan di sekolahan
tapi rejim sekarang ini memperkenalkan
kepada semua kita
setiap hari di mana-mana
sambil nenteng-nenteng senapan

kekejaman kalian
adalah bukti pelajaran
yang tidak pernah ditulis

Indonesia, 11 Agustus 96

© Wayhu Susilo

Wiji Thukul: blume und mauer

vielleicht ist unsere blume dir im weg
du möchtest lieber häuser bauen
und dafür land rauben

vielleicht stört dich unsere blume
denn du möchtest lieber
breite straßen bauen
und zäune aus eisen

wenn nun zum beispiel unsere blume
herabgeschlagen würde
auf unserm eigenen land

wenn wir die blume sind
und du die mauer
wir aber ins innere der mauer
unsere samen gesät haben

dann werden wir gemeinsam wachsen
in der gewissheit: dass du zugrunde gehst

wir sind uns gewiss
tyrannei muss fallen überall

solo, 87-88

Quelle: Wiji Thukul: graswurzellieder. Aus dem Indonesischen von Peter Sternagel; regiospectra 2018, S. 73

© regiospectra, Wahyu Susilo