Archiv der Kategorie: Kurzgeschichten

Yusi Avianto Pareanom: Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih

Anwar Sadat menemui ajalnya pada hari pertama ia menginjakkan kaki di Jakarta. Ia datang dari Semarang. Usianya pada hari naas itu 28 tahun.

Anwar dinamai ayahnya mengikuti Presiden Mesir Muhammad Anwar El Sadat. Ayahnya memiliki alasan mengapa ia memilihkan nama itu dan bukannya Gamal Abdul Nasser atau Husni Mubarak. Sepekan sebelum Anwar dari Semarang lahir, Anwar Sadat yang presiden tewas diberondong peluru oleh tentaranya sendiri. Menurut berita, kematian itu sebetulnya bisa dihindari jika Anwar Sadat ersedia mengenakan rompi antipeluru seperti usulan penasihatnya. Sang presiden menolak karena menganggap hanya pengecut yang memakainya.

“Sungguh laki-laki pemberani,” kata ayah Anwar dari Semarang dengan kagum.

Maka, begitu anaknya lahir nama itu langsung ia pilih dan banggakan. Ia menyisihkan nama-nama mewah untuk ukuran kampungnya yang jauh hari sebelumnya sudah ia siapkan: Franz, Johan, Mario, dan Diego Armando.

Meleset dari harapan ayahnya, Anwar Sadat dari Semarang tumbuh tak seheroik presiden bernasib celaka itu. Pembawaannya halus sehingga sering dijadikan olok-olok temannya. Dalam permainan apa pun perannya selalu sebagai anak bawang.

Ketika usianya sepuluh tahun, Anwar diajak berkereta api ke Surabaya. Sepanjang perjalanan ia pucat pasi. Orang tuanya mengira anaknya sakit karena telat makan. Sebetulnyalah, Anwar merasa nyawanya nyaris melayang setiap kali kereta melintasi jembatan. Perjalanan pulang Anwar merengek sehebat-hebatnya meminta naik bus.

Anwar menderita gephyrphobia—takut menyeberang jembatan karena prasangka
bangunan itu bakal runtuh—sebagian. Jembatan biasa tak menakutkannya, tapi jembatan kereta api benar-benar merampas nyalinya. Ketidaktahuan Anwar ataupun orang tuanya mengenai nama kondisinya tak mengurangi gemetar dengkul Anwar
tiap kali jembatan kereta api terlihat. Derita Anwar makin bertambah karena ia juga mengidap sekian ketakutan lain, dari yang umum seperti hemophobia atau takut darah, iatrophobia atau takut dokter, claustrophobia atau takut ruang sempit, sampai yang
sedikit melankosis yaitu ombrophobia atau takut rintik hujan. Setidaknya, kalau bisa disebut demikian, Anwar tak terjangkit optophobia, takut membuka mata, kondisi yang memungkinkan penderitanya mencakar atau mencungkil matanya sendiri, baik dengan tangan kosong, paku, atau garpu selada.

Sekian ketakutan itu tak pelak membuat Anwar lebih senang berkutat di rumah dan kotanya. Ia cukup bahagia bekerja menjaga warung kelontong milik ayahnya.

Beberapa pekan sebelum kematian Anwar, ayahnya mendapat telepon dari kerabatnya di Jakarta. Katanya, ada seorang perempuan muda, 24 tahun, janda ditinggal mati tanpa anak, yang cocok dipasangkan dengan Anwar Sadat yang masih lajang. “Anaknya baik, putih, pendiam, hemat, suka berkebun, suka merajut, pintar masak, hapal Yaasiin
pula,” kata kerabat ayah Anwar berpromosi.

Ayah Anwar senang sekali, ibu Anwar setali tiga uang girangnya. Anwar diminta datang ke Jakarta. Kenalan dulu, sekiranya cocok hubungan bisa diteruskan. Sekiranya tidak, silaturahmi sudah terjalin.

Anwar mematuhi perintah orang tuanya dan berangkat ke Jakarta. Sebetulnyalah ia jeri pergi sendiri. Namun, ia malu jika dianggap penakut dan ia agak gembira juga membayangkan punya pasangan hidup. Malam sebelum perjalanan, kecemasan dan kegembiraan tak berhenti bertamu sehingga ia tak berhasil tidur sama sekali. Maka, ketika akhirnya Anwar berangkat dengan bus paling pagi, kantuk yang hebat menyerangnya. Sialnya, kantuk ini ternyata tak berhasil ia musnahkan dengan tidur karena kecemasan apa yang bakal terjadi sepanjang perjalanan.

Pukul setengah tiga sore Anwar sampai di Teminal Pulogadung. Sesuai petunjuk, ia
kemudian berganti metromini menuju Senen. Rumah kerabatnya berada di kawasan Kramat. Di metromini, tanpa ia maui rasa kantuknya tak tertahankan lagi. Ia terbangun ketika seseorang mengguncang bahunya dan berkata, “Mas turun, kita dioper ke metromini depan.” Mereka berada di kawasan Cempaka Putih. Grogi, Anwar turun tergesa-gesa. Seruan kondektur metromini yang berjarak sepuluh meter di depan makin membuatnya gugup. Ketika sandal kanan merek Lily yang dipakai Anwar menapak titik yang jaraknya tepat lima meter dari awal, sandal kirinya yang berada di belakang menginjak pasir halus. Anwar tergelincir. Kalau saja ia membiarkan grativasi bekerja, nasibnya mungkin lebih baik. Tapi, Anwar berusaha melawannya dan saat
berjalan terhuyung-huyung menyeimbangkan diri itu ia menabrak seorang perempuan yang baru saja berjalan keluar dari mulut jalan kecil yang terletak di antara dua metromini.

Tangan Anwar mampir ke dada perempuan itu. Sama-sama kaget, keduanya berteriak. Masih grogi, tangan Anwar justru menggelincir ke pinggang perempuan itu.

“Copet!” teriak perempuan itu.

Kebingungan, Anwar tersenyum.

“Kurang ajar!” seru satu dari sekian laki-laki yang duduk bergerombol di depan jalan.

Ketika gerombolan orang itu mendatanginya, Anwar mengeluarkan air mata. Ia mendadak rindu kepada sup ayam dan perkedel daging buatan ibunya, dongeng-dongeng ayahnya, dan senyum calon istri yang belum pernah dijumpainya.

***

Lena Mareta tak sempat melihat pukulan pertama yang mendarat di kepala Anwar. Ia sudah naik taksi saat itu. Tepat tiga detik setelah Anwar menabraknya sebuah taksi terlihat dan ia langsung melambai dan membuka pintu. Tentu saja ia masih kesal karena ada tangan laki-laki tak diinginkan singgah di tubuhnya. Tapi, ada hal lain yang lebih menggusarkannya yang membuatnya ingin segera berlalu dari tempat itu.

“Boleh merokok?” tanya Lena.

“Sebetulnya tidak,” kata sopir taksi, matanya melirik Lena melalui spion.

Lena membuka kaca jendela dan menyalakan rokoknya. Semestinya sore ini menyenangkan kalau si anak bau susu tolol itu tak bikin gara-gara!

Sesungguhnyalah Lena menantikan sore ini. Bahkan, ia mengambil cuti. Pagi ia mandi, setelah makan siang ia mandi lagi. Ia tak terlalu suka bersolek tetapi sangat senang mewarnai kukunya. Maka, setelah mandi yang kedua, ia membuka kotak pemulas kukunya. Ada empat baris dengan sepuluh warna setiap barisnya. Baris pertama: merah jambu biji, merah ungu bawang Brebes, merah hati sapi yang masih segar, merah Harajuku, merah Mangga Besar, merah setrup soda gembira, merah haid
pertama, merah marun, merah ludah campur sirih, dan merah gincu Joker. Baris kedua: biru telur asin, biru samurai, biru langit awal musim dingin, biru kostum Chelsea, biru memar maling kena bogem, biru mesum, biru kehijauan, biru lapis lazuli, biru tinta bolpen Pilot klasik, dan biru jins stonewash Cibaduyut. Baris ketiga: kuning bunga matahari, kuning durian mentega, kuning padi muda, hijau lumut, oranye kunyit, oranye jeruk pontianak, coklat batu bata, coklat teh kental, putih telur ceplok, dan putih pualam. Baris keempat: sembilan hitam rambut Joan Jett dan satu transparan berkilauan. Lena memilih yang terakhir.

Malam sebelumnya, Jamal, pacar Lena, pulang dari perjalanan tiga minggu pendakian Gunung Elbrus di Rusia. Lena tak sempat menjemputnya. Lena sebetulnya sudah ingin mendatangi rumah pacarnya di Cempaka Putih itu tadi pagi, tapi ia menahan diri karena Jamal bilang ia pasti masih tidur.

Lena dan Jamal sudah berpacaran selama empat bulan. Mereka sudah tidur bersama sembilan belas kali. Pada bulan kedua, Lena sebetulnya sudah sadar bahwa banyak ketidakcocokan di antara mereka. Bukan karena usia Jamal yang baru 21 tahun, lebih muda enam tahun darinya, melainkan obrolan dengannya benar-benar tak mendatangkan ilham. Bagi Lena, kemudaan bukan alasan seseorang boleh terus-menerus berkata tolol. Hanya saja, Jamal tak pernah mengecewakannya untuk urusan yang satu itu. Lena masih ingin menikmati sekaligus digarap Jamal.

Di kamar Jamal, awalnya, semua berjalan seperti yang dibayangkan Lena. Namun, Lena
girang kepagian. Tangan Lena yang hendak menjangkau kait bra di punggung terhenti saat ia melihat Jamal yang sudah duduk telanjang di ranjang melambaikan tangan kanan di atas perabotnya seperti seorang konduktor selesai beraksi.

“Nona Lena, kau sudah sering bertemu, tapi belum kenalan resmi. Ini John, ini George dan Ringo,” kata Jamal tertawa-tawa sembari menunjuk batang, biji kiri, dan kanannya.

“Mana Paul?” tanya Lena, tersenyum.

“Apa maksudmu?”

“Masa ia ditinggalkan?”

“Bijiku cuma dua, Len.”

“Kenapa bukan ia yang menjadi tiang?”

“Perusak band itu, yang benar saja!”

Pertengkaran pecah. Lena sakit hati. Baginya, tanpa Paul McCartney tak akan ada The Beatles, sehebat apa pun John Lennon. Lena jatuh cinta kepada Beatles karena Paul. Sewaktu kecil, ketika ia sedang sedih-sedihnya karena kematian ayahnya, lagu-lagu slow Beatles yang dikarang Paul yang paling menghiburnya. Ia bukannya tak suka kepada John, ia menghormatinya malah, tapi cinta pertamanya tetap kepada Paul. Maka, ketika Jamal mencela Paul, ia tak terima. Saat Jamal, betapa pun lambannya dia, menyadari bahwa pertengkaran itu tak ada gunanya dan ia ingin berbaikan karena si John miliknya betul-betul kepengin segera bertanding, semua sudah terlambat. Lena kadung mutung dan meninggalkan kamarnya.

Setelah rokok kedua habis, senyum pertama Lena terbit. Kenapa aku harus marah? Bukankah malah menghina kalau Paul dijadikan salah satu nama perkakas anak ingusan itu? Lena ingin balik tetapi gengsi menghalanginya.

“Ke Ragunan, Pak, kebun binatang,” kata Lena, akhirnya. Semula ia hanya mengatakan
‘jalan’ kepada sopir taksi.

“Sudah sore, Mbak.”

Lena tak menjawab sehingga sopir itu pun tak berani berkata-kata lagi.

Selain lagu-lagu Paul, yang paling menghibur Lena sejak kecil adalah menonton hewan-hewan bengong di kebun binatang. Dahulu favoritnya adalah tapir karena ketidakjelasan masuk keluarga hewan yang mana. Ibunya tak bisa memberi keterangan, pula kerabatnya. Tapir juga mempesona Lena karena tampak sedemikian malas. Ketika beranjak besar, Lena dengan mudah bisa mencari tahu keingintahuan masa kecilnya dan tapir tak lagi menggelitiknya. Saat ini Lena sedang senang jerapah karena satu fakta: jerapah tak memiliki pita suara. Leher sepanjang itu, tapi betapa pendiamnya.

Sopir taksi tak salah ketika bilang hari sudah sore karena petugas penjualan tiket di Ragunan juga mengatakan hal yang sama. Waktu yang tersisa tinggal empat puluh menit saja. Lena tak keberatan, ia hanya ingin menengok jerapah yang kandangnya
tak jauh dari pintu masuk.

Sore menjadi lebih gelap ketimbang biasanya karena mendung. Ternyata, setelah sepuluh menit Lena sudah bosan. Ketika ia ingin beranjak, seorang perempuan—mungkin beumur 70 tahunan, pikir Lena—menarik perhatiannya. Sebentar-sebentar
perempuan itu bergantian memandang langit dan perdu di depannya.

Yang tidak Lena ketahui, perempuan tua itu sedang menguji pengetahuannya tentang
meteorological botanomancy, menebak gejala langit melalui perubahan gerak tanaman. Ilmu ini sangat sulit, bahkan bagi perempuan yang sudah menguasai fructomancy atau tafsir bentuk, pergerakan, dan reaksi buah-buahan, dendromancy
atau tafsir pepohonan, phyllomancy atau tafsir dedaunan, dan xylomancy atau tafsir batang dan cecabang pohon ini.

Lena mengamati terus karena wajah perempuan tua itu mengingatkannya kepada
seseorang. Akhirnya, Lena memberanikan diri.

“Ibu Reni?”

Perempuan tua itu tersenyum. “Bukan, saya Esti. Reni kakak kembar saya.”

Lena berjalan mendekat dan mencium tangan Esti. Ia tak menyangka bisa bertemu adik kembar orang yang pernah sangat berjasa kepada keluarga mereka. Dua puluh tahun yang lalu, ketika ibu Lena terserang stroke parah, Ibu Reni yang berpraktek di Semarang yang menyembuhkannya dengan gabungan pengobatan herbal dan totok jari.

***

“Guru, ceritamu sungguh penuh dengan kebetulan!”

Laki-laki yang dipanggil guru itu tertawa keras di tempat duduknya. Aku yang berada di
sampingnya ikut tergelak. Di hadapan kami duduk lima atau enam muridnya. Aku menyebutnya demikian karena guru itu sebelumnya bilang kepadaku bahwa dari enam orang yang belajar mengarang kepadanya yang seorang terdaftar resmi tetapi hanya ikut sekali dari dua belas pertemuan sementara yang seorang lagi tak terdaftar dan iseng ikut atas ajakan temannya dan lantas memanfaatkan kebaikan guru itu untuk masuk kelas terus dengan percuma sejak pekan kedua.

“Bukankah kalian yang bilang bahwa kebetulan bisa betul-betul terjadi dalam kehidupan nyata?” kata guru itu setelah reda tawanya.

Dalam perjalanan sebelum bertemu kami, enam orang itu membicarakan panjang lebar— ngrasani, tepatnya—seseorang laki-laki muda, vokalis band punk, yang pernah dekat dengan salah seorang dari mereka. Mulai lagu-lagu yang pemuda itu sukai dan mainkan sampai, bahkan, warna kulitnya yang semasa pacaran terlihat cerah dan sesudah putus menjadi lebih gelap. Mereka lupa siapa yang memulai pembicaraan. Hanya saja, mereka sama sekali tak menduga kejadian berikut. Ketika mobil mereka berhenti di lampu merah, sebuah sepeda motor berhenti di samping kiri mereka. Salah seorang yang kebetulan menoleh langsung berteriak kaget karena yang ia lihat tak lain adalah laki-laki yang sedang mereka bicarakan.

Laporan soal kejadian itu masih panjang lagi
tetapi intinya mereka ingin agar kebetulan boleh mereka pakai dalam cerita-cerita mereka. Guru itu tersenyum dan bilang akan membuat cerita dengan kebetulan di sana-sini dan meminta lima atau enam muridnya menilai bagus tidaknya.

Di sini, sebetulnya aku ingin menuliskan bahwa setelah mendengar protes muridnya
guru itu mengambil napas, memejamkan mata, mendengarkan bisikan angin dan burung di kejauhan, lalu meluncurkan kisah di atas. Aku ingin membuat guru itu terlihat keren karena banyak upaya yang sudah ia lakukan untuk tampil demikian—termasuk memirangkan rambut, memakai anting berlian di kuping kiri, dan memakai sepatu dan topi yang serasi dan sewarna—sama sekali tak berhasil. Tapi, rasanya gambaran itu jadi kurang masuk akal karena kami sedang berada di sebuah kafe di Senayan City. Yang terjadi adalah guru itu meminta waktu sekitar dua jam, murid-muridnya gembira
menurutinya dengan menonton Inception. Aku ikut mereka.

“Lantas, bagaimana kelanjutannya, Guru?”

“Kebetulan, aku ingin kalian yang meneruskan.”

Enam orang itu bersungut-sungut tetapi patuh. Tiga orang bekerja dengan laptop sementara sisanya mencoret-coret di atas tisu yang kebetulan cukup tebal untuk ditulisi. Setelah dua puluh menit, seorang yang menulis di atas tisu menyerahkan
karyanya kepada guru itu. Aku ikut membaca dari balik pundaknya.

Begini ceritanya.

***

“Anwar, ayo siap!”

Anwar Sadat gemetar. Ia sama sekali tak ingin berada di selokan di tepi jalan raya itu. Tapi, teman-temannya memaksa. Salah seorang segera mengangsurkan katapel kepada Anwar, yang lain sibuk membuat peluru dari tanah liat. Anak-anak kampung Anwar sedang senang-senangnya melakoni permainan baru, menembaki mobil
yang melintas dengan katapel mereka. Kalau ada pengemudi atau penumpang yang kaget, girang betul hati anak-anak itu. Apalagi kalau pengemudinya marah dan turun mengejar mereka. Anwar ikut karena janji Tamsi, anak yang mengajaknya bersembunyi di selokan, bahwa anak itu bakal melindunginya di sekolah. Semasa kelas satu dan dua SD sebelumnya, Anwar selalu jadi sasaran ejekan kawan-kawannya karena berat badannya yang sangat berlebih. Janji Tamsi yang berbadan jangkung itulah yang membuatnya memberani-beranikan diri ikut memegang katapel.

Tak sampai tiga menit, semua anak sudah siap. Ketika sebuah sedan Impala melaju dari arah utara, Tamsi menepuk pundak Anwar sebagai pengganti ucapan ‘sekarang giliranmu’.

Memejamkan mata, Anwar menembak. Peluru tanah liat itu tepat menghantam gagang kaca mata kanan si pengemudi. Tembakan itu tak melukai tapi sangat mengagetkan laki-laki yang memegang setir itu. Dua penumpang, seorang perempuan berwajah
pucat dan seorang anak perempuan bersama-sama menjerit ketika pengemudi itu membanting setir dan sedan itu menghantam pohon. Terdengar suara keras, tak ada suara dari dari dalam mobil. Setelah sepuluh detik terpaku, anak-anak segera kabur. Tamsi menarik tangan Anwar yang masih mematung.

Pria yang memegang setir berlumuran darah, keningnya pecah. Perempuan yang berparas pucat pingsan, sementara si anak perempuan tersadar dan mulai menangis. Anak itu bernama Lena Mareta.

Sumber: Yusi Avianto Pareanom: Grave Sin #14 And Other Stories. English translations by Pamela Allen
German translations by Jan Budweg, Nele Quincke, Susanne Ongkowidjaja. Jakarta, 2015 Raden Mandasia Si Pencuri Daging. Banana Publishing, Jakarta, 2016, hal. 201-217;

© Yusi Avianto Pareanom

Faisal Oddang: Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon?

Aku tumbuh menjadi pohon. Orang-orang di kampung kami akan tetap percaya bahkan jika harus didebat hingga mulut berbusa. Mereka mulai memercayainya sejak tahun 1947. Kini, pohon asam itu sudah besar dan semakin tua. Kira-kira dapat diukur dengan lima orang dewasa melingkarkan lengan untuk mampu memeluk batangnya. Hampir setiap hari orang merubut di sana mengucapkan doa yang rupa-rupa jenisnya lantas mengikatkan kain rupa-rupa warnanya dan berjanji membuka ikatan itu setelah doa mereka terkabul. Jadi jangan heran ketika di ranting, dahan, batang, atau tidak berlebihan jika kukatakan hampir semua bagian pohon penuh ikatan kain. Ada banyak doa di sana. Demi menjaga tubuhku, ada pagar beton sedada manusia, berwarna hijau lumut, mengelilingi batang pohon. Para pedoalah yang membangunnya.

Ketika perang kembali pecah, awal 1947, yang orang-orang temukan tentu saja bukan pohon asam, tetapi kira-kira seperti ini: kami bergerombol digiring seperti kerbau. Kaki tangan kami dikekangi tali dari pilinan daun pandan. Bedil Belanda menuntun dengan moncongnya–dan sesekali mempercepat langkah kami dengan popor yang mendarat di tengkuk atau tulang kering. Kami tahu, beberapa saat lagi hidup kami akan direnggut satu demi satu.

***

Desember 1946 baru saja dimulai ketika sebuah kabar tiba di langgar tempatku setiap hari mengajari anak-anak mengaji. Aku memberi isyarat kepada Rahing; jangan sampai anak-anak dengar, kataku memelankan suara sambil berdiri menuju belakang langgar yang kemudian disusulnya. Anak-anak kuminta melanjutkan bacaannya, nanti Bapak kembali, janjiku kepada mereka. 

„Mereka tiba di Makassar,“ suara Rahing tidak pernah secemas itu, „pasukan tambahan, tambahannya banyak,“ susulnya gemetar.  „Siap-siap saja,“ kucoba setenang mungkin meski dadaku tentu saja kembali bergolak. Dari Makassar baru saja kudengar kabar kalau mereka kembali ingin menguasai pusat-pusat perlawanan di Sulawesi-Selatan, kabar itu tiba beberapa minggu sebelum Rahing menyusulkan kabar tentang ketibaan pasukan khusus Depot Speciale Troepen—DST, KNIL, yang mulai bergerak ke kampung kami ini; di Bacukikki, jantung Afdeling Parepare.  Bersama Rahing, bersama Laskar Andi Makassau lainnya, aku pernah berjuang sebelum kemerdekaan–dan ketika semuanya telah kami rebut, penjajah laknatullah itu kembali. Sebelum pulang, Rahing sempat menanyakan bagaimana langgar, bagaimana anak-anak, dan sedikit mengeluh bahwa ia telah capek mengawal penduduk keluar masuk hutan. Aku menepuk pundaknya sebelum mengatakan: Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja.  „Saya pamit, assalamualaikum, Ustad.“  Aku menjawab salam Rahing lantas memenuhi janji pada anak-anak. Sayup-sayup kudengar mereka mengeja hijaiah dengan bahasa Bugis yang membuat bola mataku terasa hangat; yase’na lefue nakkeda a, yase’na lefue mallefa nakkeda aaa…. Aku mengenang bocah lima tahunku yang gugur lebih awal–dan air mata tidak lagi bisa kucegah  membuat lurik di pipiku. 

*** 

Setelah kabar dari Rahing–susul menyusul kabar tiba dari anggota laskar yang satu ke anggota laskar yang lainnya. Seperti suara desingan peluru beberapa tahun lalu, kabar duka dari Makassar tak henti-hentinya mendera. Kabar pertama tiba dari Borong dan Batua, keduanya diduga tempat berlindung pemberontak–dan berbagai macam alasan tak masuk akal lainnya. Setelah itu, disusul daerah-daerah lainnya, di Gowa dan Takalar, dan tentu kabar buruk itu tiba tanpa pernah luput mengikutkan jumlah korban jiwa. Sebentar lagi mereka menuju ke sini, begitu laporan salah satu anggota laskar pada suatu malam, di langgar, ketika tidak ada lagi aktivitas mengaji sejak pemerintah Belanda mengeluarkan surat edaran dan pernyataan darurat perang. „Anak-anak, Bapak akan memanggil kalian lagi kalau waktu mengaji sudah tiba. Sekarang libur jadi kalian belajar di rumah saja dulu, ya…“  Aku mengkhawatirkan mereka dan kecemasanku semakin menjadi-jadi dari hari ke hari. Seperti pelaut yang tak pernah berhenti mencemasi angin limbubu. Rapat kami gelar hampir setiap malam, menjelang Isya bahkan tak berujung hingga Subuh tiba, rapat bukan sekadar rapat sebenarnya; kami berjaga. Sebagai pimpinan Laskar Bacukikki yang berada di bawah Laskar Andi Makassau sebagai pusat perjuangan rakyat Parepare, akulah yang menyiapkan tempat, dan selalu akulah yang memimpin rapat. Itu menjadi alasanku meminta anak-anak mengaji di rumah mereka, selain karena tidak ingin membahayakannya.  „Kita harus sadar diri, Ustad.“  Hening yang lama, bahkan aku berhasil mendengar desah napasku sendiri. Masih hening, tidak ada yang menimpali apa yang Rahing maksudkan dengan sadar diri, tetapi kemudian ia menjelaskan meski tak seorang pun yang meminta penjelasannya.  „Kita kalah jumlah, kalah senjata, kalah pokoknya…“  Jelas sekali, Rahing tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Ia baru saja menikah, aku tahu karena aku yang menjadi penghulunya, aku juga tahu ia bukan mencemaskan dirinya sendiri. Ada istri–dan barangkali ada janin yang tengah ia khawatirkan. Hal itulah yang membuatku hanya bisa diam dan sesekali mengangguk seperti tekukur mengantuk. Bayangan perjuangan sebelum kemerdekaan, bayangan Fatimah istriku, bocah lima tahunku Akbar, dan ingatan-ingatan lainnya kembali menghangatkan bola mataku. Teriakan tolong Akbar, teriakan Allahu Akbar Fatimah, dan teriakan keduanya setelah granat  menghancurkan rumah panggung kami malam itu. Aku dituduh melatih anak-anak menjadi pemberontak hanya karena mengajari mereka mengaji–dan setelah kehilangan segalanya, aku benar-benar memutuskan memberontak, memimpin laskar dan berhasil meraih kemerdekaan. Ketika merasa semuanya telah selesai, aku mengumpulkan kembali anak-anak,  mereka kembali mengeja alif-ba-ta, dengan terbata–dan lagi-lagi, kini harus berhenti. 

*** 

Pertengahan Januari, sebulan setelah kabar dari Rahing, mereka menuju kampung kami. Waktu itu musim hujan baru saja tiba–tetapi tak ada yang berani menggarap sawah. Semua takut meski beberapa yang lain memberanikan diri, termasuk aku. Matahari tidak akan tenggelam selain di ujung langit, begitu pula hidup takkan berakhir selain oleh ajal. Aku meyakinkan diri berkali-kali, menatap biasanku di cermin, mencari-cari kalau sampai ada anggota tubuh yang hilang dalam biasan. Semuanya lengkap, dan begitulah orang Bugis menyakinkan diri sebelum berperang. Janggutku lebat, uban mulai tumbuh di sana, di rambutku juga, meski memang seharusnya lelaki lima puluhan  wajar jika beruban. Mataku sangat sayu dan tulang pipiku semakin menonjol, biasan juga menampakkan luka besar di pelipisku, bekas serpihan granat malam itu.  Ya Hayyu, Ya Qayyum–wahai yang maha hidup, wahai yang maha berdiri sendiri, aku mengucapkannya di dalam hati, berkali-kali, sampai aku merasa benar-benar siap. Meski berkali-kali pula terhenti karena batukku yang semakin parah juga rutin mengeluarkan dahak darah. Diriwayatkan, Rasulullah mengucapkannya berkali-kali saat Perang Badar, saat tak tidur semalaman menunggu orang-orang Quraisy.   Pintu digedor keras oleh seseorang yang tampak buru-buru. Benar saja, ketika kubuka, kutemukan Rahing tampak pucat sebelum terbata-bata mengatakan bahwa Si Jagal Dari Turki sudah di perbatasan dan berusaha ditahan oleh laskar, ia kemudian melanjutkannya dengan; saya harus amankan istri saya dulu, Ustad, maaf. Detik pertama setelah kalimatnya selesai, amarahku hampir memuncak. Egois sekali! Namun, sebuah kenangan memaksaku takluk, aku tidak ingin menyampirkan luka yang sama di pundak Rahing.  „Begitu selesai, gabunglah segera,“ timpalku hampir berteriak menyusul langkahnya yang tergesa-gesa.  Aku menuju perbatasan bersama lebih kurang dua puluh anggota Laskar Bacukikki lainnya di tengah deras hujan yang belum berhenti dari kemarin sore. Namun, seperti ajal yang tak mampu kami tebak tibanya, keadaan berubah, pertahanan di perbatasan kalah, kami terdesak masuk bersembunyi di rumah-rumah penduduk. Hal itulah yang kusesali. Penduduk yang menampung kami waktu itu juga digiring seperti kerbau ke tengah lapangan ketika sore hampir selesai. Tidak peduli perempuan dan anak-anak, tidak peduli tua dan muda.  Kami berbaris di lapangan dengan lutut menumpu di tanah dan tangan kami dikekang ke belakang. Ratusan orang diam tanpa mampu mengelak apalagi melawan, dadaku seperti pendiangan menyadari semua itu. Seseorang yang tampak sebagai pemimpin DST menuju kerumunan. Ia memerhatikan wajah kami satu per satu dalam remang, siapakah yang tengah ia cari? Aku bertanya-tanya di dalam hati. Tatapannya dingin, ia tidak seperti yang lain; yang menyeringai penuh ejekan kepada kami. Wajahnya hampir tanpa ekspresi. Mungkin.., mungkin, dia yang Rahing sebut sebagai Si Jagal Dari Turki itu? Westerling yang dilaknat Allah? Dadaku semakin panas, namun aku kini seperti burung patah sayap patah paruh. Ia masih menyelidiki wajah kami satu per satu dengan diam. Tangannya memegang Browning P-35 yang sesekali ia gunakan ujungnya untuk mengangkat dagu jika ada dari kami yang menunduk. Tiba-tiba pistolitu meletus, suaranya memekakkan telingaku dan bau mesiu sontak menguar disusul tubuh perempuan rubuh di depanku.  Dia istri pemberontak! Hanya itu yang kutangkap dari bahasa Indonesianya yang kacau-balau lagi pelan. Suasana mulai ricuh, beberapa orang berusaha melarikan diri sebelum tubuh mereka jatuh menimpa tanah dengan darah yang bercampur air hujan. Puluhan nyawa dicampakkan seketika, kurang dari lima menit. Ketika pasukan-pasukan DST itu kembali dapat menenangkan situasi, interogasi berlanjut dan bedil mereka  mengantar tubuh-tubuh tak berdosa satu per satu menuju maut. Malam semakin larut ketika hujan bertambah deras, juga petir yang beberapa kali menyambar disertai badai. Hal itu membuat beberapa DST kerepotan, dan tentu saja keadaan kembali ricuh. Di dalam gelap itulah, mereka menembaki kami tanpa iba. Teriakan dan erangan berganti saling sahut, aroma anyir darah menguar bersama mesiu. Besoknya, hujan reda dan ratusan mayat bergelimpangan di tengah lapangan, kecuali tubuhku yang hilang karena aku  suci bagi orang di Bacukikki. 

*** 

„Beginilah Ustad Syamsuri semasa hidupnya. Seperti pohon asam. Buahnya jadi bumbu masak, daunnya jadi sayur, rantingnya jadi kayu bakar dan batangnya bisa jadi papan atau tiang rumah.“  Air mata Rahing jatuh menyampaikan itu semua kepada warga yang merubut di tengah lapangan, menyaksikan pohon asam yang mulai tumbuh di sana beberapa bulan setelah DST angkat kaki dari Parepare.  „Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya,“ lanjut Rahing terisak, „arwah Ustad Syamsuri di lapangan ini tumbuh jadi pohon asam, pohon yang penuh manfaat. Tubuhnya naik ke langit. Menyesal aku tak syahid bersamanya. Mari berdoa untuk beliau. Alfatiha!“  Sejak hari itu orang-orang berdatangan dan semakin rajin berdoa di sana, hingga sekarang–puluhan tahun kemudian. Padahal, malam itu aku berhasil melarikan diri ke Onderafdeling Wajo dan meninggal di sana karena tuberkulosis yang tidak mampu lagi kulawan. Aku meninggal beberapa saat setelah Jenderal Simon Spoor sebagai pimpinan agresi militer Belanda menghentikan darurat perang di Sulawesi Selatan  pada bulan kedua tahun 1947.

Makassar, 2015 

* Untuk ‚Korban 40.000 Jiwa‘ dan keluarga mereka tercinta.

© Faisal Oddang

Feby Indirani: Bukan Perawan Maria

Der Kurzgeschichtenband Bukan Perawan Maria wurde von dem renommierten indonesischen Dichter und Publizisten Gunawan Mohamad herausgegeben. Die Sammlung von 18 satirischen Geschichten fand nicht nur in Indonesien, sondern auch international große Beachtung und wurde unter anderem von der Deutschen Welle und der BBC besprochen. 2018 erschien das Buch in der englischen Version, im darauf folgenden Jahr in der Übersetzung ins Italienische.

Feby Indiranis Erzählungen sind unkompliziert, beißend, witzig und humorvoll, nicht aufdringlich und nicht provokativ nur um der Provokation willen. Vielmehr veranlassen ihre Geschichten den Leser immer wieder, über sich selbst zu lachen. Mit Phantasie, Witz und viel Verständnis für Fragen des Glaubens lädt Feby uns ein, den Islam neu zu interpretieren. Ihre Dschinns und Engel zeigen uns die magischen Seiten, die Mythen und Märchen des Islam. Diesen Stil bezeichnet Feby Indirani selbst als Magischen Islamismus.

Feby Indirani: Bukan Perawan Maria. Pabrikultur 2017.


Feby Indirani: Die Frau, die ihr Gesicht verlor

Kurzgeschichte von Feby Indirani im Original und in der Übersetzung von Gudrun Ingratubun

Eines Morgens erwachte Annisa und sah in den Spiegel. Da stellte sie fest, dass sie keine Nase mehr hatte….

Faisal Oddang: Sawerigading Datang Dari Laut

Die Sammlung von Kurzgeschichten von Faisal Oddang erschien 2019 in indonesischer Sprache. Die Geschichten spielen oft vor dem kulturellen Hintergrund der in Süd-Sulawesi beheimateten Bugis-Ethnie und mischen historische Fakten mit mystischen Geschehnissen, die in den lokalen Geschichten überliefert sind.

Das Buch ist nicht in deutscher Sprache erhältlich. Eine der Kurzgeschichten hat Gudrun Ingratubun für uns übersetzt und kann mit freundlicher Genehmigung des Autors hier veröffentlicht werden.

Faisal Oddang: Sawerigading Datang dari Laut. DIVA Press, Januar 2019.


Yusi Avianto Pareanom: Grave Sin #14 And Other Stories

Die Figuren in den Geschichten dieses Buches sind untrennbar verbunden mit ihrer Umwelt und den sie prägenden kulturellen Normen der urbanen Mittelschicht. Das Buch erschien 2015 in deutsch, englisch und indonesisch.

Yusi Avianto Pareanom: Grave Sin #14 And Other Stories. English translations by Pamela Allen
German translations by Jan Budweg, Nele Quincke,
Susanne Ongkowidjaja. Jakarta, 2015