Archiv der Kategorie: Indonesisch

Feby Indirani: Baby ingin masuk Islam

Sidang Majelis seketika riuh rendah karena suatu kabar yang dibawa Kyai Fikri, yaitu seekor babi bernama Baby menyatakan keinginannya  masuk Islam. Dari berbagai penjuru ruangan, ucapan ‘Astaghfirullah’ menggema, sebelum kemudian sejumlah tangan serentak terangkat  untuk meminta kesempatan mengutarakan pendapat, sedangkan sebagian peserta sidang lainnya bahkan tidak merasa perlu meminta ijin dan langsung saja bicara. Pimpinan sidang kewalahan dan akhirnya menghentikan sidang selama 30 menit.

Setelah itu, majelis memutuskan menyidang Kyai Fikri yang menjadi sumber berita kontroversial tersebut. 

Bagaimanapun menghadapi Kyai Fikri bukanlah sesuatu yang mudah, karena ia dikenal sebagai kyai yang disegani. Tubuhnya tidak tinggi, kurus dan cenderung tampak ringkih. Tapi tatapan matanya tajam dan jernih. Ia memiliki aura yang kuat, yang membuat orang akan segan kepadanya. Umurnya sulit ditebak jika hanya melihat penampilannya.  Ia tampak matang, dengan janggutnya yang pendek dan rapi, sekaligus kelihatan cukup muda secara keseluruhan karena sikap tubuhnya yang gesit. 

Ia mengucapkan salam dengan suaranya yang dalam, dan seluruh ruangan mendadak senyap.

“Baby menunjukkan kesungguhannya untuk masuk Islam, dan saya termasuk orang yang percaya, hidayah bisa mengubah dan menyentuh siapa saja. Jika kita meyakini Islam menjunjung nilai keadilan, saya rasa kita mesti memberikan Baby kesempatan. “

“Maaf Kyai,” ujar seorang peserta majelis. “Apakah itu berarti Baby akan mengubah perilaku-perilaku anehnya?”

“Aneh itu kan menurut kita, karena ia berbeda dengan kita. Baby akan tetap menjadi babi sesuai sunnatullah-nya. “

Bisik bisik memenuhi seisi ruangan. Seorang peserta muda mengangkat tangan. “Kyai, saya ingin tahu kenapa Kyai begitu membela Baby, tapi sebelumnya saya penasaran, bagaimana Kyai bisa ada hubungan dengannya? Bukankah ia makhluk haram?”

“Saya memelihara ternak, antara lain babi,” sahut Kyai Fikri tenang. “Haram untuk memakannya, tapi tidak untuk memeliharanya, kan?”

Ruangan kembali berisik. Kyai keblinger, bisik mereka.

“Mohon maaf Kyai, tapi untuk apa?”

“Saya memberi makan orang-orang di kampung-kampung yang kehidupannya sangat miskin. Hewan-hewan ternak lain terlalu mahal, sementara satu kali mengandung babi bisa memiliki 20 anak. Ia termasuk jenis binatang yang paling banyak memiliki keturunan. Itulah awalnya saya memutuskan memelihara babi.”

“Kenapa Kyai tega memberi makan orang-orang miskin dengan babi?”

“Mereka terlalu miskin, dan mereka bukan Islam. Terlalu mewah bicara agama dengan mereka, agama mereka mungkin hanya makanan, dan air bersih,” Kyai Fikri menyapukan pandangannya menatap wajah-wajah peserta majelis yang memandangnya tanpa berkedip.

“Saya sering menginap di kampung tersebut, bersama penduduk, tinggal di langgar kecil, tidak begitu jauh dari kandang babi. Saya sholat dan mengaji seperti di mana pun saya berada. Lalu suatu saat ketika saya keluar, ada seekor babi betina yang selalu memandangi saya, seperti menunggu. Seperti  selalu ingin mengatakan sesuatu. Babi itu sudah cukup tua, berusia 15 tahun dan tidak bisa beranak lagi. Karena seringnya ia melakukan itu, menunggu dan seperti ingin menyampaikan sesuatu, saya menamai dia Baby, dan dia tampak mengerti bahwa itu adalah nama yang saya berikan untuknya.”

Ia terdiam sesaat, mengambil nafas. “Atas ijin Allah, ia bisa menyampaikan keinginannya, dan saya bisa memahami maksudnya. Ia menyatakan ingin menjadi  pemeluk Islam di hari-hari akhir hidupnya.  Ia tahu akan segera mendapat giliran dipotong, dan ia ingin permintaannya dipenuhi. ”

Suasana ruangan mendadak kembali ingar bingar, karena begitu banyak peserta berbicara di saat yang sama. Saling debat, saling sanggah.

“Bagaimana mungkin seorang Kyai yang mulia  bisa bergaul dengan Baby? “

“Tidak akan kita biarkan! Seluruh hal tentang babi itu haram. Seluruh zatnya. Titik.“

 “Apa hak kita  melarang siapa pun masuk Islam? Katanya Islam itu rahmat bagi semesta alam?”

“Memangnya apa agama Baby sebelumnya? Kenapa dia ingin masuk Islam sekarang? “

“Kalau Anda melarang Baby masuk Islam, artinya Anda bersikap tidak adil. Dan itu adalah sikap yang dibenci Allah dan Rasul-Nya.”

“Tapi apa kita semua mau satu agama dengan Baby? Itu kan menurunkan derajat kemanusiaan kita.”

“Tubuh kita dan Baby itu sangat mirip. DNA kita hanya berbeda tiga persen dari mereka, jadi sesungguhnya kita lebih dekat dengan mereka daripada yang kita bayangkan.”

“Lantas kemudian dia jadi boleh masuk Islam? Kan kita sudah tahu keanehan-keanehan Baby.  Tentang tabiat  yang kotor dan malas. Juga karakternya yang tak jelas,  bisa menyerupai binatang buas karena ia bertaring dan makan daging tapi juga dia mirip binatang jinak karena berceracak dan makan dedaunan,”

“Terdengar semakin mirip dengan kita kan?”

Gema ‘Astaghfirullah’ kembali terdengar dari berbagai penjuru ruangan.  Tidak ada yang mendengarkan satu dengan lainnya dan masing-masing orang hanya sibuk dengan pendapatnya sendiri-sendiri. Pimpinan sidang memerintahkan reses selama dua jam  untuk membahas persoalan ini. Para peserta sidang  pun secara alamiah langsung membentuk kelompok yang dirasa cocok dan sepikiran dengan mereka. Setiap anggota majelis saling beradu argumentasi tentang bagaimana harus menyikapi persoalan Baby.

Sidang kembali dimulai dan  peserta sidang diminta melakukan voting dalam pengambilan keputusan. Kelompok pertama yang paling besar jumlahnya atau sekitar 40 persen dari majelis adalah mereka yang jelas menolak Baby, tidak ada pertimbangan dan tidak ada kompromi.  Sementara sebanyak 35  persen secara prinsip tidak setuju, tapi meyakini mereka perlu memanggil Baby untuk mendengarkan dari sisi Baby. Kelompok ini meyakini bahwa Majelis mesti bersikap tepat secara politis dan bagaimanapun harus mengusung prinsip-prinsip keadilan. Kelompok berikutnya, 23 persen, adalah kelompok yang mendukung Kyai Fikri, kelompok ini kecil tapi memiliki suara yang biasanya didengar oleh mayoritas anggota, karena posisi dan status sosial mereka yang dihormati publik. Di dalam kelompok ini sebetulnya termasuk juga adalah orang-orang yang menyetujui semata karena mengagumi Kyai Fikri dan keunikannya. Sisanya abstain, adalah mereka yang tidak tertarik dengan konflik dalam bentuk apapun juga.

Masing-masing kelompok berdebat argumentasi satu dengan yang lainnya, dan keputusan belum dapat diambil karena belum ada suara mayoritas. Akhirnya karena hari sudah larut, sidang harus dihentikan terlebih dulu dan dilanjutkan esok hari.

Dalam jeda sidang itu, terlihatlah bagaimana  kelompok 35 persen itu diperebutkan oleh dua kubu lainnya.  Kelompok 40 persen tentu saja merasa mereka seharusnya sedikit lagi memenangi keputusan ini, dan akan begitu mudah jika kelompok 35 tidak terlampau etis. Untuk apa sok etis, jika hasil akhir sudah jelas, yaitu tidak setuju. Tapi kelompok 35 terdiri dari mereka yang sangat menyukai proses dan sangat ingin majelis tampak bagus di mata publik.

Sementara itu, secara prinsip, kelompok 23 jelas memiliki sikap yang berbeda. Mereka pun sebal pada orang-orang dari kelompok 35 yang mereka nilai terlalu mementingkan pencitraan, haus pujian, dan tidak konsisten. Namun kelompok 35 memiliki jumlah signifikan, dan masih punya keinginan untuk melakukan proses yang adil betapapun itu hanyalah kosmetik belaka.  Kelompok 23 menimbang, jika setidaknya mereka bisa menghadirkan Baby dalam sidang, itu sudah merupakan suatu langkah besar, plus peluang bahwa keinginannya dapat dikabulkan majelis — seberapapun kecilnya kemungkinan itu.

Debat dan negosiasi yang terjadi begitu alot, bahkan untuk sekadar menghadirkan Baby di sidang majelis. Karena bagi banyak peserta itu akan menjadi kali pertama dalam hidup mereka berinteraksi dengan babi.  Sidang tertunda selama dua hari tanpa ada solusi.

Setelah proses yang panjang itu, di hari ketiga anggota majelis melakukan voting akhir. Hasilnya, Majelis secara resmi menolak Baby untuk menjadi Islam.

Wajah Kyai Fikri tampak mendung. Dia minta ijin menyampaikan kata-kata terakhir sebelum sidang majelis resmi dibubarkan.

“Bagaimanapun, saya berterimakasih untuk proses yang sudah melibatkan kerja keras dari semua peserta majelis. Saya benci membuat Baby kecewa, tapi saya akan kembali ke kampung dan mengatakan kepadanya, Baby, siapapun bisa menjadi islam dengan bersaksi bahwa ‚Tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah‘,” mata Kyai Fikri tampak berkaca-kaca. “Tidak ada yang bisa menghentikan siapapun menjadi Islam, meskipun orang Islam sendiri menolaknya. Itu yang akan saya katakan pada Baby.”

Ruangan senyap, dan sebagian peserta ikut terharu, memikirkan Baby yang akan kecewa karena mengalami penolakan di pengujung hidupnya. Bagaimanapun, keputusan sudah diambil, mereka bersalam-salaman dan berpamitan, saling mengucapkan maaf dan terimakasih untuk proses persidangan yang dilakukan selama tiga hari.

Ketika beranjak keluar ruangan, salah seorang peserta sidang menggamit lengan Kyai Fikri dan berbisik di telinganya.

“Kyai, saya boleh ikut ke kampung?” pintanya sambil tersipu. “Karena Baby sudah masuk Islam, saya ingin ikut mencicipi dagingnya.”

Sumber: Feby Indirani: Bukan Perawan Maria; Paperback, Pabrikultur, 2017

© Feby Indirani

Feby Indirani: Perempuan Yang Kehilangan Wajahnya

Di suatu pagi, Annisa bangun dan ia tersadar saat bercermin, bahwa ia tidak lagi memiliki hidung.

“Astaghfirullah!“ serunya keras. Andai Razi suaminya ada di rumah, ia mungkin sudah terjengkang dari kursi goyang kesayangannya. Namun Razi sedang dinas ke luar kota dan baru akan kembali lima hari lagi. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, Annisa panik.

Untuk beberapa saat, ia hanya membenamkan wajahnya di bantal. Cermin di kamarnya seolah menjadi hantu yang paling ditakutinya. Selama beberapa jam kemudian, Annisa hanya menangis meratapi nasib. Bagaimana mungkin hidungnya bisa hilang?

Tepatnya adalah batang hidungnya yang ramping, dan pucuk hidungnya yang biasanya membulat menggemaskan. Yang tersisa dari hidungnya adalah dua bulatan yang dipayungi cuping hidung yang tinggal setengah. Ia tidak merasakan rasa sakit sedikitpun. Ia pun tetap bisa menghirup udara seperti biasa, melalui lubang yang tadinya adalah hidungnya itu. Tapi oh alangkah buruknya wajah dengan hidung yang menghilang.

Annisa masih berharap itu adalah mimpi buruk, namun ketika ia berkaca lagi, ia tahu, ia tidak bermimpi. Ia tidak lagi memiliki hidung, atau tepatnya batang hidung. Ia merasa terguncang, tapi kemudian mulai berusaha berpikir rasional, dan mulai menimbang sejumlah alternatif tindakan yang harus dilakukannya. Menghubungi dokter di rumah sakit? Ya, Annisa akan melakukannya, tapi tidak, sebaiknya ia menunggu Razi pulang. Tidak, ia tidak mau mengabari Razi sekarang karena tidak ingin mengganggu konsentrasi suaminya. Dan ya, ia menduga biayanya mungkin akan mahal untuk bisa membuat sebatang hidung.  Sebagai seorang istri yang baik, ia tidak mungkin mengeluarkan uang yang begitu besar tanpa izin terlebih dulu dari suaminya. Tidak, ke dokter atau rumah sakit bukanlah prioritas yang begitu mendesak, karena Annisa sudah memastikan bahwa ia tidak merasakan sakit apapun.

Ya, ini adalah masalah estetika dan bukan keselamatan. Meskipun  berada dalam kondisi yang sangat kaget dan terguncang, secara naluriah Annisa tahu, bukan keselamatan nyawanya yang dipertaruhkan.

Baiklah, ini bukan segala-galanya. Ia bernafas seperti biasa. Annisa hanya perlu keluar rumah hari ini seperti biasa. Dikenakannya jilbabnya yang panjang polos berwarna biru tua, beserta niqab yang biasa terpasang di wajahnya, menyisakan sepasang mata dan alisnya. Untunglah aku ber-niqab, pikir Annisa lega.

Untuk sesaat, Annisa fokus pada hal-hal yang mesti dilakukannya hari itu. Mengunjungi sekolah yang dimiliki oleh keluarganya dan rapat dengan para guru di sana. Memastikan bahwa renovasi gedung sekolah itu bisa segera dimulai, sebelum tahun ajaran baru datang. Mungkin ia akan ikut dalam pertemuan dengan kontraktor, yang artinya rapat beruntun. Setelah itu ia sebetulnya punya rencana untuk merawat diri  di salon khusus Muslimah, tapi tidak, sebaiknya dibatalkan saja, karena ia tidak mau membuat orang-orang terkejut dengan wajahnya. Ya, mungkin ia akan langsung ke supermarket dan belanja kebutuhan domestik saja.

Ia menyetir mobilnya perlahan, setengah melamun. Saat memasuki gerbang sekolah, entah kenapa jantungnya berdebar. Ia merasa tidak siap bertemu banyak orang dalam situasi seperti ini. Annisa melirik kaca spion atas, dan mendapati cadar yang menutupi wajahnya. Tak ada bedanya, Nisa. Tak akan ada yang tahu kau punya hidung atau tidak, ia berusaha meyakinkan diri.

Tiga orang anak berkerudung berlari menghampirinya ketika turun dari mobil, mereka mencium tangannya dengan takzim.

“Ibu Nisa… Ibu Nisa…” panggil anak-anak itu. Anak-anak itu mengenali mobilnya, dan karenanya sudah siap menyapanya.

Mereka mengenakan jilbab putih sederhana dengan muka dibiarkan terbuka. Mereka tersenyum ketika tangan Annisa membelai kepala mereka satu persatu. Pandangan Annisa jatuh pada hidung-hidung mereka.

Annisa masuk ke ruang rapat guru dan ia sudah dinanti di sana. Rapat berjalan, dan untuk sesaat ia berhasil melupakan masalahnya sendiri. Ketika waktu sholat tiba, Annisa mulai kembali teringat masalahnya. Tapi, ia memiliki ruang khusus di sekolah yang sangat privat, dan ia bisa sholat dengan leluasa tanpa khawatir ada orang yang memergokinya tanpa penutup muka.

Separuh hari itu dilaluinya, dengan perasaan seperti orang yang bersembunyi, seperti orang yang takut. Kamu harus kuat Nisa, kamu harus kuat, ulangnya pada diri sendiri. Dan begitulah Annisa menjalani hari itu, mencoba sedapat mungkin fokus kepada orang orang yang dihadapinya, mencari solusi untuk hal-hal yang harus mereka pecahkan, dan sering ia juga yang mesti mengambil keputusan terakhir.

Sekolah ini didirikan oleh orang tuanya dulu, dan merupakan amanat baginya untuk tetap mempertahankan keberlangsungannya. Annisa bersyukur, Razi memberikannya ijin untuk tetap mengelola sekolah ini, apalagi karena Razi mendukung visi sekolah untuk menciptakan generasi yang soleh, yang mengutamakan pendidikan agama di atas segalanya.

Hari itu hanya harus ditutup dengan berbelanja di supermarket. Bukan hal yang susah, pikirnya. Aku sudah melalui hari sejauh ini.  Tapi hari ini bagaimanapun ia jadi lebih peka berada di antara banyak orang.  Annisa mendapati beberapa orang meliriknya, dengan tatapan ingin tahu. Itu pasti karena cadarnya.

Menggunakan niqab bukanlah sesuatu yang sedemikian normal di Jakarta, tapi dia juga bukan satu-satunya. Setelah tiga tahun ber-niqab atas permintaan suaminya, Nisa sudah terbiasa berhadapan dengan sorot mata ingin tahu yang mengarah kepadanya. Apalagi jika mereka berada di restoran, akan lebih banyak lagi orang yang mengawasinya karena ingin melihat bagaimana caranya ia makan. Sungguh mengganggu awalnya, tapi Nisa sudah terbiasa, dan tidak peduli.

Awalnya, Nisa memang sempat membantah ketika Razi memintanya mengenakan niqab. Meskipun sudah berjilbab sejak remaja,  mengenakan niqab adalah satu langkah yang berbeda. Tapi menurut Razi itulah jalan yang lebih benar berdasarkan tuntutan agama.

“Menjalankan perintah agama itu harus kaffah, Ummi,“ ujar Razi mesra dengan panggilan sayang padanya. “Apalagi Ummi itu perempuan cantik, biar pun berjilbab juga masih terlihat jelas kecantikannya. Sementara aku sering bertugas keluar kota, aku tidak rela istriku jadi pandangan lelaki lain,” ujar Razi lembut kepadanya sambil membelai rambutnya. Dan sikap itu selalu saja membuat Nisa meleleh. Razi tidak pernah memaksakan kehendak, tapi membujuk dan menyadarkannya tentang apa yang benar dan apa yang harus dilakukannya sebagai seorang istri yang solehah.

Akhirnya, meskipun separuh hati, ia menuruti permintaan suaminya untuk ber-niqab. Memang benar juga seperti yang dikatakan Razi, ia merasa semakin aman dan terlindung dari pandangan laki-laki asing.

Memakai cadar, kadang menyulitkan. Ya seperti saat makan di tempat umum itu. Atau karena cuaca di Jakarta yang panas dan lembab. Juga ketika bertemu teman di mal atau tempat umum lainnya. Annisa harus berteriak lebih keras ketika melihat dan berpapasan dengan teman lamanya, yang tentu saja tidak bisa mengenali karena mukanya tidak terlihat.

Kadang juga, bila malas ia memilih tidak menyapa saja walaupun berpapasan dengan teman lamanya. Sebenarnya tidak ada bedanya, toh mereka juga tidak akan tahu. Tapi tetap saja ada menyelinap perasaan bersalah di dalam hatinya, apalagi bila orang tersebut sebetulnya pernah jadi teman baiknya.

Seperti hari itu, ia melihat jelas Arifin, seorang lelaki yang, uh, pernah dekat dengannya. Hm. Dekat,  ah, kata itu kurang menggambarkan situasi mereka. Tepatnya, Arifin pernah melakukan proses ta’aruf atau perkenalan dengannya selama beberapa waktu, sebelum akhirnya ia memutuskan menjatuhkan pilihan pada Razi.

Arifin hanya berdiri beberapa meter di seberangnya, sedang berada di area buah-buahan. Annisa tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Lelaki itu masih seganteng yang pernah ia ingat. Tubuhnya kini lebih berisi, tidak sekurus saat masa kuliah dulu.

Menyapa, tidak. Menyapa, tidak. Annisa tiba-tiba berada di dalam sebuah dilema. Ia masih memandangi Arifin yang memilah dan memilih jeruk dengan tenang, tanpa menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya dengan dada bergemuruh.

Begitulah, sebagai seorang yang ber-niqab, sering kali Annisa mengalami bahwa keputusan menyambung tali silaturahim berada di tangannya. Ia yang bisa menentukan akankah ia menyingkap siapa dirinya atau tidak. Andai ia tak memakai niqab, dalam jarak sedekat ini kemungkinan besar Arifin sudah bisa mengenalinya dan akan menyapanya lebih dulu—sehingga Annisa tidak perlu mengorbankan gengsinya. Tapi tentu saat ini, bayangan tidak memakai niqab dan bertemu pria masa lalunya, juga bukan hal yang akan menguntungkan.

Tidak di saat ia kehilangan hidungnya.

Sekarang, atau tidak sama sekali. Annisa menguatkan hati untuk menyapa Arifin. Ia akan mengucapkan salam dan menyapa lelaki itu, yang pasti akan mengenali suaranya bagaimanapun juga. Dan meskipun sesaat, Annisa bisa bercakap-cakap lagi dengan dia, dan melihat bagaimana reaksi lelaki itu bertemu dengan dirinya.

“Mas, lama banget? Yuk, nanti filmnya keburu mulai…,” seorang perempuan menghampiri Arifin dan mengusap punggungnya, tepat saat Annisa hendak melangkah mendekat.

Perempuan itu, cantik. Tidak berjilbab, berpenampilan seperti perempuan profesional muda, dengan alis yang dilukis rapi dan lipstik pink terang. Annisa masih sempat melirik hidung mungil perempuan itu yang tampak serasi dengan mukanya yang bulat telur.

Dengan langkah gontai, Ia pun membalikkan badan dan berjalan menuju kasir. Istrinya? Pacarnya? Yang jelas dari bahasa tubuhnya mereka pasti dekat.  Pertanyaan yang muncul dengan deras di dalam kepalanya adalah, bagaimana mungkin Arifin bisa dekat atau berpasangan dengan perempuan yang bukan dari kelompok mereka? Dulu Arifin salah satu pentolan kelompok pengajian yang paling disegani, paling teruji ketekunan beribadah dan semangat membela agama. Mengapa perubahan terjadi begitu cepat? Apakah karena gagal menikah dengannya dulu?

Annisa pulang ke rumah, masih dengan perasaan galau. Ia merindukan Razi, tapi suaminya itu belum akan pulang malam ini. Ia harus tidur sendiri lagi, dan ia merasa begitu resah. Saat sholat ia menangis sendu, merasakan hampa.

Ia mengirimkan pesan singkat kepada suaminya.

Abi, Ummi rindu. Tidak sabar menunggu Abi pulang.

Abi, kalau Ummi sudah tidak cantik, Abi masih cinta Ummi? 

Pesannya tidak terbaca. Di lokasi bekerja suaminya, memang sering mengalami susah sinyal. Annisa hanya bisa menarik nafas dalam, dan mencoba tertidur. Di dalam mimpinya, ia seperti melihat seseorang sedang menggambar sketsa wajahnya, dengan rambut yang bergelombang tergerai. Rambut yang sengaja dibiarkannya panjang atas permintaan suaminya. Ia seperti berdiri, dari balik punggung si pelukis, mengamatinya yang sedang menyempurnakan lukisan wajahnya, dan sempat mengagumi kecantikannya sendiri pada lukisan itu. Lukisan yang hampir jadi seutuhnya.

Lalu Annisa terkejut, karena tiba-tiba sang pelukis memulas cat putih pada hidungnya, merusak lukisan wajahnya.

“Jangaaan, kenapa? Jangan!“ Ia merasakan tangannya mengguncang bahu si pelukis.

Namun pelukis itu bergeming. Malah ia terus menggerakkan kuasnya ke area mulutnya. Maka rusaklah lukisan wajahnya yang cantik tadi, meninggalkan sepasang mata indah. Pelukis itu meletakkan kuasnya tepat di atas mata itu. Seperti sedang menimbang-nimbang. Menunggu ketetapan hati.

“Jangan… jangan…,” Annisa kembali mengguncang tubuh pelukis itu. Saat itulah ia terbangun. Sesaat ia tidak menyadari, masih malamkah itu? Sudah masuk waktu fajar kah? Apakah ia melewatkan adzan subuh?

Annisa merasakan sisa air mata yang mengering di pipinya. Ia meraba-raba mukanya, dengan gerakan yang ragu-ragu dan cemas. Ia meraba tempat yang tadinya dalah hidungnya, dan ia tak bisa merasakan apa-apa. Jari jemarinya bergerak perlahan, hendak merasakan bibirnya.

Jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia tidak bisa merasakan bibirnya lagi. Ia menggerakkan mulutnya dan merasakan hembusan nafasnya sendiri dari lubang itu. Tapi ia tidak bisa merasakan bibirnya. Annisa merasa seluruh tubuhnya lemas. Dengan sisa-sisa kekuatan, ia menyeret dirinya ke cermin.

Annisa melihat wajahnya, atau tepatnya sisa-sisa dari wajahnya. Lubang bekas hidung dan lubang mulut. Sepasang mata yang mengecil karena habis menangis, tertutup sisa kelopak. Hanya alis tipisnya yang masih tersisa di wajahnya. Tak ada seorangpun lagi yang akan mengenali wajah itu sebagai wajahnya. Tidak juga dirinya sendiri. Annisa  menangis sejadi-jadinya.

Namun ketika matahari sudah tinggi, Annisa sadar masih banyak tugas yang menunggunya di luar sana. Maka ia mengumpulkan kekuatan dirinya, mengenakan jilbabnya, dan mengenakan niqab-nya. Pergi keluar rumah, dan menjalankan rutinitasnya. Sebelum menjalankan mobilnya, ia mendapati pesan singkat pada telepon selulernya.

Abi cinta Ummi, bagaimanapun juga. Jaga diri ya Ummi. Sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang solehah. Dan istri solehah adalah istri yang menaati perkataan suaminya.

Annisa menghela nafas panjang. Ia hanya berharap dirinya tetap perhiasan terindah bagi suaminya. Meskipun ia sudah dan mungkin akan semakin, kehilangan wajahnya.  

Sumber: Feby Indirani: Bukan Perawan Maria; Paperback, Pabrikultur, 2017

© Feby Indirani

Yusi Avianto Pareanom: Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih

Anwar Sadat menemui ajalnya pada hari pertama ia menginjakkan kaki di Jakarta. Ia datang dari Semarang. Usianya pada hari naas itu 28 tahun.

Anwar dinamai ayahnya mengikuti Presiden Mesir Muhammad Anwar El Sadat. Ayahnya memiliki alasan mengapa ia memilihkan nama itu dan bukannya Gamal Abdul Nasser atau Husni Mubarak. Sepekan sebelum Anwar dari Semarang lahir, Anwar Sadat yang presiden tewas diberondong peluru oleh tentaranya sendiri. Menurut berita, kematian itu sebetulnya bisa dihindari jika Anwar Sadat ersedia mengenakan rompi antipeluru seperti usulan penasihatnya. Sang presiden menolak karena menganggap hanya pengecut yang memakainya.

“Sungguh laki-laki pemberani,” kata ayah Anwar dari Semarang dengan kagum.

Maka, begitu anaknya lahir nama itu langsung ia pilih dan banggakan. Ia menyisihkan nama-nama mewah untuk ukuran kampungnya yang jauh hari sebelumnya sudah ia siapkan: Franz, Johan, Mario, dan Diego Armando.

Meleset dari harapan ayahnya, Anwar Sadat dari Semarang tumbuh tak seheroik presiden bernasib celaka itu. Pembawaannya halus sehingga sering dijadikan olok-olok temannya. Dalam permainan apa pun perannya selalu sebagai anak bawang.

Ketika usianya sepuluh tahun, Anwar diajak berkereta api ke Surabaya. Sepanjang perjalanan ia pucat pasi. Orang tuanya mengira anaknya sakit karena telat makan. Sebetulnyalah, Anwar merasa nyawanya nyaris melayang setiap kali kereta melintasi jembatan. Perjalanan pulang Anwar merengek sehebat-hebatnya meminta naik bus.

Anwar menderita gephyrphobia—takut menyeberang jembatan karena prasangka
bangunan itu bakal runtuh—sebagian. Jembatan biasa tak menakutkannya, tapi jembatan kereta api benar-benar merampas nyalinya. Ketidaktahuan Anwar ataupun orang tuanya mengenai nama kondisinya tak mengurangi gemetar dengkul Anwar
tiap kali jembatan kereta api terlihat. Derita Anwar makin bertambah karena ia juga mengidap sekian ketakutan lain, dari yang umum seperti hemophobia atau takut darah, iatrophobia atau takut dokter, claustrophobia atau takut ruang sempit, sampai yang
sedikit melankosis yaitu ombrophobia atau takut rintik hujan. Setidaknya, kalau bisa disebut demikian, Anwar tak terjangkit optophobia, takut membuka mata, kondisi yang memungkinkan penderitanya mencakar atau mencungkil matanya sendiri, baik dengan tangan kosong, paku, atau garpu selada.

Sekian ketakutan itu tak pelak membuat Anwar lebih senang berkutat di rumah dan kotanya. Ia cukup bahagia bekerja menjaga warung kelontong milik ayahnya.

Beberapa pekan sebelum kematian Anwar, ayahnya mendapat telepon dari kerabatnya di Jakarta. Katanya, ada seorang perempuan muda, 24 tahun, janda ditinggal mati tanpa anak, yang cocok dipasangkan dengan Anwar Sadat yang masih lajang. “Anaknya baik, putih, pendiam, hemat, suka berkebun, suka merajut, pintar masak, hapal Yaasiin
pula,” kata kerabat ayah Anwar berpromosi.

Ayah Anwar senang sekali, ibu Anwar setali tiga uang girangnya. Anwar diminta datang ke Jakarta. Kenalan dulu, sekiranya cocok hubungan bisa diteruskan. Sekiranya tidak, silaturahmi sudah terjalin.

Anwar mematuhi perintah orang tuanya dan berangkat ke Jakarta. Sebetulnyalah ia jeri pergi sendiri. Namun, ia malu jika dianggap penakut dan ia agak gembira juga membayangkan punya pasangan hidup. Malam sebelum perjalanan, kecemasan dan kegembiraan tak berhenti bertamu sehingga ia tak berhasil tidur sama sekali. Maka, ketika akhirnya Anwar berangkat dengan bus paling pagi, kantuk yang hebat menyerangnya. Sialnya, kantuk ini ternyata tak berhasil ia musnahkan dengan tidur karena kecemasan apa yang bakal terjadi sepanjang perjalanan.

Pukul setengah tiga sore Anwar sampai di Teminal Pulogadung. Sesuai petunjuk, ia
kemudian berganti metromini menuju Senen. Rumah kerabatnya berada di kawasan Kramat. Di metromini, tanpa ia maui rasa kantuknya tak tertahankan lagi. Ia terbangun ketika seseorang mengguncang bahunya dan berkata, “Mas turun, kita dioper ke metromini depan.” Mereka berada di kawasan Cempaka Putih. Grogi, Anwar turun tergesa-gesa. Seruan kondektur metromini yang berjarak sepuluh meter di depan makin membuatnya gugup. Ketika sandal kanan merek Lily yang dipakai Anwar menapak titik yang jaraknya tepat lima meter dari awal, sandal kirinya yang berada di belakang menginjak pasir halus. Anwar tergelincir. Kalau saja ia membiarkan grativasi bekerja, nasibnya mungkin lebih baik. Tapi, Anwar berusaha melawannya dan saat
berjalan terhuyung-huyung menyeimbangkan diri itu ia menabrak seorang perempuan yang baru saja berjalan keluar dari mulut jalan kecil yang terletak di antara dua metromini.

Tangan Anwar mampir ke dada perempuan itu. Sama-sama kaget, keduanya berteriak. Masih grogi, tangan Anwar justru menggelincir ke pinggang perempuan itu.

“Copet!” teriak perempuan itu.

Kebingungan, Anwar tersenyum.

“Kurang ajar!” seru satu dari sekian laki-laki yang duduk bergerombol di depan jalan.

Ketika gerombolan orang itu mendatanginya, Anwar mengeluarkan air mata. Ia mendadak rindu kepada sup ayam dan perkedel daging buatan ibunya, dongeng-dongeng ayahnya, dan senyum calon istri yang belum pernah dijumpainya.

***

Lena Mareta tak sempat melihat pukulan pertama yang mendarat di kepala Anwar. Ia sudah naik taksi saat itu. Tepat tiga detik setelah Anwar menabraknya sebuah taksi terlihat dan ia langsung melambai dan membuka pintu. Tentu saja ia masih kesal karena ada tangan laki-laki tak diinginkan singgah di tubuhnya. Tapi, ada hal lain yang lebih menggusarkannya yang membuatnya ingin segera berlalu dari tempat itu.

“Boleh merokok?” tanya Lena.

“Sebetulnya tidak,” kata sopir taksi, matanya melirik Lena melalui spion.

Lena membuka kaca jendela dan menyalakan rokoknya. Semestinya sore ini menyenangkan kalau si anak bau susu tolol itu tak bikin gara-gara!

Sesungguhnyalah Lena menantikan sore ini. Bahkan, ia mengambil cuti. Pagi ia mandi, setelah makan siang ia mandi lagi. Ia tak terlalu suka bersolek tetapi sangat senang mewarnai kukunya. Maka, setelah mandi yang kedua, ia membuka kotak pemulas kukunya. Ada empat baris dengan sepuluh warna setiap barisnya. Baris pertama: merah jambu biji, merah ungu bawang Brebes, merah hati sapi yang masih segar, merah Harajuku, merah Mangga Besar, merah setrup soda gembira, merah haid
pertama, merah marun, merah ludah campur sirih, dan merah gincu Joker. Baris kedua: biru telur asin, biru samurai, biru langit awal musim dingin, biru kostum Chelsea, biru memar maling kena bogem, biru mesum, biru kehijauan, biru lapis lazuli, biru tinta bolpen Pilot klasik, dan biru jins stonewash Cibaduyut. Baris ketiga: kuning bunga matahari, kuning durian mentega, kuning padi muda, hijau lumut, oranye kunyit, oranye jeruk pontianak, coklat batu bata, coklat teh kental, putih telur ceplok, dan putih pualam. Baris keempat: sembilan hitam rambut Joan Jett dan satu transparan berkilauan. Lena memilih yang terakhir.

Malam sebelumnya, Jamal, pacar Lena, pulang dari perjalanan tiga minggu pendakian Gunung Elbrus di Rusia. Lena tak sempat menjemputnya. Lena sebetulnya sudah ingin mendatangi rumah pacarnya di Cempaka Putih itu tadi pagi, tapi ia menahan diri karena Jamal bilang ia pasti masih tidur.

Lena dan Jamal sudah berpacaran selama empat bulan. Mereka sudah tidur bersama sembilan belas kali. Pada bulan kedua, Lena sebetulnya sudah sadar bahwa banyak ketidakcocokan di antara mereka. Bukan karena usia Jamal yang baru 21 tahun, lebih muda enam tahun darinya, melainkan obrolan dengannya benar-benar tak mendatangkan ilham. Bagi Lena, kemudaan bukan alasan seseorang boleh terus-menerus berkata tolol. Hanya saja, Jamal tak pernah mengecewakannya untuk urusan yang satu itu. Lena masih ingin menikmati sekaligus digarap Jamal.

Di kamar Jamal, awalnya, semua berjalan seperti yang dibayangkan Lena. Namun, Lena
girang kepagian. Tangan Lena yang hendak menjangkau kait bra di punggung terhenti saat ia melihat Jamal yang sudah duduk telanjang di ranjang melambaikan tangan kanan di atas perabotnya seperti seorang konduktor selesai beraksi.

“Nona Lena, kau sudah sering bertemu, tapi belum kenalan resmi. Ini John, ini George dan Ringo,” kata Jamal tertawa-tawa sembari menunjuk batang, biji kiri, dan kanannya.

“Mana Paul?” tanya Lena, tersenyum.

“Apa maksudmu?”

“Masa ia ditinggalkan?”

“Bijiku cuma dua, Len.”

“Kenapa bukan ia yang menjadi tiang?”

“Perusak band itu, yang benar saja!”

Pertengkaran pecah. Lena sakit hati. Baginya, tanpa Paul McCartney tak akan ada The Beatles, sehebat apa pun John Lennon. Lena jatuh cinta kepada Beatles karena Paul. Sewaktu kecil, ketika ia sedang sedih-sedihnya karena kematian ayahnya, lagu-lagu slow Beatles yang dikarang Paul yang paling menghiburnya. Ia bukannya tak suka kepada John, ia menghormatinya malah, tapi cinta pertamanya tetap kepada Paul. Maka, ketika Jamal mencela Paul, ia tak terima. Saat Jamal, betapa pun lambannya dia, menyadari bahwa pertengkaran itu tak ada gunanya dan ia ingin berbaikan karena si John miliknya betul-betul kepengin segera bertanding, semua sudah terlambat. Lena kadung mutung dan meninggalkan kamarnya.

Setelah rokok kedua habis, senyum pertama Lena terbit. Kenapa aku harus marah? Bukankah malah menghina kalau Paul dijadikan salah satu nama perkakas anak ingusan itu? Lena ingin balik tetapi gengsi menghalanginya.

“Ke Ragunan, Pak, kebun binatang,” kata Lena, akhirnya. Semula ia hanya mengatakan
‘jalan’ kepada sopir taksi.

“Sudah sore, Mbak.”

Lena tak menjawab sehingga sopir itu pun tak berani berkata-kata lagi.

Selain lagu-lagu Paul, yang paling menghibur Lena sejak kecil adalah menonton hewan-hewan bengong di kebun binatang. Dahulu favoritnya adalah tapir karena ketidakjelasan masuk keluarga hewan yang mana. Ibunya tak bisa memberi keterangan, pula kerabatnya. Tapir juga mempesona Lena karena tampak sedemikian malas. Ketika beranjak besar, Lena dengan mudah bisa mencari tahu keingintahuan masa kecilnya dan tapir tak lagi menggelitiknya. Saat ini Lena sedang senang jerapah karena satu fakta: jerapah tak memiliki pita suara. Leher sepanjang itu, tapi betapa pendiamnya.

Sopir taksi tak salah ketika bilang hari sudah sore karena petugas penjualan tiket di Ragunan juga mengatakan hal yang sama. Waktu yang tersisa tinggal empat puluh menit saja. Lena tak keberatan, ia hanya ingin menengok jerapah yang kandangnya
tak jauh dari pintu masuk.

Sore menjadi lebih gelap ketimbang biasanya karena mendung. Ternyata, setelah sepuluh menit Lena sudah bosan. Ketika ia ingin beranjak, seorang perempuan—mungkin beumur 70 tahunan, pikir Lena—menarik perhatiannya. Sebentar-sebentar
perempuan itu bergantian memandang langit dan perdu di depannya.

Yang tidak Lena ketahui, perempuan tua itu sedang menguji pengetahuannya tentang
meteorological botanomancy, menebak gejala langit melalui perubahan gerak tanaman. Ilmu ini sangat sulit, bahkan bagi perempuan yang sudah menguasai fructomancy atau tafsir bentuk, pergerakan, dan reaksi buah-buahan, dendromancy
atau tafsir pepohonan, phyllomancy atau tafsir dedaunan, dan xylomancy atau tafsir batang dan cecabang pohon ini.

Lena mengamati terus karena wajah perempuan tua itu mengingatkannya kepada
seseorang. Akhirnya, Lena memberanikan diri.

“Ibu Reni?”

Perempuan tua itu tersenyum. “Bukan, saya Esti. Reni kakak kembar saya.”

Lena berjalan mendekat dan mencium tangan Esti. Ia tak menyangka bisa bertemu adik kembar orang yang pernah sangat berjasa kepada keluarga mereka. Dua puluh tahun yang lalu, ketika ibu Lena terserang stroke parah, Ibu Reni yang berpraktek di Semarang yang menyembuhkannya dengan gabungan pengobatan herbal dan totok jari.

***

“Guru, ceritamu sungguh penuh dengan kebetulan!”

Laki-laki yang dipanggil guru itu tertawa keras di tempat duduknya. Aku yang berada di
sampingnya ikut tergelak. Di hadapan kami duduk lima atau enam muridnya. Aku menyebutnya demikian karena guru itu sebelumnya bilang kepadaku bahwa dari enam orang yang belajar mengarang kepadanya yang seorang terdaftar resmi tetapi hanya ikut sekali dari dua belas pertemuan sementara yang seorang lagi tak terdaftar dan iseng ikut atas ajakan temannya dan lantas memanfaatkan kebaikan guru itu untuk masuk kelas terus dengan percuma sejak pekan kedua.

“Bukankah kalian yang bilang bahwa kebetulan bisa betul-betul terjadi dalam kehidupan nyata?” kata guru itu setelah reda tawanya.

Dalam perjalanan sebelum bertemu kami, enam orang itu membicarakan panjang lebar— ngrasani, tepatnya—seseorang laki-laki muda, vokalis band punk, yang pernah dekat dengan salah seorang dari mereka. Mulai lagu-lagu yang pemuda itu sukai dan mainkan sampai, bahkan, warna kulitnya yang semasa pacaran terlihat cerah dan sesudah putus menjadi lebih gelap. Mereka lupa siapa yang memulai pembicaraan. Hanya saja, mereka sama sekali tak menduga kejadian berikut. Ketika mobil mereka berhenti di lampu merah, sebuah sepeda motor berhenti di samping kiri mereka. Salah seorang yang kebetulan menoleh langsung berteriak kaget karena yang ia lihat tak lain adalah laki-laki yang sedang mereka bicarakan.

Laporan soal kejadian itu masih panjang lagi
tetapi intinya mereka ingin agar kebetulan boleh mereka pakai dalam cerita-cerita mereka. Guru itu tersenyum dan bilang akan membuat cerita dengan kebetulan di sana-sini dan meminta lima atau enam muridnya menilai bagus tidaknya.

Di sini, sebetulnya aku ingin menuliskan bahwa setelah mendengar protes muridnya
guru itu mengambil napas, memejamkan mata, mendengarkan bisikan angin dan burung di kejauhan, lalu meluncurkan kisah di atas. Aku ingin membuat guru itu terlihat keren karena banyak upaya yang sudah ia lakukan untuk tampil demikian—termasuk memirangkan rambut, memakai anting berlian di kuping kiri, dan memakai sepatu dan topi yang serasi dan sewarna—sama sekali tak berhasil. Tapi, rasanya gambaran itu jadi kurang masuk akal karena kami sedang berada di sebuah kafe di Senayan City. Yang terjadi adalah guru itu meminta waktu sekitar dua jam, murid-muridnya gembira
menurutinya dengan menonton Inception. Aku ikut mereka.

“Lantas, bagaimana kelanjutannya, Guru?”

“Kebetulan, aku ingin kalian yang meneruskan.”

Enam orang itu bersungut-sungut tetapi patuh. Tiga orang bekerja dengan laptop sementara sisanya mencoret-coret di atas tisu yang kebetulan cukup tebal untuk ditulisi. Setelah dua puluh menit, seorang yang menulis di atas tisu menyerahkan
karyanya kepada guru itu. Aku ikut membaca dari balik pundaknya.

Begini ceritanya.

***

“Anwar, ayo siap!”

Anwar Sadat gemetar. Ia sama sekali tak ingin berada di selokan di tepi jalan raya itu. Tapi, teman-temannya memaksa. Salah seorang segera mengangsurkan katapel kepada Anwar, yang lain sibuk membuat peluru dari tanah liat. Anak-anak kampung Anwar sedang senang-senangnya melakoni permainan baru, menembaki mobil
yang melintas dengan katapel mereka. Kalau ada pengemudi atau penumpang yang kaget, girang betul hati anak-anak itu. Apalagi kalau pengemudinya marah dan turun mengejar mereka. Anwar ikut karena janji Tamsi, anak yang mengajaknya bersembunyi di selokan, bahwa anak itu bakal melindunginya di sekolah. Semasa kelas satu dan dua SD sebelumnya, Anwar selalu jadi sasaran ejekan kawan-kawannya karena berat badannya yang sangat berlebih. Janji Tamsi yang berbadan jangkung itulah yang membuatnya memberani-beranikan diri ikut memegang katapel.

Tak sampai tiga menit, semua anak sudah siap. Ketika sebuah sedan Impala melaju dari arah utara, Tamsi menepuk pundak Anwar sebagai pengganti ucapan ‘sekarang giliranmu’.

Memejamkan mata, Anwar menembak. Peluru tanah liat itu tepat menghantam gagang kaca mata kanan si pengemudi. Tembakan itu tak melukai tapi sangat mengagetkan laki-laki yang memegang setir itu. Dua penumpang, seorang perempuan berwajah
pucat dan seorang anak perempuan bersama-sama menjerit ketika pengemudi itu membanting setir dan sedan itu menghantam pohon. Terdengar suara keras, tak ada suara dari dari dalam mobil. Setelah sepuluh detik terpaku, anak-anak segera kabur. Tamsi menarik tangan Anwar yang masih mematung.

Pria yang memegang setir berlumuran darah, keningnya pecah. Perempuan yang berparas pucat pingsan, sementara si anak perempuan tersadar dan mulai menangis. Anak itu bernama Lena Mareta.

Sumber: Yusi Avianto Pareanom: Grave Sin #14 And Other Stories. English translations by Pamela Allen
German translations by Jan Budweg, Nele Quincke, Susanne Ongkowidjaja. Jakarta, 2015 Raden Mandasia Si Pencuri Daging. Banana Publishing, Jakarta, 2016, hal. 201-217;

© Yusi Avianto Pareanom

Agus Sarjono: Airmata Hujan

Jangan bidikkan aku, ronta Bedil sambil menggigil. Diam!
Bentak Tangan. Aku harus meledakkan anak-anak itu.
Tapi mereka masih belia! Lihatlah senyumnya yang muda
dan mereka tidak meminta selain kesejahteraanmu juga.
Bukankah engkau sering mengumpati gaji yang tak cukup
nafas hidup yang sempit, hingga harus berderap kian-kemari
mengutip sesuap nasi.

Jangan bidikkan aku, raung Bedil. Diam!
Ini bukan persoalan pribadi, hardik Tangan.
Ini masalah politik. Satu dua nyawa
sebagai taktik. Tapi ini bukan soal angka,
bukan soal satu dua
tapi soal ibu meratap kehilangan,
soal dimusnahkannya satu kehidupan
soal masa depan manusia yang dibekam. Soal hak …
Tutup mulutmu barang dinas! Kamu hanya alat

dan jangan berpendapat. Itu urusan politisi di majelis sana.
Tapi mereka hanya bahagia! Sergah bedil.
Mereka tak pernah peduli padamu, pada mereka,
pada yang miskin dan teraniaya.
Mereka tak mengurusi siapa-siapa
selain dirinya. Dor! Bedil itu tersentak. Jangan …
D or .. dor .. dor .. dor…  Selesai  sudah

gumam Tangan. Bukankah ini sudah berlebihan, isak Bedil.
Entahlah, gumam Tangan, aku tak tahu. Aku penat.
Aku hanya ingin istirahat. Semoga istri
dan anak-anakku di rumah sana
semuanya selamat.

Bedil itupun menjelma hujan. Tak putus-putusnya
mencurahkan airmata. 

1998

Sumber:  Agus Sarjono: Suatu Cerita Dari Negeri Angin. komodo books 2001,2003, hal. 49-50

© Agus Sarjono

Agus Sarjono: Demokrasi Dunia Ketiga

Kalian harus demokratis. Baik, tapi jauhkan
tinju yang kau kepalkan itu dari pelipisku
bukankah engkau… Tutup mulut! Soal tinjuku
mau kukepalkan, kusimpan di saku
atau kutonjokkan ke hidungmu,
tentu sepenuhnya terserah padaku.
Pokoknya kamu harus demokratis. Lagi pula
kita tidak sedang bicara soal aku, tapi soal kamu
yaitu kamu harus demokratis!

Tentu saja saya setuju, bukankah selama ini
saya telah mencoba… Sudahlah! Kami tak mau dengar
apa alasanmu. Tak perlu berkilah
dan buang waktu. Aku perintahkan kamu
untuk demokratis, habis perkara! Ingat
gerombolan demokrasi yang kami galang
akan melindasmu habis. Jadi jangan
macam-macam
Yang penting kamu harus demokratis.
Awas kalau tidak!

Sumber: Agus Sarjono: Suatu Cerita Dari Negeri Angin. komodo books, 2001,2003, hal. 55

© Agus Sarjono

Agus Sarjono: Celan

Pada jantung sejarah yang berdarah
ketemui Paul Celan diam-diam mengajar bunda
sang waktu dan benih malam untuk berjalan. Tapi waktu
dan malam berhenti dalam genangan susu hitam
tempat mayat-mayat perempuan berambut kelabu
mengambang pilu. Siapakah tajam kapak-kapak
jika bukan Yang Dipertuan Adipati Kehampaan?
Disandingkannya maut kencana dengan bibir cinta
jasad asmara dengan pusara gelak tawa
pinggul ratapan dengan tengkuk kehidupan
semua dijalinnya sepasang-sepasang
seperti merangkai yang bukan matamu
bukan mataku dan bukan matanya
dalam jalinan selendang berkibaran
gelap dan muram bagai candu
dan ingatan.

Bunda malang yang tiada pulang
kerabat yang dibakar dan berkubur lapang
di angkasa, menggali sumur luka
di jantung kenangan tempat rasa bersalah
menjelma susu hitam yang ditimba oleh dia
yang tersisa, dia yang luput dan lari
untuk bahagia. Adakah berat

jadi dia yang selamat? Adakah tamat
segala duka saat berbagi tubuh
bertukar hasrat dengan kekasih
manis dari keluarga petani
yang menanam tubuh menyiangi nyawa 
kerabat di ladang-ladang pedih?

Burung sedu-sedan terbang sendirian
dengan sayap kenangan kelabu
dan berat, berkepakan gamang
di antara rambut kencana
kekasih sayang dan rambut kelabu
jasad sang ibu yang panjang
dan mengikat: bagai jerat
merentang tegang
hingga liang lahat.

Sumber: Agus Sarjono: Lumbung Perjumpaan. komodo books 2011, hal. 46-47

© Agus Sarjono

Agus Sarjono: Surat Pembaca

Redaksi yang terhormat,
izinkan saya menyampaikan keluhan
dan sedikit saran. Burung bangau
di tepi danau itu sudah sembilan malam
mencangkung sendirian, hingga katak
dan ikan-ikan tak berani bercinta
padahal purnama begitu indahnya.

Juga di tepi padang, sekuntum kembang
tersedu-sedu sendirian, sembilan lambaian 
yang lalu tepat di tikungan jalan
ke arah hutan. Jingga kelopaknya terbiar
di sela belukar tanpa ada yang peduli
padahal setiap hari ia menghias diri
dengan embun pagi.

Saya sarankan agar remang rembulan
yang mengambang sendu
di sudut kolam itu disandingkan saja
dengan rusa remaja yang termangu
sendirian di tepian hutan, padahal
para pemburu sudah lama berlalu
membawa rusa jantan kasmaran
yang  rubuh tersambar peluru.

Demikian surat saya, semoga ada
manfaatnya bagi pembaca
maupun sepasang kupu-kupu
yang terjebak di kaca jendela kamar,
padahal cuaca di luar 
begitu nyaman, sejuk, segar.

Sumber: Agus R. Sarjono. 2016. Surat-surat Kesunyian. Jakarta: Komodo books, hal. 20

© Agus Sarjono

Agus Sarjono: Surat Lamaran

Perkenalkan nama saya sendu
dengan satu dua keriangan.
Saya terampil menangani lara
kenangan-kenangan tersisa,
dan mengemas melankolia.

Adapun kehampaan, rasa kosong
dan sia-sia, serta yang berkaitan
dengan ratapan, dapat saya tangani
sebagai tambahan pekerjaan.
Tentu untuk ini saya perlukan
tunjangan tambahan: sepotong senja
dengan sebaris tipis warna jingga.

Saya ajukan lamaran ini sepenuh hati
dan mohon kiranya dapat diterima.
Sebagai lampiran, saya sertakan di sini
segaris luka lama: pedih dan abadi
dari cemas dukana tiada bertepi

Sumber: Agus R. Sarjono. 2016. Surat-surat Kesunyian. Jakarta: Komodo books, hal. 28

© Agus Sarjono

Taufiq Ismail: Saksikan Begitu Banyak Orang Mempertuhankan Uang

Kita hidup di sebuah zaman, ketika uang dipuja-puja sebagai Tuhan
Dengan uang hubungan antar-manusia diukur dan ditentukan
Ketika mobil, tanah, deposito, relasi dan kepangkatan
Ketika politik, ideologi, kekuasaan disembah sebagai Tuhan
Ketika dominasi materi menggantikan Tuhan
Sehingga di negeri ini tak jelas lagi batas antara halal dan haram
Seperti membedakan warna benang putih dan benang hitam
Di hutan kelam
Jam satu malam
Ketika 17 dari 33 Gubernur jadi tersangka
52 persen banyaknya
Ketika 147 dari 473 Bupati dan Walikota jadi tersangka
36 persen jumlahnya
Ketika 27 dari 50 anggota Komisi Anggaran DPR ditahan,
62 persen jumlahnya
Saksikan begitu banyak orang yang menyembah uang dengan khusyuknya
Uang dipuja, dipertuhan, disucikan, ditinggikan sebagai berhala
Undang-undang dan peraturan dengan kaki diinjak secara leluasa

2010, 2011

Sumber: Taufiq Ismail: Debu di atas Debu. Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 294

© Taufiq Ismail

Taufiq Ismail: Dilautan Mana Tenggelamnya

Aku berjalan mencari kejujuran
Tak tahu di mana alamatnya

Aku pergi mencari kesederhanaan
Tak tahu aku di mana sembunyinya

Aku bertanya di mana tanggung jawab
Di laut manakah tenggelamnya?

Aku berjalan mencari ketekunan
Di rimba manakah dia menghilangnya?

Aku berjalan mencari keikhlasan
Rasanya sih ada, tapi di mana, ya?

Aku berjalan mencari kedamaian
Di langit manakah dia melayangnya?

Wahai kejujuran dan kesederhanaan
Wahai tanggung jawab dan ketekunan

Wahai keikhlasan dan kedamaian
Di mana gerangan kini kalian

Zaman ini sangat merindukan kalian
Zaman ini sangat merindukan kalian.

2010

Sumber: Taufiq Ismail: Debu di atas Debu. Horison Verlag (Indonesien), 2015, S. 300

© Taufiq Ismail